Minggu, 25 Agustus 2019
Home/ Berita/ Hari Ibu, PP NA Kampanyekan Anti Kekerasan Pada Perempuan dan Anak

Hari Ibu, PP NA Kampanyekan Anti Kekerasan Pada Perempuan dan Anak

Yogyakarta - Peringatan Hari Ibu tahun 2015 dimaknai Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PP NA) dengan menyelenggarakan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan anak pada hari Ahad, 27 Desember 2015 di Alun-alun Kidul Yogyakarta. Bentuk kampanye berupa pembagian stiker berisi pesan moral anti kekerasan dan pelayanan Posyandu Remaja Nasyiatul Aisyiyah (PASHMINA) yang terdiri dari 6 pos layanan, yaitu: layanan Indeks Massa Tubuh (IMT), pemeriksaan kadar HB, konseling kesehatan, konseling psikologi, makanan bergizi, dan pos Edu.

Ketua PP Nasyiatul Aisyiyah, Norma Sari, S.H, M.Hum., mengatakan Hari Ibu adalah sebuah momentum untuk mengingat kembali semangat kaum perempuan dan kontribusinya dalam perbaikan kualitas bangsa. Dulu, pada tahun 1928 para ibu berkumpul di Yogyakarta dalam Kongres Perempuan I untuk membahas peran perempuan dalam mengatasi masalah-masalah bangsa, terutama pada perempuan dan anak, seperti masalah peran perempuan dalam pembangunan bangsa, perdagangan anak dan kaum perempuan, pendidikan untuk anak perempuan, masalah gizi dan kesehatan ibu dan balita, pernikahan usia dini, poligami, dsb. Sekarang, pada tahun 2015 kader Nasyiatul Aisyiyah yang juga merupakan organisasi yang bergerak dalam bidang keperempuanan, berkumpul untuk menyerukan kembali semangat anti kekerasan pada perempuan dan anak. Aksi Nasyiatul Aisyiyah ini diharapkan dapat menggugah kembali kesadaran masyarakat untuk memerangi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang setiap tahunnya semakin tinggi.

Data dari Komnas Perempuan pada tahun 2014 menyebutkan angka kekerasan terhadap perempuan sebesar 293.220 kasus, meningkat dari tahun sebelumnya (2013) sebanyak 279.688 kasus. Kasus kekerasan terhadap perempuan paling banyak terjadi di ranah personal (keluarga dan relasi intim) dengan 59% kasus kekerasan berupa kekerasan terhadap istri, 21% kekerasan dalam pacaran (KDP), 10% kekerasan terhadap anak perempuan, 9% kasus kekerasan dalam relasi personal lain, 1% kekerasan dari mantan pacar, 0,7% kekerasan dari mantan suami, dan 0,4% kekerasan terhadap pekerja rumah tangga. Kekerasan fisik masih menjadi jenis tindak kekerasan tertinggi  di ranah personal, diikuti kekerasan psikis, kekerasan seksual, serta kekerasan ekonomi.

Untuk kekerasan pada anak, menurut catatan KPAI terjadi adanya peningkatan kasus yang signifikan setiap tahunnya. Tahun 2011 terjadi 2178 kasus, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, 2014 ada 5066 kasus. Dari keseluruhan kasus tersebut, kasus tertinggi adalah kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH), diikuti kasus pengasuhan, kasus pendidikan, kasus kesehatan dan napza, serta kasus pornografi dan cybercrime. Anak bisa menjadi korban ataupun pelaku kekerasan dengan kasus kekerasan di lingkungan keluarga menjadi kasus tertinggi, diikuti kekerasan di lingkungan sekolah, kemudian kekerasan di lingkungan masyarakat. Sebagian besar anak yang menjadi pelaku kekerasan (78,3%) adalah mereka yang menjadi korban kekerasan sebelumnya atau pernah melihat kekerasan yang dilakukan oleh anak lain dan menirunya. Hal ini merupakan fenomena gunung es yang patut mendapat perhatian bersama.

Dengan semakin tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi perempuan muda Muhammadiyah dengan tagline gerakan RAMAH perempuan dan anak dan mendasarkan gerakannya pada cita-cita kemanusiaan, berusaha berkontribusi aktif dalam pencegahan maupun penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Selain melakukan aksi-aksi kampanye anti kekerasan, Nasyiatul Aisyiyah telah mempunyai Family Learning Centre (FLC). Kasus kekerasan di keluarga banyak terjadi pada masyarakat dengan nilai-nilai keluarga yang mulai renggang. FLC merupakan pusat pendidikan keluarga, untuk mengembalikan fungsi keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat yang memiliki peran strategis sebagai penentu kemajuan peradaban suatu bangsa. Sebagai sarana penanganan kasus-kasus kekerasan, Nasyiatul Aisyiyah telah mempunyai jaringan paralegal Nasyiah dengan berbasis komunitas. Paralegal-paralegal Nasyiah ini bertugas untuk membantu perempuan dan anak di komunitasnya yang mengalami tindak kekerasan, baik itu kekerasan fisik, psikis, sosial, maupun ekonomi.

 

Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah

Norma Sari, S.H., M.Hum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *