Selasa, 26 Maret 2019
Home/ Berita/ Salim Said Diskusikan Kemelut Timur Tengah di UM Malang

Salim Said Diskusikan Kemelut Timur Tengah di UM Malang

Prof. Dr. Salim Said, MA diskusi bersama beberapa dosen dan mahasiswa FISIP UMM.
Malang- Guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Salim Said, MA, mengungkapkan konflik di Timur Tengah harus dilihat dari konteks sejarah. Masing-masing negara di Timur Tengah memiliki kekhasan sehingga tidak semuanya bisa dilihat secara general. Apa yang terjadi di Libya berbeda dengan di Mesir, Tunisia, Bahrain, dan sebagainya.

Pendapat itu dikemukakan Salim ketika berdiskusi dengan beberapa dosen dan mahasiswa FISIP, Senin (28/03) di Ruang 611 GKB I UMM. Salim mengaku kehadirannya di forum itu sebagai panggilan hati setelah beberapa lama tidak bisa intens berinteraksi dengan civitas akademika UMM karena tugas sebagai Dubes RI untuk Republik Checnya. “Saya yang minta pertemuan ini. Saya ingin setiap ada kesempatan bisa berdiskusi tentang current issues sehingga bisa merangsang tema riset bagi mahasiswa dan dosen,” katanya.

Lebih lanjut, Salim membeberkan krisis di Libya sebenarnya sangat kompleks. Jika di Mesir pergolakan diakhiri dengan mundurnya Hosni Mubarak, di Libya, Moammar Qadafi belum ada tanda-tanda mau meletakkan jabatannya. Alih-alih Qadafi malah menantang Barat yang kini membombardir negaranya dengan dalih mengamankan zona bebas terbang.

“Jika Mesir memiliki tentara yang siap mengganti rezim transisi, maka di Libya belum jelas karena sesungguhnya civil society dan tentara di sana tidak ada. Yang ada adalah kroni-kroni Qadafi yang hanya mengandalkan kekayaannya untuk berkuasa,” ungkap Salim.
Akibatnya, belum bisa diprediksi apa yang akan terjadi seandainya Qadafi jatuh. Salim menduga, kelompok oposisi di Libya bukan merupakan oposisi murni warga Libya kebanyakan. Mereka berasal dari kelompok fundamentalis yang pernah mengikuti pelatihan militer di Afganistan. Hal ini cukup menghawatirkan karena bisa jadi Libya pasca Qadafi juga akan tetap jadi rebutan. “Faktor kegemasan terhadap sikap-sikap Qadafi dan minyak menjadi daya tarik Barat untuk ikut menggempur kekuatan pemerintah Libya,” lanjut Salim.

Menanggapi pertanyaan peserta diskusi  tentang efek krisis ini terhadap negara-negara Timur Tengah lainnya, Salim kembali menegaskan masing-masing negara di Timur Tengah memiliki sejarah yang berbeda. Saudi Arabia, misalnya, merupakan negara keluarga. Negara ini kaya akan minyak dan sanggup memberi kesejahteraan kepada rakyatnya. Meski monarkhi, negara ini agak sulit digoyang disamping mencukupi kebutuhan tentara dan rakyatnya juga karena memiliki hubungan dekat dengan negara-negara kuat, seperti AS.


Salim berpesan agar mahasiswa mulai melirik tema-tema riset yang menarik dari current issues itu. Seperti dirinya, sewaktu menginjakkan kaki di AS, dia mengaku sudah memiliki gambaran disertasi yang akan ditulisnya. Tak heran, idenya menggali data tentang tentara Indonesia merupakan yang pertama untuk disertasi di Indonesia. “Saya dorong anda untuk menjadi yang pertama,” kata mantan redaktur desk luar negeri majalah Tempo ini. (www.umm.ac.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *