cool hit counter

Persyarikatan Muhammadiyah

gambar
Senin, 19 Dec 2011 | 17:16 WIB |
Dibaca: 2520

Saatnya Menginternasionalisasikan PTM

 

Malang- Sembilan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Indonesia mengikuti workshop pengembangan kerjasama luar negeri di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)(8/12). Acara yang diselenggarakan selama dua hari itu bertujuan untuk mendorong agar PTM di seluruh Indonesia bisa go international.
 
 
Sembilan PTM yang hadir, selain tuan rumah UMM,  UM Palembang, UM Ponorogo, UM Surakarta, UM Gresik, UM Surabaya, UM Jember, UM Yogyakarta dan Universitas Prof. Dr. Hamka (UHAMKA). Ditengah sambutan pembukaan workhsop, Pembantu Rektor II, Drs. Mursidi, MM mengatakan bahwa sudah saatnya PTM begerak ke arah lebih maju menuju persaingan global. “Untuk mewujudkan mimpi itu maka antar PTM di seluruh Indonesia harus bersatu satu sama lain untuk menguatkan kerja sama luar negeri,” ujarnya.
 
 
Anggota Majlis Dikti PP Muhammadiyah, Prof. Lincolin Arsyad, Ph.D, menyampaikan materi mengenai “Strategi Internasionalisasi”. Menurutnya PTM harus sadar terhadap interdependensi dunia dan sadar untuk tidak mengurung diri. Proses internasionalisasi tidaklah mudah, perguruan tinggi harus diakui, diterima dan dibutuhkan dunia luar.
 
 
“Dengan internasionalisasi, maka kita akan mampu bersaing secara global. Satu-satunya kunci ialah kualitas perguruan tinggi itu sendiri,” katanya.
Lebih jauh Lincolin menerangkan peningkatan kualitas perguruan tinggi bisa terjadi secara alami, namun hal itu membutuhkan proses yang lama. Untuk itu dibutuhkan triger dari dalam dan luar misalnya proses akreditasi baik secara nasional dan dunia. Dia juga menambahkan bahwa internasionalisasi bisa diukur dengan tiga hal. Pertama, melihat keragaman antara mahasiswa dan dosen lokal maupun luar negeri yang ada didalam perguruan tinggi. Kedua, hasil penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal internasional, termasuk alumni yang bekerja di luar negeri. Ketiga, seberapa banyak mahasiswa dan dosen yang pergi keluar negeri baik dalam pertukaran pelajar, penelitian atau mengajar disana.
 
 
Lincolin memberikan strategi kepada PTM yang ingin melakukan internasionalisasi diantaranya memperluas jaringan internasional, melakukan kolaborasi antar perguruan tinggi asing baik dalam hal penelitian maupun penulisan artikel dan jurnal, mengadakan program doble degree yang dibuka secara internasional seperti training, undergraduate, graduate dan postgraduate.
Selain pemaparan materi dari Majlis Dikti, panitia UMM juga menghadirkan pembicara dari lembaga penyedia tenaga pengajar asing, Internship. Lembaga ini menawarkan kerjasama dalam bentuk bantuan tenaga pengajar dari berbagai Negara. Saat ini di UMM ada dua peserta Internship yang membantu pengajaran bahasa Inggris, yakni dari Polandia dan Yunani.
 
 
Dukungan penuh diberikan rektor UMM, Muhadjir Effendy, kepada langkah PTM yang ingingo internasional. Rektor yang juga penggagas pertama workhop ini berharap potensi masing-masing PTM bisa dioptimalkan. “Bila perlu diadakan kegiatan bersama dengan UMM, misalnya studi banding ke luar negeri, atau mencari peluang kerjasama beasiswa seperti dengan Uni Eropa,” ujar rektor.
Dalam kesempatan itu, rektor mengajak serta dua orang perantara investasi dari Swiss yang menyertai Dubes RI untuk Swiss, Djoko Susilo. Dua orang itu menawarkan kerjasama di luar bidang pendidikan, yakni investasi pengembangan energi alternatif dan pengolahan sampah. Namun demikian, kepada UMM mereka akan menjajaki investasi peralatan medis Rumah Sakit Pendidikan UMM.
 
 
Hari kedua, acara dilanjutkan dengan presentasi dari PTM di Indonesia yang telah memiliki Kantor Urusan Internasional (KUI) yang cukup kuat seperti UMM, UHAMKA, UMS dan UMY. Hal itu dimaksudkan agar masing-masing PTM bisa membagikan pengalamannya dalam mengelola KUI dan membuat program bersama untuk mewujudkan gagasan bersama.
 
 
Di akhir acara peserta menyampaikan gagasanya kepada ketua umum PP Muhammadiyah,Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA yang kebetulan hadir di UMM. Din mendukung langkah PTM yang progresif itu agar bisa melakukan ekspansi secara global.
Din juga memaparkan beberapa peluang yang bisa ditindaklanjuti dari kunjungannya ke luar negeri. Di sisi lain, dia menyadari bahwa selama ini banyak kerjasama yang dinilai mati suri baik karena faktor keterbatasan dana maupun sumber daya manusianya.

“Kita tidak boleh pesimis, saya sangat mengapresiasi gagasan brilliant dari kawan-kawan PTM seluruh Indonesia, PP akan berusaha membantu merealisasikan mimpi tersebut. Sekarang ini marilah kita fokus terhadap peluang yang sudah di depan mata” kata Din. (www.umm.ac.id)


Tags: muhammadiyah, umm,
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori: universitas muhammadiyah malang

Pilih Artikel


Apakah artikel tersebut menarik bagi saudara?
Sangat Menarik Menarik Cukup Menarik Kurang Menarik

1 Komentar


muhammad suud
19-12-2011 19:34:11
...PTM harus menjadi benteng moral dan pembangun bangsa.... salut acara yang kreatif

Beri Komentar


Kalau saudara semua tertarik untuk memberikan komentar terhadap berita atau artikel di atas, kami mohon agar memberikan komentar yang santun untuk kemajuan Persyarikatan Muhammadiyah di masa yang akan datang. Isi komentar terserah dari pembaca, tapi jika dinilai kurang layak tampil oleh pengelola website, maka kami akan menghapusnya.
*) Harus Diisi

Nama * Email *

Website

Tulis Komentar *
Kode *

Berita Lain



iklan

Berita Terpopular

Jakarta - Muhammadiyah menghormati hasil sidang itsbat yang dilakukan pemerintah menetapkan awal ... selengkapnya
Pamekasan – Terentasnya Pamekasan dari daerah tertinggal mendapat perhatian banyak pihak. S ... selengkapnya

Daftar Newsletter

Tetap terkini dengan berita terbaru dari Muhammadiyah

Bacaan Sehari-hari

Dalam membangun demokrasi diperlukan pendidkan demokrasi. Pendidikan demokrasi hanya akan lahir dalam pendidikan yang demokratis. Oleh karena itu, demokratisasi pendidikan Indonesia merupakan keniscayaan.
[HM. Zamroni]
iklan