Senin, 27 Mei 2019
Home/ Berita/ Kine Club UMY Putar Film-Film Potret Indonesia Pasca Reformasi

Kine Club UMY Putar Film-Film Potret Indonesia Pasca Reformasi

 

Yogyakarta- Muhammadiyah Multimedia Kine Club Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (MM Kine Club UMY) bekerjasama dengan Komunitas Film Dokumenter (KFD) mengadakan Screening atau pemutaran film “Tales from Jakarta” di Ruang Sidang Hukum, Gedung E, Kampus Terpadu UMY, Rabu (23/11). Pemutaran film ini diadakan di UMY sebelum Festival Film Dokumeter (FFD) X 2011 yang akan diselenggarakan KFD di Taman Budaya Yogyakarta, 1-5 Desember mendatang.

Menurut Koordinator Panitia FFD, Franciscus Apriawan, Tales From Jakarta (2008) adalah kumpulan 5 film dokumenter yang digarap 5 sutradara berbeda yang semuanya menilik kehidupan masyarakat Indonesia pasca reformasi. Dalam Tales from Jakarta, digambarkan bagaimana masyarakat Indonesia, terutama Jakarta, yang hingga kini masih dibayangi kemiskinan, pengangguran, dan berbagai masalah ketidakadilan termasuk masalah perbedaan etnis meskipun reformasi sudah 10 tahun lamanya.

Tales from Jakarta terdiri dari Bot Parabot (Jastis Arimba), Babi Apa Ayam? (Sakti Parantean), Irama Hati (Steve Pillar S.), Makan Siang di Hari Jumat (Ariani Djalal), dan Musaifr (BW. Putra Negara).

Salah satu film yang diputar “Musafir”, menceritakan dua orang pemulung, Kamal dan Ida yang setiap hari mengumpulkan sampah-sampah yang dibuang orang-orang kaya di Jakarta bermodal gerobak dengan roda yang rusak dan sebuah tongkat. Mereka digambarkan sebagai rakyat miskin yang dalam kesehariannya hanya bergelut demi perut, sehingga tidak menghiraukan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar mereka. Bahkan di akhir cerita, diperlihatkan bagaimana mereka pun sangat sulit mengingat nama gubernur mereka sendiri, Fauzi Bowo saat berbincang di pintu masjid.

Film-film dokumenter lain juga merupakan potret kehidupan di Jakarta. Film “Babi Apa Ayam?” misalnya, menceritakan Novi, seorang bocah perempuan berusia 10 tahun keturunan Cina yang tinggal di daerah Glodok, pecinan kota Jakarta. Hari-hari Novi diisi dengan berkeliling menjual Bacang, bukan bersekolah.

Franciscus juga menjelaskan, kegiatan-kegiatan seperti ini memang dilakukan sebagai upaya pemberian ruang apresiasi dan sosialiasi terhadap bentuk film dokumenter yang semakin berkembang dengan berbagai macam gaya. Tales of Jakarta misalnya, sangat sedikit adegan-adegan yang ditampilkan dengan wawancara dan narasi. “Film Dokumenter tidak harus banyak dialog dan narasi. Adegan subjek yang natural juga dapat menyampaikan maksud,” jelasnya.

Sementara Wakil Ketua MM Kine Club UMY, Norman Perdana Lubis yag ditemui di sela-sela pemutaran sangat menyambut baik upaya sosialisasi Film-film dokumenter pendek seperti ini. Menurutnya, Film dokumenter dan berbagai bentuk film indie menjadi wadah aktulaisasi ide dan kreasi para pemuda yang unik dan menantang. “Pembuatan film-film seperti ini  membutuhkan proses yang lama dengan ide-ide yang kritis tentang sudut-sudut kehidupan. Ini yang terus digalakkan di UMY 14 tahun silam. Apalagi saat ini bermunculan komunitas-komunitas yang mengapresiasi film-film seperti ini”, tandas mahasiswa Hubungan Internasional UMY ini.

<

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *