Kamis, 17 Oktober 2019
Home/ Berita/ Tentang Darul ‘Ahdi wa Syahadah, Hajriyanto: Janji Adalah Hutang

Tentang Darul ‘Ahdi wa Syahadah, Hajriyanto: Janji Adalah Hutang

MUHAMMADIYAH.OR.ID, CIREBON --  Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hajriyanto Y. Thohari mengatakan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara yang terbentuk berdasarkan sebuah perjanjian yang melahirkan sebuah konsensus. Dalam Muktamar ke- 47 di Makassar, ujar Hajriyanto, lahir sebuah kesepakatan bahwa Negara Indonesia berdasar Pancasila adalah Darul ‘Ahdi wa Syahadah yang terlahir dari sebuah perjanjian yang akan dipegang teguh oleh Muhammadiyah.

“Perjanjian ini kita pegang teguh,” tegas Hajriyanto ketika menyampaikan Materi I dengan judul Negara Pancasila Sebagai Dar al-Ahd: Perspektif Sejarah dan Politik,  dalam Pengkajian Ramadhan 1437 H, di Convention Hall Universitas Muhammadiyah Cirebon, Cirebon, Senin (13/6).

Menurut Hajriyanto, Darul Ahdi wa Syahadah merupakan keputusan yang sangat penting dan fenomenal bagi Muhammadiyah. Negara Pancasila, ungkapnya, sebagai konsensus nasional sebagai Darul Ahdi yang artinya Negara Kesepakatan dan Darus Syahadah yaitu pembuktian dan kesaksian untuk menjadi Negara yang aman dan damai. 

“Dalam Islam perjanjian itu memegang peran yang sangat penting, sentral dan signifikan,” ujar Hajriyanto di hadapan 600-an pimpinan daerah dan wilayah Muhammadiyah se-Indonesia.

Hajriyanto pun mencontohkan pentingnya sebuah janji dalam Islam. Seperti perjanjian Hudaibiyah, Baitul Aqobah, dan sumpah setia pada nabi. Terdapat pula perjanjian sungguh-sungguh, kata Hazriyanto, yang disebut mitsaqon golidhon. Yaitu , lanjut Hajriyanto, perjanjian antara Allah dengan Rasul, perjanjian Allah dengan Bani Israil dan perjanjian pernikahan.

Hajriyanto memaparkan bahwa keseriusan sebuah janji Nampak pada sejarah perjanjian yang dilakukan secara sungguh-sungguh. Misalnya, kata Hajriyanto, perjanjian Allah dengan Bani Israil, hingga gunung Tursina disimpan di atas kepala kaum Bani Israil.

Hajriyanto mengatakan bahwa jika menggugat perjanjian itu berarti menggoncangkan Arsy. 

Dalam konteks itulah, kata Hajriyanto, Muktamar Muhammadiyah ke  47 menyimpulkan, NKRI berdasar Pancasila adalah Darul ‘Ahdi wa Syahadah. “Perjanjian ini kita pegang teguh,” katanya.

“Janji adalah hutang,” ujar Hajriyanto dengan wajah seriusnya.

Reporter: Ilma Aghniatunnisa

Redaktur: Ridlo Abdillah 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *