cool hit counter

Persyarikatan Muhammadiyah

gambar
Jum'at, 15 Jul 2011 | 15:21 WIB |
Dibaca: 5790

Kemungkinan Perbedaan 1 Syawwal, Warga Muhammadiyah Dihimbau Bepegang Hisab Majelis Tarjih

Yogyakarta- Kemungkinan besar adanya perbedaan penentapan tanggal 1 Syawwal 1432 Hijriyah, seluruh warga Muhammadiyah dihimbau untuk tetap berpegang pada hasil hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang telah menetapkan 1 Syawwal 1432 H, akan jatuh pada 30 Agustus 2011. Perbedaan metode yang diterapkan memungkinkan perbedaan penetapan yang akan dilakukan pemerintah, yang diperkirakan akan menetapkan pada tanggal 31 Agustus 2011.

Demikian disampaikan wakil ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Oman Faturrahman, dalam konferensi pers penetapan awal Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah tahun 1432 Hijriyah yang diadakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di gedung PP Muhammadiyah Jl. Cik Di Tiro no.23 Yogyakarta, Kamis, (14/07/2011). Dalam kenferensi pers tersebut, Oman Fatuttahman didampingi oleh ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas yang menyampaikan Maklumat mengenai penetapan awal bulan Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah, serta himbauan selama datangnya Ramadhan bagi warga Muhammadiyah dan umat Islam pada umumnya. Mengenai kemungkinan perbedaan penetapan 1 Syawwal 1432H, Oman mengungkapkan, selama pemerintah menggunakan Imkanu Rukyat dengan mensyaratkan 2 derajat, maka perbedaan pasti akan terjadi. "Selama ini Muhammadiyah menggunakan metode Wujudul Hilal yang berarti berapapun derajatnya, apabila hilal telah wujud, maka dipastikan esoknya merupakan awal bulan," jelasnya.

Lebih lanjut menurut Oman, metode melihat langsung atau rukyat akan sangat susah dilaksanakan apabila ketinggian hilal masih dibawah 5 derajat, padahal pada waktu 1 syawwal 1432 H nanti, ketinggian hilal masih diposisi 1 derajat. "Selama ini ahli astronomi dunia masih menyangsikan kemampuan manusia dalam melihat hilal diposisi kurang dari 5 derajat, rekor melihat hilal sampai saat ini adalah di angka 5 derajat," ungkapnya.


Tags: penetapan puasa, idul fitri, idul adha, perbedaan idul fitri, hisab, rukyat
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori: majelis tarjih dan tajdid pp Muhammadiyah

Pilih Artikel


Apakah artikel tersebut menarik bagi saudara?
Sangat Menarik Menarik Cukup Menarik Kurang Menarik

25 Komentar


muhyiddin a h
16-07-2011 19:54:09
sebagai warga muhammadiyah berkewajiban menyosialisasikan dan melaksanakan keputusan majelis tarjih
Drs. Fuad
17-07-2011 16:30:25
Insya Allah, seluruh warga persyarikatan tunduk kepada keputusan PP Muhammadiyah
purna utama
18-07-2011 10:06:30
dgn dasar hisab, kita selangkah lebih maju. maju pemikiran, karena muhammadiyah pendorong kemajuan InsyaAllah,semoga berkah Aamiin
Ilham
18-07-2011 11:23:34
Assalamualaikum wr.wb Subhanallah..allahu akbar.... Allah telah mengarunai akal pikiran dan nafsu sebagai perbedaan mendasar manusia dari seluruh makhluqNya.... perputaran bumi dan bulan dapat dihitung berdasarkan ilmu astronomi dengan kecanggihan IT... semoga allah memberi hidayahNya kepada seluruh pengurus Muhammadiyah... Wallahualam bissawab.... Wassalan
Mas Karno
18-07-2011 15:54:33
Bismillahirrahmanirrahim, ssi fatwa MUI tahun 2003, hak penetapan awal Ramadhan dan Syawwal berada di pemerintah. Kiranya lbh bijaksana dan arif, bilamana Muhammadiyah tdk mempublikasikan penetapan puasa dan syawal langsung ke publik sblm dimusyawarahkan dan dimufakati bsm pemerintah. Billahi taufiq walhidayah
mohammad agist amrullah (HW)
18-07-2011 16:28:45
semoga perbedaan tidak menjadikan kita umat muslim menjadi jauh dalam persaudaraan, semoga perbedaan bisa di cermati dengan baik sebagai bekal perbaikan untuk kedepanya lebih baik lagi, salam fastabiqul khairat
nur imam
23-07-2011 05:27:34
alhadulillah perserikatan kita tetap selalu konsisten dalam menetapkan 1 syawal dengan dasar perhitungan yang akurat tentu akan dapat mencerahkan masyarakat indonesia, insyaallah diridloi Allah Swt
Bambang Arintoko R
28-07-2011 08:35:34
Ass.w.w Orang hidup wajib menggunakan nalar krn itu anugerah Allah SWT. Dan ini beda manusia dg makhluk yg lain. Maka Muhammadiyah tepat kalau menggunakan nalar hisabnya. Dan Alhamdulillah, 101 thn Muhammadiyah selalau tepat dlm memprediksi gerhana, waktu salat, dll. Maka, perhitungan s ramadan 1432 H, analogmesti tepat. dan wajib diikuti krn sahehnya. Kesimpulan : maju terus Muhammadiyah. Wass.ww. Pak Arin PRM Pandes, Pleret Bantul 55791 Mantan Guru Seekolah Indonesia di Kuala Lumpur HP 0858 78 31 56 88
taufik
04-08-2011 12:18:11
Sikap bijaksana dan arif yang harus dilakukan oleh Muhammadiyah terhadap warga NU atau warga yang menggunakan rukyat (yang berbeda hari idul fitrinya dengan Muhammadiyah) adalah dengan cara tidak menjelekjelekannya, tapi menghargai dengan penuh toleran. Akan tetapi karena yakin akan kebenaran, jelas perlu disampaikan dan dipublikasikan ke publik mengenai ketetapan Idul Fitri, tanpa harus menunggu keputusan dari pemerintah. Lho ... wong namanya hisab, jangankan Idul Fitri sekarang, untuk tahun depan pun sudah bisa ditentukan kapan waktunya. Saya berpendapat Muhammadiyah tidak ikut mencerdaskan umat muslim di Indonesia kalau hanya untuk urusan penetapan Idul Fitri saja harus menunggu pemerintah, atau ada rasa ewuh pakewuh. Bayangkan .... seorang muslim yang awam(awam fiqih dan ilmu atronomi) saja tahu kalau menggunakan metode hisab (bukan hanya Muhammadiyah) hari raya Idul Fitri itu sudah bisa ditentukan sebelumnya. Sekarang Muhammadiyah harus menunggu dulu keputusan pemerintah (yg biasanya dilakukan 12 hr menjelang Idul Fitri) lho gimana!padahal hikmahnya banyak jika kita mengetahui tgl hari raya Idul Fitri jauh jauh sebelumnya, padahal mungkin saja ada muslim yg bukan warga Muhammadiyah tapi sepaham dengan metode hisab Muhammadiyah. Sangat tidak arif dan bijaksana jika itu terjadi! bahkan sebetulnya tidak logis! Muhammadiyah sebetulnya punya cara yang efektif dalam soal ini perbedaan Idul Fitri bahkan menghilangkan image bahwa Muhammadiyah selalu berbeda, yaitu dengan cara memperbanyak kalenderkalender Hijriyah atau Masehi dimana tanggal hari raya Idul Fitri dan Idul Adhanya sudah ditandai bila perlu diperjelas. Perbanyak dan sebarkanlah kalenderkalender itu bukan hanya bagi warga Muhammadiyah, tapi bagi siapa saja yang berminat memilikinya dan saya yakin pasti hampir semua berminat memilikinya (jika ada kalender Masehinya). Jika hal itu dilakukan saya yakin pada saat ada potensi terjadi perbedaan penetapan Idul Fitri dengan PemerintahNU, Muhammadiyah tidak perlu lagi mengumumkan atau mempublikasikannya, karena masyarakat sudah pada mengetahuinya, bahkan mungkin tanpa disuruh mediamedia elektronik TV,dll akan ada yang mengumumkannya .... berdasarkan kalender Muhammadiyah bla..bla..bla! Kalau sekarang jangankan warga non Muhammadiyah, warga Muhammadiyah saja mungkin banyak yang tidak memiliki kalender yang ada penetapan Idul Fitrinya dari Majlis Tarjih Muhammadiuyah!
Jayusman Djusar
18-08-2011 16:45:13
Menurut saya, perbedaan antara Muhammadiyah dengan Pemerintah dalam penetapan 1 Syawal 1432 H bukan terkait dengan perbedaan metode antara penggunaan Hisab oleh Muhammadiyah dan metode Rukyah yang digunakan oleh pemerintah. Karena antara Hisab dan Rukyah saling melengkapi dan bukan untuk dipertentangkan. Tapi persoalannya adalah perbedaan KRITERIA yang dipegang oleh keduanya. KRITERIA MUHAMMADIYAH adalah Wujudul Hilal sedang KRITERIA PEMERINTAH adalah Visibilitas Hilal. AlQuran berbicara surat alBaqarah ayat 185 dan hadis hadis nabi berbicara ttg Visibilitas Hilal. Tokoh Muhammadiyah seperti Pak Oman Fathurahman juga berbicara masalah VVisibilitas Hilal 5 derajat. Dengan semangat Ukhuwah Islamiyah mari kita berdiskusi tentang KRITERIA ini. Jangan sampai masalah penetuan awal bulan yang semua kt pak Susiknan Azhari merupakan masalah METODOLOGIS berubah menjadi masalah TEOLOGIS.
Amiril Mukminin
12-08-2011 22:45:28
Assalamualaikum WR.WB. Saya termasuk orang yang awam dalam perhitungan hisab dan hilal dalam penentuan penanggalan Islam.saya rasa perbedaan penetapan 1Ramadhan dan 1 syawal merupakan suatu kesalahan fatal dalam kehidupan beragama Islam di Indonesia,dan itu jangan dianggap remeh karena dapat mempengaruhi ibadah2 lain,sedangkan kalau gak salah saya 1 syawal adalah salah satu hari yang diharamkan berpuasa,bagaimana jika pada 1 Syawal menurut Muhammadiyah masih ada yg berpuasa dari masyarakat Islam yg ikut perhitungan pemerintah??bukankah dengan demikian pada hari itu banyak yg melaksanakan tindakan yang dilarang (haram)?jikalau demikian maka Muhammadiyah saya rasa ikut bertanggung jawab jikalau dosa2 haram itu dibiarkan?jika perhitungan itu benar menurut Muhammadiyah dan dapat dibuktikan secara agama dan perhitungan logika astronomi dengan alat2 yang canggih,mengapa tidak ada lobi nyata penetapan itu dapat diseragamkan dalam kehidupan beragama Islam di negeri ini,sedangkan kita tahu bahwa orang2 dari Muhammadiyah banyak yang menjadi orang2 yang berpengaruh di pemerintahan?kalau memang mau meluruskan agama ini janganlah hanya kepada golongan sendiri atau yang diberi peringatan harus masuk dulu dalam organisasi baru diberi arahan,karena kebenaran Islam itu untuk disebarluaskan dan diberitahukan ke masyarakat dari manapun dia berasal,mau dia golongan A apa golongan B atau Organisasi C,jika bukti2 yang diberikan dengan dasar2 agama dan teknologi yang masuk perhitungan yang tepat dan dapat diterima,InsyaAllah kebenaran akan menerangi negeri ini...Wassalam.
Abdul Rochim
14-08-2011 11:29:02
Assalamualaikum warahmatullahiwabaraktuh. seharusnya Muhammadiyah menghormati pemerintah. pada dasarnya, penetapan awal ramadhan dan idulfitri adalah tugas pemerintah, bukan ormas. Di sisi lain, mari kita merujuk pada pendapat para ulama, bolehkan seseorang atau ormas yang menyaksikan hilal (bagi rukyah) tapi kesaksiannya tidak diterima, untuk mengumumkan puasa kepada publik. semua ulama sepakat tidak boleh. ini bagi orang yang benarbenarnya menyaksikan. apalagi dengan wujud hilal, tentu sangat tidak boleh.dengan begitu, hemat saya, tidak selayaknya Muhammadiyah mengumumkan ijtihad pribadinya ke ranah publik. terkait wujudul hilal, majlis tarjih tidak melihat pada kekuatan metode istidlalnya. penggunaan wujudul hilal bertentengan dengan ijma. dalam istilah ushul, ihdats qaul tsalist. menggunakan metode wujudul hilal pada dasarnya mengambil yang syak dan meninggalkan yang yakin. padahal alyaqiin laa yuzaalu bisysyak. bagaimana pun juga, wujudul hilal mengandung ihtimalat, sehingga tidak bisa dianggap qathi dalam perspektif syariah. dengan begitu, terjebak dengan larangan Rasulullah saw berpuasa pada hari syak atau mendahulukan puasa satu atau dua hari (bila untuk menentukan awal ramadhan). Seringkali Muhammadiyah mengambil pendapat Syaikh Yusuf AlQardhawi dan Mushthafa AzZarqa. pertanyaannya, apakah kedua ulama mulia itu membolehkan ormas yang menggunakan hisab mengumumkan pendapatnya kepada publik sehingga memuculkan khilaf. Syaikh Qardhawi pun lebih menekankan hisab sebagai dalil Nafyi, bukan Istbat. mari kita teladani sikap beliau berdua dan bukan sebagian pendapatnya. lalu, apabila syaikh Qardhawi cenderung dengan hisab, sedangkan Qatar menggunakan rukyah, Syaikh AQardhawi mengikuti yang mana? apakah beliau akan menggunakan hisab atau mengikuti pemerintah. mudahmudahan ini bisa menjadi koreksian majlis tarjih. dalam menentukan hukum, kita juga harus melihat metode istidlalnya. bukan hanya melihat dari aspek ilmiah secara astronomi. ilmu astronomi hanya sebagai bahan tambahan, tapi bukan dalil penentu. wallahualam
Abdul Rochim
14-08-2011 11:35:28
apabila seseorang melihat hilal, lantas kesaksiannya tidak diterima, bolehkah ia mengumumkan ke publik atas kesaksiannya bahwa puasa atau idulfitri telah masuk? para ulama sepakat tidak boleh. hanya saja berbeda berpendapat, apakah ia harus berpuasa ataukah tidak. dengan begitu, alahkah eloknya apabila Muhammadiyah mengikuti ketetapan pemerintah yang memiliki otoritas penuh.
Jayusman Djusar
18-08-2011 16:48:11
Menurut saya, perbedaan antara Muhammadiyah dengan Pemerintah dalam penetapan 1 Syawal 1432 H bukan terkait dengan perbedaan metode antara penggunaan Hisab oleh Muhammadiyah dan metode Rukyah yang digunakan oleh pemerintah. Karena antara Hisab dan Rukyah saling melengkapi dan bukan untuk dipertentangkan. Tapi persoalannya adalah perbedaan KRITERIA yang dipegang oleh keduanya. KRITERIA MUHAMMADIYAH adalah Wujudul Hilal sedang KRITERIA PEMERINTAH adalah Visibilitas Hilal. AlQuran berbicara surat alBaqarah ayat 185 dan hadis hadis nabi berbicara ttg Visibilitas Hilal. Tokoh Muhammadiyah seperti Pak Oman Fathurahman juga berbicara masalah VVisibilitas Hilal 5 derajat. Dengan semangat Ukhuwah Islamiyah mari kita berdiskusi tentang KRITERIA ini. Jangan sampai masalah penetuan awal bulan yang semua kt pak Susiknan Azhari merupakan masalah METODOLOGIS berubah menjadi masalah TEOLOGIS.
Sutan Saripado
20-08-2011 15:54:40
Assalamualaikum wr wb. Sampai saat ini saya tetap percaya kepa Muhammadiyah dari pada pemerintah. Ramalan tentang grhana bulan beberapa tahun lalu, tidak ada yang meleset dengan perhitungan tersebut.
al Ustadz
21-08-2011 00:14:21
Insya Allah apa yang di ijtihadkan Muhammadiyah penuh maslahat. 1 syawwal 1432 H jatuh 30 Agustus 2011. mari kita cerdaskan umat. kan udah tdk diragukan lagi akurasi hisab. insya Allah upaya kita diridhoi Allah. makasih ust. Oman Fathurrahman.
abadi
23-08-2011 13:45:47
Ass. Wr. Wb. Mohon maaf sebelumnnya, saya mau nanya dalil mana saja yang digunakan PP Muhammadiyah dalam menentukan Awal Puasa, Idul Fitri dan lainlain dengan menggunakan metode hisab. Karena yang saya sdh browsing di internet dan didapat artikel yang menyatakan kebanyakan ulama (jumhur ulama) menggunakan metode rukyat dalam menentukan hal tersebut. Salah satu artikel yang saya baca adalah : Penentuan awal Ramadhan Banyak selisih pendapat dalam penentuan awal Ramadhan. Ada yang memakai hisab, ada yang berpedoman rukyat. Bagaimanakah sikap kita seharusnya? Jawaban : Para ulama berselisih pendapat di dalam menentukan awal bulan Ramadhan apakah dengan cara melihat bulan langsung (rukyat) atau dengan cara hisab. Pendapat Pertama mengatakan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan adalah dengan cara melihat bulan secara langsung (rukyat) dan tidak boleh menggunakan hisab. Ini adalah pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf, termasuk di dalamnya Imam Madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik, SyafiI, dan Ahmad). Dalil mereka adalah sebagai berikut : 1. Sabda Rasulullah saw : لا تصوموا حتى تروا الهلال ، ولا تفطروا حتى تروه ، فإن غمى عليكم فاقدروا له. و في رواية فاقدروا له ثلاثين Jangan kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal, dan jangan berbuka sampai melihatnya lagi, jika bulan tersebut tertutup awan, maka sempurnakan bulan tersebut sampai tigapuluh. (HR Muslim) 2. Sabda Rasulullah saw : صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته Berpuasalah karena kalian melihat bulan, dan berbukalah ketika kalian melihat bulan. (HR. Bukhari dan Muslim) 3. Sabda Rasulullah saw: إذا رأيتم الهلال فصوموا ، وإذا رأيتموه فأفطروا Jika kalian melihat hilal (Ramadhan) , maka berpuasalah, dan jika kalian melihat hilal ( Syawal ), maka berbukalah. (HR Muslim). Haditshadits di atas menunjukkan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan adalah dengan melihat bulan secara langsung. Jika bulan tersebut terhalang oleh awan, hendaknya disempurnakan bilangan bulan hingga tiga puluh hari. Inilah maksud lafadh faqduru lahu dalam hadits di atas setelah menjama beberapa riwayat yang ada. Pendapat kedua mengatakan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan dengan menggunakan hisab. Ini adalah pendapat Mutharrif bin Abdullah, Ibnu Suraij, dan Ibnu Qutaibah. Mereka berdalil dengan hadits riwayat muslim di atas ( lihat hadits no 1 ) , hanya saja kelompok ini menafsirkan lafadh faqduru lahu dengan ilmu hisab. Yaitu jika bulan tersebut tertutup dengan mendung, maka pergunakanlah ilmu hisab. Dari dua pendapat di atas, maka pendapat yang benar adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa untuk menentukan awal bulan Ramadhan dan Syawal adalah dengan cara melihat bulan secara langsung (rukyat). Boleh memakai alat bantu seperti teropong dan lainlainnya. Demikian pula diperbolehkan menggunakan hitungan hisab, tetapi hanya sebagai pembantu dan penopang dari rukyat. Selain dalildalil yang telah diungkap di atas, ada dalil lain yang menguatkan pendapat mayoritas ulama,yaitu sabda Rasulullah saw : إنا أمة أمية ، لا نكتب ولا نحسب ، الشهر هكذا وهكذا يعنى مرة تسعة وعشرين ومرة ثلاثين Sesungguhnya kita (umat Islam) adalah umat yang ummi, tidak menulis dan menghitung, bulan itu jumlahnya 29 hari atau 30 hari.(HR Bukhari dan Muslim) Artinya hadits di atas adalah untuk menentuan awal bulan, umat Islam tidak diwajibkan untuk mempelajari ilmu hisab. Karena Allah telah memberikan cara yang lebih mudah dan bisa dilakukan oleh banyak orang, yaitu rukyat. Ini bukan berarti umat Islam dilarang mempelajari ilmu tersebut, karena Allah swt telah memerintahkan kepada umatnya agar selalu menuntut ilmu pengetahuan selama hal itu membawa maslahat dalam kehidupan manusia ini. Akan tetapi maknanya bahwa ajaran Islam ini mudah dan bisa dicerna oleh semua kalangan, dan bisa dipraktekan oleh semua orang. Selain itu di dalam ilmu hisab (ilmu falak) telah terjadi perbedaan pendapat yang sangat banyak. Ada yang menetapkan bahwa awal bulan dimulai pada saat terbenam matahari setelah terjadi ijtima’. Sebagian yang lain menetapkan bahwa awal bulan dimulai pada saat terbenam matahari setelah terjadi ijtima’ ditambahkan bahwa pada saat terbenam matahari tersebut, Hilal (bulan) sudah wujud di atas ufuk. Ini sering disebut dengan model “ wujudul hilal.” Bahkan ada kelompok yang mensyarakatkan wujud bulan di atas ufuk tersebut dengan imkanur rukyat (berdasarkan perkiraan mungkin tidaknya hilal dirukyat). Kelompok yang menggunakan model “imkanu al rukat” inipun berbeda pendapat di dalam menentukan batasannya. Ada yang memegang dengan batasan 2 derajat, ada yang memakai 5 derajat. Dan banyak lagi perbedaanperbedaan yang tidak mungkin diungkap di sini. Inilah mengapa umat Islam di Indonesia belum bisa bersatu di dalam menentukan awal bulan Ramadhan dan Syawal, karena masingmasing dari aliran ilmu hisab (ilmu falak) memegang prinsipnya dan merasa paling benar, sehingga tidak mau mundur sedikitpun demi persatuan umat. Wallahu Mustaan. Untuk mengurangi perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam dalam menyikapi perbedaan cara menentukan awal bulan tersebut, para ulama menfatwakan bahwa sebaiknya umat Islam mengikuti awal bulan Ramadhan dan Syawal yang telah ditentukan oleh pemerintah dalam negara masingmasing. Untuk negara Indonesia umpamanya, hendaknya seluruh rakyat mengikuti apa yang telah diputuskan pemerintah dalam hal ini Departemen Agama. Itu semua demi maslahat persatuan. Wallahu Alam. Mohon informasinya bagaimana cara kita berkonsultasi via internet (email) dengan Majelis Tarjih Muhammadiyah? Mohon jawaban dan informasinya, terima kasih.
iwan
24-08-2011 09:50:41
bismillah ALLAH subhana wa tala mengingatkan : apabila kalian berselisih dalam suatu masalah hendaknya di kembalikan kepada allah dan rasulnya. dan peringatan rasulullahsallallahu alaihi wa sallam untuk berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnah khulafa ar rasyidin dan alhamdulillah ke4 khulafa ar rsyidin ini menggunakan ruyah bukan hisab . jadi kalau mau selamat di zaman fitnah ini ikuti sunnah khalifah yang 4 yaitu menggunakan ruyah. dan juga tolong muhammadiyah tunjukkah satu dalil saja yang membolehkan fanatik pada kelompok ? kalau ikut ulil amri saya rasa muhammadiyah sudah tau dalillnya. semoga muhammadiyah tidak jadi pendewa akal dan menjadi mujtahid penyelisih sunnah . amiin
iwan
24-08-2011 09:52:00
bismillah ALLAH subhana wa tala mengingatkan : apabila kalian berselisih dalam suatu masalah hendaknya di kembalikan kepada allah dan rasulnya. dan peringatan rasulullahsallallahu alaihi wa sallam untuk berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnah khulafa ar rasyidin dan alhamdulillah ke4 khulafa ar rsyidin ini menggunakan ruyah bukan hisab . jadi kalau mau selamat di zaman fitnah ini ikuti sunnah khalifah yang 4 yaitu menggunakan ruyah. dan juga tolong muhammadiyah tunjukkah satu dalil saja yang membolehkan fanatik pada kelompok ? kalau ikut ulil amri saya rasa muhammadiyah sudah tau dalillnya. semoga muhammadiyah tidak jadi pendewa akal dan menjadi mujtahid penyelisih sunnah . amiin
iwan
24-08-2011 10:03:00
bismillah ALLAH subhana wa tala mengingatkan : apabila kalian berselisih dalam suatu masalah hendaknya di kembalikan kepada allah dan rasulnya. dan peringatan rasulullahsallallahu alaihi wa sallam untuk berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnah khulafa ar rasyidin dan alhamdulillah ke4 khulafa ar rsyidin ini menggunakan ruyah bukan hisab . jadi kalau mau selamat di zaman fitnah ini ikuti sunnah khalifah yang 4 yaitu menggunakan ruyah. dan juga tolong muhammadiyah tunjukkah satu dalil saja yang membolehkan fanatik pada kelompok ? kalau ikut ulil amri saya rasa muhammadiyah sudah tau dalillnya. semoga muhammadiyah tidak jadi pendewa akal dan menjadi mujtahid penyelisih sunnah . amiin
Kang Nur
24-08-2011 14:25:25
masalahnya terletak di bagaimana menafsirkan hadits2 terkait penentuan akhir puasa Ramadhan, lalu kriteria2 tsb.. saya anggota Muhammadiyah yg punya NBM (NBM saya: 1006104), tapi sejak th 2005 mencoba menganut metode Imkanur Ruyat
Muhammad Hanif Priatama
24-08-2011 17:00:54
Abdul Rochim : Dalam hadist Kuraib tentang hilal, perbedaan penentuan awal bulan (samasama ruyat bil fili) dalam satu khilafah berbeda wilayah telah terjadi (syam dan madinah) dan tetap pada hasil ruyat masingmasing wilayah walau mengetahui wilayah lain sudah masuk bulan baru. Indonesia (kalau negara dianggap khilafah) lebih panjang wilayahnya (membujur dari timur ke barat), jelas akan sering terjadi perbedaan. Jadi, apakah wajib mengikuti pemerintah? Wallahualam.
Malik
27-08-2011 06:51:30
Assalamu Alaikum. saya hanya sekedar share dan bukan ahli, tapi sya berniat memberitahukan kepada Muhammadiyah bahwa dari berbagai dalil syari tentang penentuan awal puasa dan 1 syawal dari berbagai ulama salaf, tidak ada yang kuat tentang hal ini. Justru ilmu falak (astronomi) ini disadur dari orang2 non islam, (wallahu alam), dan yang lebih berbahaya bagi umat ini, yakni banyak juga ulama2 salaf menganggapnya bidah (naudzubillah). Dimana posisi muhammadiyah sebagai penentang bidah, dapat disangksikan. Mungkin sebaiknya kita tdk mendahulukan akal (iptek) dalam hal ini, tapi ittiba kepada nabi. Menurut saya, walaupun kita tdk melihat ada kontradiksi Al quran dan hadits dengan ilmu pengetahuan, tetapi sumber kebenaran utama dalam agama ini adalah Al quran dan sunnah. Bagaimana pun hebatnya ilmu itu, dia tdk dapat menandingi kebenaran Al quran dan Hadits.Wallahu Alam...
nindrianto
30-08-2011 22:47:38
Hadits dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HSR. Bukhari 4106, dan Muslim 1081) Sudah jelas, kalo kita tidak mampu melihat maka kita diperintahkan untuk menggenapkan 30 hari....bukan masalah ketidakmampuan melihat bulan di bawah 1 derajat...bahkan jika lebih dari 5 derajat pun, klo belum terlihat, misalkan tertutup awan, maka kita diperintahkan puasa 30 hari....KEMAJUAN PEMIKIRAN? hebaat...saya mantan aktivis Muhammadiyah, malu saya!
prajuto
27-07-2012 06:51:36
Asalamualaikum Wr. Wb., 1. Mau tanya sederhana saja, siapakah yang menentukan syarat 2 ataupun 5 derajad tersebut. 2. Kita ini khan diberikan akal untuk berfikir, saya kira biarlah masing2 menggunakan akalnya dan pengetahuannya untuk memilih kepercayaannya untuk beribadah. Toh yang menilai Allah Yang Maha Kuasa. 3. Kalaupun ternyata ada yg melanggar Al Quran ataupun Hadist ya masingmasing itu yang tanggung. 4. Gak bisa disalahkan pemerintah kalaupun toh keliru. Pemerintah itu khan juga manusia. 5. Yang saya tahu jelas Allah khan Maha Pengampun. Kesimpulannya: Belajar terus, gunakan akal dan pengetahuan kita dan tentukan langkah kita kedepan sesuai nurani masing. Indah khan..... Salam

Beri Komentar


Kalau saudara semua tertarik untuk memberikan komentar terhadap berita atau artikel di atas, kami mohon agar memberikan komentar yang santun untuk kemajuan Persyarikatan Muhammadiyah di masa yang akan datang. Isi komentar terserah dari pembaca, tapi jika dinilai kurang layak tampil oleh pengelola website, maka kami akan menghapusnya.
*) Harus Diisi

Nama * Email *

Website

Tulis Komentar *
Kode *

Berita Lain



iklan

Berita Terpopular

Jakarta - Muhammadiyah menghormati hasil sidang itsbat yang dilakukan pemerintah menetapkan awal ... selengkapnya
London - Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Inggris (PCIM UK) mengadakan Darul Arqom bagi ... selengkapnya

Daftar Newsletter

Tetap terkini dengan berita terbaru dari Muhammadiyah

Bacaan Sehari-hari

Para Begawan tidak bisa berumah di atas angin, lebih-lebih tenggelam dibawah atap kantornya sendiri, tanpa melibatkan diri dalam agenda-agenda pemikiran dan aksi pencerahan bangsa
[HM. Haedar Nashir]
iklan