|
|
|
| Administrator | |
| Kamis, 20 Desember 2007 | |
|
Idul Adha Membentuk Civic Society Oleh: Harus Laksana Guntur *) *) Ketua Dewan Pakar, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Jepang Kira-kira satu minggu sebelum hari raya Idul Adha, saya diajak salah seorang professor di Departemen Social Engineering, Tokyo Institute of Technology, untuk membantu mendistribusikan undangan launching program baru bernama Social Enterprises pada mahasiswa asing yang ada di kampus, sekaligus memberikan kata sambutan diawal acara. Ide dari peluncuran program baru yang diberi nama Social Enterprises ini adalah membentuk sosok Social Entrepreneur yang mampu memproduksi inovasi sosial atau solusi atas masalah-masalah sosial secara berkelanjutan (Sustainable social innovation). Idenya berawal dari kenyataan di dunia saat ini, bahwa masih ada sekitar 4 miliar penduduk dunia-umumnya tingal di negara berkembang seperti Indonesia-yang out of global market. Mereka ini adalah masyarakat miskin yang berada di Bottom of Pyramid dalam struktur ekonomi dunia. Sementara hasil inovasi teknologi saat ini hanya menyentuh rich people’s world, yaitu dunia orang-orang di puncak piramida, dengan tingkat ekonomi menengah keatas, yang jumlahnya sangat sedikit. Ada hal-hal mendasar yang membedakan social enterprise dengan business enterprise. Business enterprise dibentuk untuk tujuan ekonomi atau profit oriented. Sementara social enterprise dibentuk untuk sebuah tujuan mulia, yaitu solusi yang sustainable dari masalah sosial. Bahwa kenyataanya, masih banyak orang yang berpikiran bahwa menjadi orang kaya raya (konglomerat) itu bukanlah hal yang sangat penting. Tapi, bagaimana selama hidup ini kita bisa berkontribusi bagi peneyelesaian masalah sosial walau tidak menjadi orang kaya raya. Kalau di negara berkembang seperti Indonesia, masyarakatnya masih berebut untuk mendapatkan kedudukan, pangkat, jabatan dan ujung-ujungnya duit. Kalau di Indonesia orang masih sibuk membikin partai, bahkan tidak segan-segan memakai agama sebagai label partainya, para tokoh nasionalnya sibuk bersilaturahmi, tapi ternyata esensinya seputar syahwat ingin berkuasa. Maka, kita bisa menemukan fenomena lain di negara-negara makmur. Masyarakatnya sudah mulai disibukkan dengan bagaimana bisa berkontribusi bagi penyelsaian masalah sosial secara berkelanjutan. Tampaknya, mereka ingin meng-upgrade tingkatan mereka dari civil society menuju civic society. Cita-cita luhur yang ingin diwujudkan dalam program social enterprise di kampus ini adalah terbentuknya sebuah civic society atau masyarakat yang keberadaanya selalu ingin memberikan manfaat bagi orang-orang disekitar dan lingkungannya. Yaitu masyarakat yang civic minded dan selalu ingin mengorbankan sebagian dari apa yang dia miliki untuk kebahagian orang lain. Anehnya, semangat untuk mebangun civic society ini justru saya temui di tengah-tengah orang yang ternyata tidak begitu mengenal konsep beragama dan berketuhanan! Padahal Rasulullah bersabda dalam sebuah hadisnya, “Sebaik-baik manusia adalah yang palingbermanfaat bagi manusia lainnya”. Dari hadis ini, Rasulullah ingin mendorong agar kita, umat Islam, menjadi insan yang civic minded, tiap diri berlomba-lomba menjadi civic person, dan pada akhirnyaterbentuk sebuah civic society. Allah berfirman didalam sebuah ayat yang artinya “ Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, sesungguhnya Allah mengetahui” [QS:3:92]. Perintah untuk memberi atau berderma pada orang lain ini sampai muncul 80 kali dalam Al-Quran, menunjukkan bagaimana pentingnya aktifitas ini. Aktifitas dari sebuah civic society, tingkatan tertinggi dari sebuah komunitas disisi Allah. Saat ini, umat Islam di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia, merayakan hari raya Idul Adha atau sering disebut dengan hari raya Qurban. Idul Adha adalah simbol pengorbanan. Mengorbankan apa yang kita miliki untuk kebahagiaan orang lain, mengorbankan apa yang kita miliki untuk sesama yang membutuhkan, dan mengorbankan apa yang kita cintai dengan tulus ikhlas untuk mendekatkan diri dan mendapatkan cinta Kekasih hati, Rabb semesta alam. Sosok Ibrahim dan putranya, Ismail, diperintahkan oleh Allah melakukan pengorbanan, juga dalam rangka menjadi teladan bagi terbentuknya sebuah civic society, masyarakat yang tulus ikhlas berkorban untuk kepentingan umat manusia. Masyarakat yang selalu ingin memberi, baik itu memberikan pemikiran, harta dan sebagian dari apa yang dia cintai. Berinteraksi dengan manusia memang lebih susah dibanding dengan aktifitas ibadah lainnya seperti sholat, puasa, dan haji. Saat ini, sering kita lihat fenomena yang menyedihkan diantara kita, umat Islam. Banyak yang rajin sholat, puasa, atau haji sampai berkali-kali, tapi tidak peduli dengan kondisi tetangganya. Kurang peka terhadap lingkungan sekitarnya. Ini karena mereka tidak mengerti dengan baik Islam. Abdullah ibn Abbas, sahabat sekaligus sepupu Rasulullah, pernah berkata “Bagiku, lebih baik menolong orang satu jam daripada tinggal di masjid Rasulullah selama satu bulan beribadah pada Allah”. Abbas sebetulnya ingin menekankan bagaimana pentingnya sebuah ibadah sosial dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Hari raya Qurban saat ini, seharusnya menjadi mementum bagi tiap diri untuk berikrar, seperti ikrarnya Nabi Ibrahim, seperti ikrar yang sering kita ucapkan diawal sholat, menghilangkan rasa sayang melepas sebagian milik kita untuk sesama, untuk orang-orang disekitar kita. Mudah-mudahan kita bisa meraih derajat tertinggi dari sosok manusia, menjadi manusia yang civic minded.***
|



