cool hit counter

Persyarikatan Muhammadiyah

gambar
Minggu, 22 Jan 2012 | 15:53 WIB |
Dibaca: 7308

Yunahar Ilyas: Muhammadiyah Beda Dengan Wahabi

 

 

Magelang- Pada sesi kedua Pelatihan Kader Tarjih Tingkat Nasional  (Sabtu 21/01/2012), Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc. M.A.  pada materi Paham Agama dalam Muhammadiyah mengatakan bahwa tidak diragukan lagi, KHA Dahlan banyak dipengaruhi ide-ide Muhammad bin Abdul Wahab, khususnya dalam bidang akidah. Hal ini tentu saja memberi pengaruh pada gerakan Muhammadiyah yang didirikannya. Namun begitu, tidak berarti Muhammadiyah berafiliasi mazhab kepada Abdul Wahab (baca: Wahabi/Salafi). Banyak hal lain yang memberikan inspirasi KHA Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah, sedang pemikiran Abdul Wahab hanya salah satunya.

Bahkan Yunahar menegaskan, Muhammadiyah berbeda dengan Wahabi. Dalam hal dakwah khususnya, Wahabi bergandeng tangan dengan penguasa untuk menghancurkan tempat-tempat yang digunakan untuk melakukan perbuatan syirik secara frontal. Sementara Muhammadiyah dalam beramar makruf nahi munkar lebih mengedepankan prinsip tausiyah, menyampaikan nasehat kebenaran.

Pelatihan Kader Tarjih tingkat Nasional yang diadakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menghadirkan beberapa narasumber ahli yang kompeten di bidangnya, yang berasal dari lingkungan Muhammadiyah sendiri. Pada kesempatan pertama, Jum'at, 20 Januari 2012 malam, Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dan KRT. Drs. H. A. Muhsin Kamaludiningrat membawakan materi Konsep Kelembagaan dan Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Syamsul menyampaikan, tajdid sebagai identitas Muhammadiyah mempunyai dua makna, purifikasi dan dinamisasi. Purifikasi atau pemurnian untuk bidang akidah dan dinamisasi untuk bidang muamalah duniawiyah. (amr)

 


Tags: muhammadiyah, tarjih, ulama, wahabi, yunahar ilyas
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori: majelis tarjih dan tajdid pp muhammadiyah

Pilih Artikel


Apakah artikel tersebut menarik bagi saudara?
Sangat Menarik Menarik Cukup Menarik Kurang Menarik

9 Komentar


wahyu
04-02-2012 09:44:22
saya setuju bahwa Muhammadiyah dalam konteks kekinian beda dengan yang dulu,lebih low profile,sinergis dan keindonesiaan,bahwa muhammadiyah berafiliasi secara teologis pada abdul wahab memang iya, namun sebagai sebuah aset bangsa, perlu kiranya suatu kajian baru bagi MD untuk memiliki teologi sendiri dng pendekatan logis,essensial dan filosofis. kalau perlu berbagi pandangan dng mengadakan seminar Internasional ttg Teologi Islam
aswani
23-01-2012 11:35:09
Gak penting banget,berita yang gak bermutu.merasa paling sendiri dan bisa nya hanya membuat fitnah
Kijo
23-01-2012 12:58:14
Dalam tulisan diatas disampaikan bahwa Muhammadiyah beda dengan Wahabi. Dan disampaikan juga, Wahabi bekerjasama dengan pemerintah menghancurkan secara frontal tempattempat yang dijadikan sarana kemusyrikan, dengan kata lain Anarkis sebagaimana dikenal masyarakat. Apakah ini berarti bpk Yanuar membenarkan bahwa Wahabi itu anarkis?? Terima kasih
Alan Sahlan
23-01-2012 13:30:21
Haalaaah... sama saja... pengusung mentakfir saudara muslim lainnya..!!!
hisbullah razak
23-01-2012 13:56:16
Setuju
Arif Hidayat
23-01-2012 14:38:42
Maaf pak,...Kalau saya lihat photonya koq Hijriahnya tahun 1431,...Ini photo tahun kemarin atau memang salah ketik?
kasnan
26-01-2012 20:42:40
Salah kaprah soal wahabi. Coba buku karangan syeikh Abdul Wahab, apa ada ajaran mengkafirkan orang lain. Atau ada organisasi yang mengatasnamakan faham wahabi yang melakukan kekerasan seperti FPI , kelompok teroris dan lainnya yang mengaku salafi. Wahabi memang beda dengan Muhammadiyah. Kalau Muhammadiyah sekarang tidak bicara TBC lagi tapi lebih suka cerita politik dan kerjasama dengan kaum non muslim untuk menjatuhkan wibawa pemerintah yang muslim. Saya rindu Muhammadiyah yang dulu
musliadi
27-01-2012 19:23:38
Terlepas dari semuanya, sebagai Generasi Penerus, kita berkewajiban untuk terus melakukan perbaikan di semua bidang dakwah. Kiprah Muhammadiyah di dunia Pendidikan tak terdandingi oleh Ormas Islam lainnya. Alangkah lebih indahnya jika kita semua bersatu untuk menegakkan kebenaran, tanpa harus memojokkan Ormas Islam lainnya. wallahu alam
Udin Dawuhan Trenggalek
03-05-2012 19:25:49
hai saudaraku sesama muslim marilah kita bersatu duduk merenung menyikapi nasip bangsa ini terjadi kekacauan,bencana dll itu karena orang islam sendiri gak bersatu saling memojokkan saling fitnah saling mengolokkan satu sama lain,satu islam satu darah satu tubuh orang yg telah mengucapkan Syahadat itu islam bukan kafir,jadi saya gak setuju kalau sesuka hati menyebut kafir dengan nyata2 dia bukan orang kafir, sudahlah kita gak usah terlalu jauh menyalahkan prinsip keIslaman seseorang walau di NU,Muhammadiyah Dll yng penting hati kita setiap saat kumantil selelu ingat akan Kebesaran Alloh SWT Dan Menjalankan perintahNYA,Sangat Disayangkan jikalau kita melupakan sejarah perjuangan islam yg ada ditanah jawa ini Kususnya Wali songo Terlebih Sunan Kalijogo dan para ulama jawa Hasyim Asri Kh.Ahmad Dahlan Dll Kita gak usah terlalu jauh membahas Bidah dll, Innamal Akmalu binniyat Segala sesuatu itu letaknya pada niat kita, kalo kita mengundang orang dg niat Shoodaqoh bersukur karena kita bisa beli sepeda motor semisal, jangan salah niat kita shodqoh besyukur. semoga umat islam didunia kususnya di Indonesia Bisa berasatu dan mengikuti perjalanan pemerintahan yg ada. semoga Alloh Mengbulkan Amiin...?

Beri Komentar


Kalau saudara semua tertarik untuk memberikan komentar terhadap berita atau artikel di atas, kami mohon agar memberikan komentar yang santun untuk kemajuan Persyarikatan Muhammadiyah di masa yang akan datang. Isi komentar terserah dari pembaca, tapi jika dinilai kurang layak tampil oleh pengelola website, maka kami akan menghapusnya.
*) Harus Diisi

Nama * Email *

Website

Tulis Komentar *
Kode *

Berita Lain



iklan

Berita Terpopular

Jakarta - Muhammadiyah menghormati hasil sidang itsbat yang dilakukan pemerintah menetapkan awal ... selengkapnya
Pamekasan – Terentasnya Pamekasan dari daerah tertinggal mendapat perhatian banyak pihak. S ... selengkapnya

Daftar Newsletter

Tetap terkini dengan berita terbaru dari Muhammadiyah

Bacaan Sehari-hari

Dalam membangun demokrasi diperlukan pendidkan demokrasi. Pendidikan demokrasi hanya akan lahir dalam pendidikan yang demokratis. Oleh karena itu, demokratisasi pendidikan Indonesia merupakan keniscayaan.
[HM. Zamroni]
iklan