Senin, 03 Agustus 2020
Home/ Berita/ Refleksi Akhir Tahun, Haedar : Awal Tahun Tantangan Hidup untuk Lebih Maju

Refleksi Akhir Tahun, Haedar : Awal Tahun Tantangan Hidup untuk Lebih Maju

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Tahun 2016 akan segera berakhir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan, menjadi refleksi untuk warga bangsa dalam memahami akhir tahun dan awal tahun sebagai tantangan hidup untuk lebiih baik dan lebih maju.

“Untuk pemerintah, diharap awal tahun aka semakin paham dan posisi peran sebagai pemimpin umat atau pemimpin bangsa terdapat tanggung jawab dan amanah yang besar, memasuki tahun baru, bagaimana caranya mewujudkan cara untuk menjadi teladan bagi masyarakat,” ujar Haedar, ketika ditemui redaksi Muhammadiyah.or.id, Jumat (30/12).

Lanjut Haedar, setiap masalah kebangsaan dan keumatan yang terjadi pada tahun 2016 merupakan problem laten dan aktual. Laten contohnya seperti permasalahan sosial, korupsi, pengerukan Sumber Daya Alam (SDA). “Laten karena tidak dapat diatasi dengan cepat. Problem laten ini harus segera dicari solusi yang komprehensif, seperti korupsi, pengerukan, dll,” ujar Haedar.

Lanjut Haedar, dalam hal problem aktual, seperti agama, toleransi dan kemajemukan adalah masalah yang dihadapi oleh bangsa heterogen. “Perlu dipahami oleh seluruh masyarakat terkait kepentingan agama sebagai bagian yang tidak sekular, tapi agama itu sakral dan tidak boleh dijatuhkan nilai-nilainya,” ujar Haedar.

Haedar memandang permasalahan ini harus diselesaikan dengan baik, termasuk hal toleransi yang selalu muncul, karena heterogen yang ada di Indonesia. “Kemajemukan adalah realitas yang objektif,” ucapnya.

Dalam konteks islam, di Indonesia ada multi gerakan, multi mahzab dan lain-lain. Tragedi 212 menurut Haedar telah membuat umat islam di Indonesia harus saling memahami antar perbedaan dalam rangka membangun peradaban.

“Umat islam harus berpijak pada nilai-nilai islam, tidak terlalu memuja pada kebiasaan tradisi. Islam universal dan harus tahu realitas di negerinya, sehingga tidak mengawang-awang,” ucap Haedar.

Sehingga dalam memahami posisi islam dan membumikan Islam dibutuhkan keislaman yang bernilai universal dan dapat mewujudkan islam berkemajuan. (adam/nisa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *