cool hit counter

Persyarikatan Muhammadiyah

gambar

Bacaan: Juni 20, 2012

Fatwa Muhammadiyah

Fatwa Muhammadiyah Tahun 1998 : 13

PEMBAGIAN DAGING QURBAN

Pertanyaan Dari:

Hasba d.a. BP/RB. Siti Fatimah, Jl. A. Yani No. 34 A Pare, Kediri 54211

 

Tanya:

Dalam SM No. 05 Th. ke-82, 1-15 Maret 1997 halaman 27 memuat jawaban mengenai pembagian daging qurban, disebutkan sebagai berikut “Menurut tuntunan syari’at, daging qurban itu dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, sepertiga merupakan hak dari yang berqurban, dst. … . Kedua, sepertiga diberikan kepada fakir miskin yang ditunjuk oleh orang yang berqurban, dst. … . Ketiga, yang sepertiga lagi dibagikan kepada fakir miskin secara umum, dst. … .

Yang saya tanyakan: Tuntunan syari’at yang dimaksud apakah hadis atau apa? Mohon penjelasan lebih lanjut.

 

Jawab:

Saudara Hasba, terima kasih atas koreksinya, karena dalam jawaban kami dalam SM. No. 05, 1-15 Maret 1997 tersebut terdapat kesalahan redaksi. Sebenarnya yang kami maksudkan dengan sepertiga itu bukan dalam arti bilangan, melainkan bahwa daging qurban itu bisa dibagikan kepada yang berqurban sendiri, kepada fakir miskin yang tidak minta-minta secara terang-terangan dan kepada fakir miskin yang memang secara terang-terangan meminta-minta. Selanjutnya daging qurban itu tidak harus dibagi kepada tiga kelompok ini masing-masingnya sama banyak atau masing-masing mendapat sepertiga bagian. Adapun dasar hukum atau tuntunan syara’ yang kami maksudkan adalah firman Allah surat al-Hajj ayat 36:

 

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ ۖ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُواالْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 [الحج (22): 36]

 

Artinya: “Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.”

Dalam ayat di atas yang dimaksud dengan makanlah sebagiannya maksudnya adalah sahibul-qurban. Sedangkan fakir miskin dalam ayat di atas disebutkan yang tidak meminta-minta dan yang meminta-minta (secara terang-terangan). Tetapi sebenarnya bisa juga disebut fakir miskin dalam arti umum. Demikian yang kami maksudkan dan dengan ini kami telah meluruskan apa yang dimuat dalam SM No. 05, 1-15 Maret 1997.

Arsip Bacaan Sehari-hari


iklan

Berita Terpopular

Yogyakarta- Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan sikap  menolak gerakan dan faham lslami ... selengkapnya
Jakarta – Kalau ada apa-apa keterlibatan kita dilingkaran manapun, sosial maupun politik ya ... selengkapnya

Daftar Newsletter

Tetap terkini dengan berita terbaru dari Muhammadiyah

Bacaan Sehari-hari

Tidak Ada
iklan