Senin, 27 Mei 2019
Home/ Berita/ Muhammadiyah Harus Siapkan Kader Ulama, Politik dan Profesional

Muhammadiyah Harus Siapkan Kader Ulama, Politik dan Profesional

Medan- Kekuatan Muhammasiyah hingga bertahan lebih dari satu abad antara lan karena kualitas sumberdaya manusianya, dalam hal ini secara khusus para kadernya. Kader Muhammadiyah sebagai anak panah gerakan merupakan pelaku aktif dan terseleksi yang menentukan kemajuan Muhammadiyah. Maju atau mundurnya Muhammadiyah di tengah persaingan dengan gerakan dan kekuatan lain tergantung pada kualitas dan peran kadernya di berbagai lapangan kehidupan.

Demikian salah satu isi makalah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir pada Seminar Pra Muktamar ke 47 dengan tema "Transformasi Ideologi Muhammadiyah di tengah Dinamika Umat dan Bangsa" yang dilaksanakan di Aula Pascarsarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Selasa (28/4). Haedar mengungkapkan, Dalam beberapa hal keberadaan dan peran kader ulama kader profesional, dan kader politik Muhammadiyah yang selama ini relatif kuat dan menempati banyak lini struktur kehidupan baik di pemerintahan maupun dalam lapangan lainnya mulai digeser atau tersaingi oleh kader dari kalangan lain.

Di antara kekuatan yang diharapkan dapat berperan penting dalam gerakan Muhammadiyah ke depan ialah kader ulama Muhammadiyah, khususnya ulama tarjih. Bahwa perkembangan kehidupan saat ini semakin hari kian kompleks dan multidimensi, yang memerlukan pandangan-pandangan baru dan multiperspektif. Banyak persoalan keagamaan yang berkembang bersentuhan dengan persoalan-persoalan lain yang saling terkait seperti ekonomi, politik, budaya, kesehatan, dan aspek-aspek kehidupan lain yang memerlukan perspektif ilmu pengetahuan lain yang melintasi Dirasah Islamiyah yangbersifat klasik

Sementara itu untuk kader politik, Muhammadiyah meskipun tidak bergerak di lapangan politik praktis tetap memerlukan topangan politik untuk kepentingan dakwah dan membangun bangsa. Politik secara umum ditempuh melalui dua jalur. Pertama politik praktis (power strugle, real politics) dilakukan oleh partai politik yang berdiri di luar Muhammadiyah. Jakur  kedua politik kebangsaan (politik moral, high politics) dilakukan oleh Muhammadiyah sendiri selaku kelompok kepentingan (interest group). “Kedua-duanya memerlukan kader politik yang berkemampuan sekaligus berakhlak utama,” jelasnya.

Pintu masuk ke pemerintahan maupun ke ranah kehidupan lainnya di era modern saat ini tidak kalah penting melalui jalur profesional. Jatah kaum profesional di Kabinet kecenderungannya kini dan ke depan malah makin menguat ke kalangan profesional dari berbagai bidang keahlian. Namun boleh jadi para kader atau anggota Muhammadiyah yang tersebar saat ini  hadir secara alamiah dan tidak "by design". Kini dan ke depan penting untuk lebih direncanakan dan diprogramkan secara tersistem. “Memang untuk menjadi pemimpin atau kader politik dan profesi tidak sepenuhnya mengandalkan pendidikan dan pelatihan, terdapat unsur bakat dan kemampuan dasar dengan dukungan pengalaman. Tetapi fakta juga menunjukkan jika segala hal dipersiapkan secara terencana dan terprogram maka segala sesuatu jauh lebih baik dan berhasil,” tegasnya. (mac)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *