Sabtu, 24 Agustus 2019
Home/ Berita/ Pertunjukan Wayang Kulit di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Berlangsung Meriah

Pertunjukan Wayang Kulit di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Berlangsung Meriah

Jakarta- Pertunjukkan wayang kulit yang digelar oleh Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah di halaman gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jl Menteng Raya 62 tampak berbeda. Halaman seluas tidak lebih dari 500 meter persegi ini, tiba-tiba disesaki  oleh suara gamelan bertalu-talu sejak pukul 19.30 usai shalat jamaah Isya’.  Gendhing-gendhing klasik ciptaan budayawan kondang  Jawa Tengah Ki Nartosabdo mengalun, mampu  ‘menghipnotis’ hampir 700 orang yang ada di bawah tenda sederhana.

Menurut Mustofa B. Nahrawardaya anggota Majelis Pustaka Informasi PP Muhammadiyah mengungkapkan, kreatifnya LSBO PP Muhammadiyah pada pagelaran wayang ini, para penabuh (pengrawit) perempuan tidak memakai baju khas Jawa, namun lebih pada kombinasi busana tradisional jawa dan jilbab anggunnya. Berbeda dengan pengrawit perempuan, pengrawit pria  tampak mengenakan busana Jawa yang kental. Beskap lengkap dengan jarik serta stagen (sabuk dari kain) emas tampak membalut tubuh mereka. Meski begitu, suasana selama pagelaran tetap tidak ada bedanya jika dibandingkan penampilan pengrawit pada umumnya.

Pagelaran wayang malam itu benar-benar indah dan luarbiasa surprise. Meski begitu, jika ada sedikit modifikasi dari wayang kebanyakan, saya bahkan dapat memaklumi nya. Hal yang paling mencolok perbedaan dengan pagelaran wayang umum adalah pada sesajen. Pada wayang tradisional yang sering kita lihat di kampung-kampung, ada semacam sesaji yang diletakkan di sisi kanan dhalang. Namun para pertunjukan malam itu, tak ditemukan sesajen. Juga, cara panitia mengawali wayang, bukan dengan mantra-mantra, namun justru dibuka  dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an oleh kader Muhammadiyah. Selain itu, jika biasanya ada space di belakang layar untuk menikmati bayangan wayang, maka di PP Muhammadiyah hal itu tidak ada. Saking  sempitnya halaman, tidak memungkinkan untuk menikmati wayang dari balik layar, meskipun sebetulnya ruh wayang ada di belakang layar tersebut.

Rupanya, karena pentas wayang ini ada di jantung ibukota, Ketua Pelaksana Pagelaran Wayang yang juga artis senior yakni El Manik, tak lupa juga menceritakan sejarah wayang terlebih dahulu kepada penonton, termasuk latar belakang adanya wayang, hingga menceritakan banyak hal soal kesulitan-kesulitan panitia dalam persiapan pagelaran. Menggelar wayang, kata El Manik, sangat berbeda antara di daerah dengan di ibukota. Meski demikian, patut diapresiasi apa yang diungkapkan kawan saya itu. Pasalnya, dia sendiri, bukan orang Jawa, melainkan orang Batak. Ghirah atau semangat kader Muhammadiyah untuk menggerakkan acara ini, ternyata tidak terhambat oleh kesukuan dia yang berbeda dengan asal usul wayang.

Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah, Drs HM Sukriyanto, M.Hum yang memberikan sambutan malam itu, tak lupa memberikan analogi-analogi  dan rahasia-rahasia ilmu di balik wayang. Putra kedua KH AR Fachruddin ini menjelaskan,  pementasan wayang seperti yang berlangsung di halaman Gedung Dakwah Muhammadiyah Jakarta tersebut, bisa disebut sebagai strategi dakwah kultural kepada masyarakat umum. Namun  dakwah semacam itu belum tentu bisa diterima oleh kalangan umat.

“Saya ibaratkan kalau pohon kelapa itu ada bluluk, ada cengkir, ada degan, ada juga kelapa. Maka, masyarakat itu ada yang pemahaman Islamnya masih terlalu muda seperti halnya bluluk. Mungkin ada juga yang sudah seperti cengkir. Ada lagi yang sudah degan. Namun juga sudah ada yang levelnya kelapa. Nah, wayang dulunya mungkin menjadi dakwah bagi kalangan degan, bukan cengkir ataupun kelapa,”ujar Syukri disambut tepuktangan penonton.

Pertunjukan  wayang di PP Muhammadiyah yang menampilkan dhalang perempuan Dwi Puspita Ningrum, mahasiswa Semester VIII Jurusan Bahasa dan Sastra jawa UMP ini, bagaimanapun patut diacungi  jempol. Di tengah-tengah modernisasi global dan minimnya peminat profesi dhalang, sosok Dwi Puspita muncul di sana. Semoga ini sebagai titik awal pertanda bakal bangkitnya budayawan-budayawan Muhammadiyah di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *