Minggu, 25 Agustus 2019
Home/ Berita/ Bagaimana Muhammadiyah di Luar Negeri? Simak Cerita Mereka Para Kader Persyarikatan

Bagaimana Muhammadiyah di Luar Negeri? Simak Cerita Mereka Para Kader Persyarikatan

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA - Setelah Muktamar Muhammadiyah di Jakarta tahun 2000, muncul gagasan perlunya pendirian Muhammadiyah di luar negeri. Ada beberapa alasan mengapa Muhammadiyah di luar negeri perlu didirikan. Pertama, perlunya memperluas dakwah perjuangan Islam yang rahmatan lil alamin dalam perspektif Muhammadiyah tidak hanya di negara Indonesia tetapi ke berbagai negara. Kedua, banyaknya kader, anggota dan warga Muhammadiyah yang menyebar ke berbagai negara baik karena alasan studi maupun kerja dan mereka memerlukan ruang untuk berorganisasi. Atas dasar alasan dan tujuan di atas tersebut, pada akhirnya Muhammadiyah di luar negeri dinamakan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM).

PCIM terus berkembang baik dari sudut kuantitas maupun kualitas. Kuantitas bermakna munculnya PCIM, PCIA dan PRIM baru di beberapa tempat sekalipun terkadang mengalami pasang surut karena tergantung tersedianya kader dari mahasiswa yang belajar maupun pekerja yang mencari nafkah. Mereka yang tinggal secara temporer untuk kemudian pulang kembali ke tanah air. Maka, untuk sustainabilitas organisasi diperlukan rekrutmen dari permanent residents atau bahkan warga negara setempat.

Kualitas bermakna peran organisasi yang semakin intensif memperkenalkan Muhammadiyah di kalangan komunitas akademik maupun pusat-pusat kegiatan Islam dan lembaga-lembaga non-government. Dan hingga saat ini PCIM juga berfungsi sebagai duta Persyarikatan di tempat masing-masing.                       

“Secara relatif PCIM berdampak positif. Tetapi dampak itu baru terbatas pada penampilan citra Islam yang mengimbangi orientasi Middle East. Untuk memberikan dampak yang lebih besar, PCIM perlu terlibat lebih intens dalam kegiatan-kegiatan komunitas Muslim yang lebih luas. Ustadz Shamsi Ali di New York bisa menjadi role model bagi anggota PCIM lainnya,” terang Syafiq A. Mughni, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.         

Saat ini terdapat 21 PCIM yang tersebar di berbagai negara, seperti Mesir, Iran, Sudan, Belanda, Jerman, Inggris, Cina, Taiwan, Korea Selatan, Arab Saudi, Malaysia, Australia, dan negara-negara lainnya. Inisiatif mendirikan PCIM menurut Syafiq harus tumbuh dari bawah, karena mereka inilah yang memahami situasi lokal. Pimpinan Pusat Muhammadiyah memotivasi tumbuhnya inisiatif lokal itu. Sebuah PCIM sebaiknya tidak harus dibatasi oleh teritori negara tapi bisa merupakan gabungan dari beberapa negara. Dimungkinkan, misalnya, ada satu PCIM untuk Eropa Timur. Teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan koordinasi antarnegara menjadi mudah.                       

Posisi negara mayoritas atau minoritas Muslim tampaknya bukan faktor yang mempengaruhi efektivitas dakwah Muhammadiyah. Faktor yang berpengaruh adalah komitmen dan kegigihan anggota dalam melakukan konsolidasi dan promosi organisasi.

Melalui tulisan ini akan menceritakan dinamika PCIM yang disampaikan oleh Ridho Al-Hamdi, Ketua PCIM Jerman, Hakimuddin Salim, Ketua PCIM Arab Saudi, dan Zain Maulana, Ketua PCIM UK, yang berbagi cerita kepada redaksi Muhammadiyah.or.id atas pengalaman dan perkembangan PCIM di ketiga negara tersebut.

Dinamika PCIM Jerman Raya

PCIM Jerman Raya adalah pimpinan Muhammadiyah di luar negeri yang luas cakupan dakwahnya terdiri dari beberapa negara: Jerman, Austria, Belgia, Luxemburg, Swiss, Polandia dan Liechtenstein.

PCIM Jerman didirikan berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 07/KEP./I.0/B/2007 tertanggal 03 Muharram 1428 H bertepatan dengan 22 Januari 2007 M yang ditandatangani oleh ketua umum Prof Dr. HM. Din Syamsuddin, MA dan sekretaris umum Drs. H. A. Rosyad Sholeh.

Beberapa pendiri PCIM Jerman awal adalah Dr. med. Barbara Kleemann-Soeparwata dan Ahmad Norma Permata. Soeparwata sendiri merupakan dokter asal Yogyakarta yang sudah menetap lama di Münster. Sedangkan ketua PCIM Jerman pertama diamanahkan kepada Ahmad-Norma Permata yang saat itu menempuh studi doktor bidang ilmu politik di Universität Münster sehingga sekretariat kantor PCIM Jerman berpusat di Münster.

Selain telah berdiri Muhammadiyah, PCIM Jerman juga memiliki kegiatan lain berupa seni bela diri Tapak Suci (TS) yang berpusat di Bonn di bawah asuhan Joko Suseno. Kegiatan TS telah berjalan sejak tahun 1990-an sebelum PCIM resmi berdiri. Puluhan warga Jerman telah ikut bergabung dalam seni bela diri ini sehingga Tapak Suci menjadi jalur dakwah Muhammadiyah kepada warga Jerman yang non-Muslim. Namun demkian, sejak sekembalinya para pendirinya ke Indonesia sekitar tahun 2009, PCIM Jerman tidak begitu aktif atau vakum sehingga tidak memiliki kegiatan.

Pada tahun 2011, berbagai kader dan anggota Muhammadiyah berdatangan ke Jerman dengan maksud studi atau kerja. Barulah pada tahun 2014 inisiasi mengaktifkan kembali PCIM Jerman muncul ke permukaan. Karena minimnya sumberdaya manusia yang dimiliki, PCIM Jerman memekarkan area dakwahnya ke beberapa negara tetangga sehingga PCIM Jerman merubah diri menjadi PCIM Jerman Raya yang mencakup beberapa negara, yaitu Jerman, Austria, Belgia, Luxemburg, Switzerland, Poland, dan Liechtenstein.

Ada dua alasan pemekaran PCIM ini dilakukan. Pertama, minimnya warga Muhammadiyah di negara Jerman. Kedua, mengakomodir kader dan warga Muhammadiyah di negara-negara sekitar Jerman (dan berbasis bahasa Jerman) yang belum memiliki PCIM.

Sebagai inisiasi awal, Ridho Al-Hamdi ditunjuk sebagai ketua care-taker PCIM Jerman Raya yang akan membawa organisasi ini menuju Musyawarah Cabang Istimewa Pertama (Musycabis I) di Kota Frankfurt am Main pada hari Ahad, 6 Desember 2015. Dengan dihadiri oleh berbagai kader, anggota dan simpatisan Muhammadiyah dari berbagai kota di Jerman dan sekitarnya, dalam musyawarah ini terpilihlah pengurus PCIM Jerman Raya Periode 2015-2017 yaitu ketua Ridho Al-Hamdi, sekretaris Hamzah Hasyim dan Andri Hutari, Bendahara Diyah Nahdiyati serta beberapa koordinator negara bagian-negara tentangga dan koordinator bidang. Kepengurusan tersebut kemudian mendapatkan pengesahan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Indonesia pada tanggal 15 Januari 2016 dengan No. 28/Kep/I.0/D/2016 yang ditandatangani oleh ketua umum dan sekretaris umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, Abdul Mu’ti.

Bagaimana Tanggapan Masyarakat Jerman dengan Berdirinya PCIM ?

Ketertarikan masyarakat Jerman, khususnya masyarakat muslim menyambut baik degan hadirnya PCIM Jerman. Mereka berharap dan percaya bahwa Muhammadiyah merupakan sebuah organisasi yang mampu mensyiarkan dakwah Islam sebagai agama yang membawa nilai-nilai perdamaian di Jerman, ditengah-tengah maraknya islamophobia yang mulai beredar luas di Jerman.

Dan masyarakat Jerman juga memiliki keyakinan yang besar bahwa Muhammadiyah melalui PCIM Jerman akan mampu mengenalkan Islam sebagai agama yang relevan dengan nilai-nilai demokrasi dan juga negara barat.

Kehadiran PCIM Jerman pada umumnya akan semakin menguatkan keberadaan Islam di Barat akan semakin baik, dari segi kuantitas maupun kualitas yang saat ini semakin positif perkembangannya.

Apa Harapan dan Rencana Kedepan PCIM Jerman ?

Kedepan PCIM Jerman diharapkan seudah menjadi organisasi terdaftar (sering disebut sbg e.V.) di Jerman. Karena saat ini belum secara resmi terdaftar. Selain itu suplai kader Muhammadiyah dari Indonesia diharapkan akan semakin diperkuat, agar kader Muhammadiyah di Jerman bertambah. Dan juga saat ini PCIM Jerman mulai bekerjasama dengan komunitas-komunitas muslim lain yang ada di Jerman, sehingga eksistensi Muhammadiyah di Jerman benar-benar mengakar dan berpengaruh.

Dinamika PCIM Arab Saudi

Awalnya bermula berdirinya PCIM Arab Saudi dari keprihatinan bahwa banyak mahasiswa di Saudi Arabia yang merupakan lulusan sekolah dan pesantren Muhammadiyah, atau lahir dari keluarga Muhammadiyah, namun ketika sudah selesai menimba ilmu agama di Saudi, enggan untuk kembali ke Muhammadiyah.

Padahal Muhammadiyah sebagai salah satu ormas terbesar di Indonesia, dengan segala potensi strategisnya, sangat butuh terhadap SDM berkafa'ah ilmu syar'i, demi mewujudkan misi tajdid dan dakwah amar ma'ruf nahi munkar yang telah digariskan oleh KH. Ahmad Dahlan.

Hingga tahun lalu, ketika beberapa Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang diwakilkan oleh Sekretaris PP Muhammadiyah, Abdul Mu'thi dan Bendahara PP Muhammadiyah, Marpuji Ali datang ke Madinah, kami berkonsultasi soal inisiasi pendirian PCIM Arab Saudi.

Kami pun mulai bergerak menggalang dan menjalin komunikasi dengan para mahasiswa di berbagai kota di Saudi, yang pernah mengenyam pendidikan Muhammadiyah atau lahir dari keluarga Muhammadiyah.

Lalu komunikasi dengan Pimpinan Pusat pun berlanjut melalui Ustadz Faturrahman Kamal, Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah yang merupakan alumni Universitas Islam Madinah. Beliau menyampaikan dukungan Ketua Umum dan menegaskan akan kebutuhan organisasi yang sangat mendesak terhadap kaderisasi ulama.

Akhirnya kemarin di Madinah, pada hari Jum'at yang penuh berkah, tanggal 20 Januari 2017, bertepatan saat Pak Haedar Nashir dan rombongan PP Muhammadiyah sedang berangkat Umroh, menjadi momentum yang pas untuk pengukuhan PCIM Arab Saudi.

Mungkin sebenarnya pendirian PCIM Arab Saudi ini terhitung terlambat. Mengingat dahulu di sinilah KH. Ahmad Dahlan menuntut ilmu. Sedangkan usia persyarikatan sekarang sudah seabad lebih dan sebelumnya telah lama berdiri beberapa PCIM di berbagai negara dari benua Asia, Amerika, Eropa, Afrika dan Australia.

Namun tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan. Ini adalah nikmat dari Alloh yang harus disyukuri dengan 'amal dan pembuktian. Semoga membawa berkah bagi persyarikatan dan umat Islam keseluruhan.

Bagaimana tanggapan masyarakat Arab Saudi khususnya Muslim Indonesia dengan keberadaan Muhammadiyah?

Alhamdulillah sejauh ini responnya sangat positif. Bahkan melebihi ekspektasi teman-teman pengurus. Berbagai ucapan doa dan selamat pun berdatangan. Bahkan tidak sedikit yang kemudian menyatakan ingin bergabung.

Ini cukup menggembirakan. Karena awalnya sempat ada keraguan dari teman-teman, mengingat sistem politik dan pandangan keagamaan di Arab Saudi, tidak memungkinkan untuk sembarangan membentuk organisasi.

Saat itu kami berusaha untuk meyakinkan teman-teman. Bahwa kita berhimpun bukan untuk ta'asshub (fanatik) dan berbecah-belah. Loyalitas kita tetap utuh untuk para pemimpin Islam dan kaum Muslimin. Semua hanya demi dakwah yang lebih sistematis.

Juga tidak ada yang berbeda dan bermasalah dengan visi-misi Muhammadiyah. Justru dari sekian ormas besar di Indonesia, Muhammadiyah lah yang menjadi pelopor untuk mengangkat tema Tauhid, Tajdid dan Pemberantasan TBC (Takhayul, Bid'ah & Churafat).

Bahkan menurut penjelasan Ketua Majelis Tabligh, sekarang telah dibentuk Lajnah Ta'awuniyah bainal Jam'iyyah wal Mamlakah Al-'Arabiyah As-Su'udiyah (Panitia Kerjasama Antara Muhammadiyah dan Kerajaan Arab Saudi).

Insya Alloh kedepan akan ada kunjungan resmi ke Mufti Kerajaan dan beberapa Rektor Universitas ternama. Ini adalah langkah strategis untuk terjalinnya sinergi antara dua negara kedepan, demi mewujudkan dakwah yang berkemajuan.

Apa program unggulan PCIM Arab Saudi?

Untuk program yang detail, sekarang sedang proses penggodokan. Insya Allah sebentar lagi akan kita selenggarakan musyawarah untuk fiksasi program kerja. Namun secara global, PCIM Arab Saudi mempunyai target untuk bisa memainkan peran strategis di antaranya:

Pertama, menjadi wadah ukhuwah dan sarana amal bagi warga Muhammadiyah di Saudi, baik dari kalangan mahasiswa, profesional atau TKI. Hingga ketika pulang ke tanah air nanti, anak-anak biologis dan ideologis Muhammadiyah ini tidak sungkan untuk kembali ke rumah-besarnya.

Kedua, membantu Perhimpunan dalam kaderisasi Ulama, dengan cara sebanyak mungkin menyumbangkan sarjana, master dan doktor berkafa'ah syari'ah, dengan moralitas dan keilmuan yang bisa diandalkan, yang siap mendakwahkan Islam dalam konteks keindonesiaan.

Ketiga, menjadi jembatan penghubung antara Perhimpunan dengan Kerajaan, untuk mewujudkan kerjasama yang efektif antara kedua belah pihak dalam bidang dakwah, pendidikan, dan sosial.

Keempat, berkontribusi dalam memberikan pembinaan dan pencerahan kepada WNI di Saudi, juga ikut serta membantu KJRI dan KBRI dalam menyelesaikan problem sosial yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia di Saudi.

Kelima, membantu Perhimpunan dalam memberikan bimbingan dan pelayanan yang maksimal kepada jama'ah Haji dan Umroh, terutama dari warga Muhammadiyah.

Apakah dengan menginternasionalisasi Muhammadiyah akan berdampak pada perkembangan muslim di berbagai negara?

Insya Allah, kami optimis hal itu akan berdampak positif pada perkembangan kaum Muslimin di berbagai negara. Mengingat Muhammadiyah sebagai ormas terbesar di negara Muslim terbesar sedunia, tidak hanya konsisten membawa misi tajdid dan dakwah amar ma'ruf nahi munkar, namun juga konsen terhadap permasalahan-permasalahan universal seperti: peningkatan mutu pendidikan dan pengentasan kemiskinan. Tentu ini adalah prototipe dakwah pencerahan yang lebih akseptable di berbagai negara, terutama di negara-negara minoritas Muslim seperti di Amerika dan Eropa, yang mana semangat untuk mengenal Islam semakin meningkat disana.

Apa harapan dan rencana kedepan PCIM Arab Saudi?

Harapan kami, semoga dengan dikukuhkannya PCIM Arab Saudi ini, bisa memberikan ruh baru bagi kemajuan Muhammadiyah dan dakwah Islam di tanah air. Kami para mahasiswa dan segenap masyarakat Indonesia di Saudi sangat bangga dengan kepedulian Muhammadiyah terhadap berbagai masalah Umat dan Bangsa. Bukan hanya soal pendidikan dan pemberdayaan ekonomi umat, namun juga sikap tegas Muhammadiyah atas berbagai kasus hukum dan HAM seperti: penistaan Al-Qur'an dan penganiayaan Siyono.

Semoga kedepan kiprah dan peran Muhammadiyah bisa lebih ditingkatkan. Bukan hanya skala nasional, tapi juga skala internasional. Termasuk peran aktif dan efektif dari Muhammadiyah dalam menyelesaikan berbagai konflik Dunia Islam kontemporer, seperti di Palestina, Syiria dan Rohingya. Dan kami segenap pengurus dan anggota Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di Arab Saudi, insya Allah siap mengawal dan turut serta membantu mewujudkan harapan ini.

Dinamika PCIM UK

PCIM United Kingdom (UK) terus berkembang baik dari sisi jumlah maupun aktivitas dakwah. Sebagian besar anggota PCIM UK berasal dari kalangan pelajar Muslim Indonesia yang tegah mengenyam pendidikan di UK.

Alhamdulillah regenerasi pengurus maupun anggota PCIM UK terus berjalan, meskipun terkadang belum terjadi peningkatan secara signifikan berdasarkan jumlah anggota PCIM UK, namun semangat untuk menebar dakwah Muhammadiyah sebagai gerakan Islam pencerahan terus berkembang di UK.

Dakwah PCIM UK saat ini lebih banyak difokuskan kepada gerakan dakwah Islam dan keilmuan. Harapannya dengan terbukanya jaringan dakwah ke komunitas muslim lokal di UK, dakwah PCIM UK bisa meluas tidak hanya ke masyarakat Indonesia saja, tetapi juga komunitas muslim lainnya dan masyarakat non muslim lokal di UK.

Muhammadiyah UK juga diharapkan bisa menjadi contoh yang sangat baik dalam menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang damai  dan berkemajuan, baik dari sisi ekonomi, ilmu pengetahuan dan aspek lainnya.       

PCIM UK saat ini telah menyelenggarakan Muhammadiyah International Forum sebanyak tiga kali. Forum tersebut seperti seminar dengan mengundang pembicara dari PP Muhammadiyah dan akademisi di UK. Tema seminarnya antara lain Islam and sustainable development, Islamic Charity and Social Empowerment. (adam)

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *