Selasa, 31 Maret 2020
Home/ Berita/ 19 Jam Berpuasa Bukan Halangan Bagi Warga Muhammadiyah Jerman

19 Jam Berpuasa Bukan Halangan Bagi Warga Muhammadiyah Jerman

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JERMAN -- Masyarakat muslim di berbagai belahan dunia saat ini sedang bergembira menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Pastinya dalam menjalankan ibadah tersebut masing-masing umat muslim di berbagai negara memiliki tantangan dan cerita tersendiri.

Seperti halnya yang terjadi di negara Jerman, yang memiliki waktu berpuasa cukup lama, yaitu kurang lebih 19 jam per harinya. Tantangan waktu berpuasa yang cukup panjang tersebut bukan halangan bagi masyarakat muslim yang ada di Jerman, khususnya warga Muhammadiyah yang berada di Jerman yang tergabung ke dalam Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jerman Raya.

Seperti diungkapkan oleh Adi Nur Cahyono selaku Koordinator Bidang Publikasi dan IT PCIM Jerman Raya ketika di hubungi redaksi website muhammadiyah.or.id pada Kamis (23/6) waktu Indonesia.

"Berpuasa selama 19 jam bagi PCIM Jerman Raya bukan halangan, karena puasa merupakan sebuah kewajiban bagi umat muslim. Melalui momentum bulan Ramadhan ini menjadikan PCIM Jerman Raya konsisten berdakwah untuk mempromosikan wajah Islam yang damai di Eropa, khususnya di Jerman," ungkap Adi.

Baca juga Nikmatnya Berbuka Ala Muhammadiyah Pakistan

Terkait dengan agenda Ramadhan, Adi menambahkan, bahwa beberapa agenda Ramadhan telah dirancang oleh PCIM Jerman Raya. "Kegiatan yang khusus di bulan Ramadhan ini yaitu Ifthar (buka puasa bersama), penerimaan Zakat Fitrah dan Fidyah, pengajian rutin, Grillen, serta kami juga menyelenggarakan pengajian online Uni-Eropa, atau biasa disingkat PENNA," tambahnya.

Sebagai wujud dakwah kader Muhammadiyah yang berada di Jerman, beberapa pengurus PCIM Jerman Raya akan menjadi khotib sholat ied di beberapa masjid di Jerman. "Beberapa pengurus ada yang diminta untuk menjadi khotib di beberapa masjid, kesempatan tersebut akan kami manfaatkan sebagai ajang dakwah kader Muhammadiyah," tambah Adi.

Sementara itu, yang menjadi perbedaan berpuasa di Jerman dan Indonesia yaitu  terkait dengan suasana. "Kalo di Indonesia bulan suci Ramadhan dimanfaatkan masyarakat untuk berjualan jajanan takjil, mengadakan acara ngabuburit, membangunkan sahur keliling kampung. Hal-hal seperti itu yang tidak kami temukan disini (Jerman), rindu rasanya dengan tradisi Ramadhan yang ada di Indonesia," ungkap Adi.

Untuk mengobati rasa rindu berpuasa di Indonesia, masyarakat muslim Indonesia yang ada di Jerman bekerjasama dengan PCIM Jerman Raya menyelenggarakan buka puasa bersama di Masjid Indonesia yang ada di Jerman. "Untuk mengobati rindu, kami menyelenggarakan buka bersama dengan menyuguhkan masakan-masakan Indonesia, setelah buka bersama kami melanjutkannya dengan shalat tarawih berjamaah," tutupnya. (mona)

 

Reporter : Adam Qodar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *