cool hit counter

Persyarikatan Muhammadiyah

gambar
Selasa, 30 Aug 2011 | 09:48 WIB |
Dibaca: 13921

Din: Ketetapan Muhammadiyah Mengenai 1 Syawwal Bukan Mengada-ada

 

Yogyakarta- Ketetapan Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengenai 1 Syawal 1432H yang bertepatan dengan 30 Agustus 2011 merupakan murni karena pertimbangan keagamaan dan bukan hal yang mengada-ada.

Demikian disampaikan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin seusai memberikan Khotbah Idul Fitri di Alun-alun Keraton kota Yogyakarta, selasa (30/08/2011), “Karena ketetapan Muhammadiyah memang murni atas pertimabangan keagamaan, seharusnya Muhammadiyah diayomi pemerintah,” tegasnya. Din mengungkapkan, Sesuai Undang-Undang Dasar 1945 pasal 29 mengenai jaminan Negara dalam memeluk agama dan beribadat, tidak seharusnya pemerintah menetapkan mengenai 1 Syawwal, tetapi mempunyai hak penuh untuk menetapkan libur Idul Fitri. Lebih lanjut menurut Din, saat ini hampir semua negara-negara Islam di Timur Tengah, afrika, beberapa negara ASEAN, bahkan negara barat telah menetapkan 1 Syawwal 1432 H, jatuh pada 30 Agustus 2011.  

Dalam Khotbah Idul Fitri di Alun-Akun Kota Yogyakarta, yang dihadiri puluhan ribu jamaah, Din menegaskan mengenai pentingnya umat Islam untuk menyeimbangkan antara jumlah dan kualitas manusianya. Kondisi bangsa yang masih berusaha bangkit, sudah seharusnya apa yang menjadi pelajaran selama Ramadhan dapat diaplikasikan pada bulan-bulan sesudahnya.


Tags: sholat Ied
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori: pp muhammadiyah

Pilih Artikel


Apakah artikel tersebut menarik bagi saudara?
Sangat Menarik Menarik Cukup Menarik Kurang Menarik

37 Komentar


Sofyan Ridwan
30-08-2011 15:05:22
Muhammadiyah, tetap istiqamah dalam melaksanakan keyakinan. Penetapan 1 Syawwal 1432 hijriyah bertepatan dengan tanggal 30 Agustus 2011, alhamdulillah diikuti oleh semua keluarga besar Persyarkatan. Melaksanakan keyakinan agama adalah hak warganegara, dan tidak harus tunduk pada kemauan ulul amri
danden
30-08-2011 15:20:52
buat tahun depan lebih baik muhammadiah gak kirim utusan buat menghadiri sidang isbat....percumah karena selama ini kita tahu kementrian agama yang megangnya banyak dari mana.....
wahyu
30-08-2011 16:21:20
Perasaan yg sama ketika mendengar di TV bahwa yg telah melihat hilal harus ditolak. Itu(keputusan menolak) saya rasa sangat tidak bijaksana sekali dan meninggalkan tanda tanya besar bagi saya. Seharusnya didengar dahulu dan dipertimbangkan dg masakmasak laporan tersebut, bukan langsung divonis di dalam sidang isbat. Alhamdulillah saya dan keluarga harus memutuskan sendiri 1 syawal mengikuti Muhammadiah atas pertimbangan: keanehan dalam sidang isbat dan penghormatan kepada yg telah melihat hilal walaupun ditolak pemerintah. Maju terus Muhammadiah!
Rahmat Darmawan
31-08-2011 06:28:52
saya setuju dgn bpk DIN Syamsuddin. smw berdasarkan ketetapan agama yang telah di sunnahkan oleh NABI MUHAMMAD SAW, jgn lah teknologi mengalahkan sumber dari SUNNAH HADITS RASULULLAH SAW. MAJU TERUS Muhammadiyah, saya rahmat darmawan dari org awam.
Priyatna
31-08-2011 20:50:09
Assalamualaikum Wr.Wb. Kepada yth pengurus Muhammadiyah yang saya hormati Saya ingin bertanya, kenapa Muhammadiyah tidak mau ikut ketentuan Pemerintah, sehingga Lebaran kali ini kita kembali berbeda. Menurut hemat saya perbedaan yang disampaikan oleh Muhammadiyah bukan lah rahmat, tetapi memberikan image yang sangat merugikan nama Islam itu sendiri, padahal Allah telah menerangkan bahwa kita harus mengikuti aturan Allah , rasulnya dan wa ulil amri minkum,. banyak masyarakat yang kecewa akan adanya perbedaan ini, padahal jika Muhammadiyah mau bersatu, bersama dalam Idul Fitri selain memberikan kebahagiaan juga merupakan salah satu syiar Islam. Harapan saya kedepan sudilah kiranya Muhammadiyah mau duduk bareng dengan seluruh ormas Islam lainnya dalam menegakkan kebersamaan, karena Muhammadiyah merupakan anggota tubuh kami yang satu. Demikian pertanyaan yang dapat saya sampaikan mohon kiranya tanggapan nya Salam Priyatna 081905054137 Mohon hal ini juga disampaikan kepada Bpk. Din Syamsudin terima kasih ya
santoso
31-08-2011 22:44:01
Saya lihat posisi hilal malam ini di langit dari rumah saya, lalu saya lihat gambar posisi fase bulan (realtime) di sisi kanan blog Profesor Thomas, maaf, apa keputusan Kemenag kemarin sudah keliru? Dalam hati saya sekarang kok tak bisa pungkiri, yang berlebaran hari Selasa sepertinya lebih menepati kebenaran. Ya Allah, ampunilah hambahambaMu yang telah berbuat salah dan khilaf, tak mendengar suarasuara minoritas yang sudah bersaksi atas kebenaran tandatandaMu, hingga banyak orang harus terjerumus dalam langkah amaliah yang tidak tepat.
Ali Mahfud
01-09-2011 00:41:21
Dalam tulisannya yang berjudul Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab. Thomas Djamaluddin menyebut Muhammadiyah JUMUD dan Menggunakan Kriteria kalender yang usang. Tulisan yang provokatif tersebut persis sama dengan apa yang disampaikannya dalam sidang Isbat. Muhammadiyah telah dilecehkan oleh seorang THOMAS DJAMALUDDIN.
Hasanudin
01-09-2011 22:56:50
coba untuk ditelaah, smoga bermanfaat dan semoga di kemudian hari bisa bersatu umat muslim di Indonesia http:catatanr10.blogspot.com201109ternyata1syawaladalah31agustus.html
rudy hadiyanto
02-09-2011 09:21:26
Assalamualaikum. Berikut tulisan seorang ustadz ttg perbedaan penentuan ied. Semoga bermanfaat: Lebaran telah diambang pintu. Sebagaimana tahuntahun sebelumnya, tahun ini diprediksi juga akan ada perbedaan waktu hari raya idul fitri. Masyarakat awam banyak yang bingung, sebagian ikutikutan, sebagian tidak peduli, tapi sebagian ikut berpolemik masalah hal ini. Bahkan ada yang baru baca satu dua artikel tentang hisab rukyat di internet, sudah gagah berani membantah dan mengkritisi pendapat profesor di bidang Astronomi yang sudah bertahuntahun mendampingi proses hisab rukyat di Indonesia. Potensi perbedaan yang ada berkutat antara tanggal 30 Agustus dan 31 Agustus saja, dengan ragam metode yang digunakan. Muhammadiyah misalnya dengan metode hisab dan kriteria wujudul hilal, jauhjauh hari telah mengumumkan Idul Fitri 1432 H jatuh pada Selasa 30 Agustus. Ormas Persis menyusul kemudian, dengan metode hisab tapi dengan kriteria imkanurrukyah, mereka mengumumkan Idul Fitri 1 Syawal jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011. NU yang memiliki metode rukyatul hilal versi lokal (ikhtilaful mathla’), tentu menunggu Senin malam 29 Agustus untuk memutuskan kapan berhari raya, meskipun di dalam NU juga banyak pakar hisab yang siap ‘legowo’ menerima kriteria imkanurrukyat. Beberapa ormas seperti HTI yang biasa mengikuti rukyah global di Saudi, juga akan menunggu keputusan ulama Saudi Senin malam inysa Allah. Meskipun jika dilihat secara penghitungan (hisaB), baik di Indonesia maupun Saudi – maka hilal kemungkinan besar tidak akan terlihat sehingga Ramadhan akan digenapkan menjadi 30 hari, dan lebaran pada 31 Agustus 2011. Lalu bagaimana dengan pemerintah ? Sejak awal pemerintah melalui Kemenag dan MUI akan menyelenggarakan sidang itsbat pada akhir Ramadhan, untuk menentukan 1 syawal 1432. Metode yang digunakan pemerintah adalah menggabungkan antara hisab dan rukyatul hilal. Maka berkaca dari pengalaman sebelumnya, hisab dan serta hasil rukyat (yang diprediksi tidak akan terlihat), hampir bisa dipastikan keputusan pemerintah 1 Syawal 1432 akan jatuh pada 31 Agustus 2011. Sebagai orang awam yang tidak tahu sepenuhnya tetek bengek soal astronomi, dan juga dalildalil mendalam seputar hisab dan rukyat, maka saya insya Allah akan mengikuti pemerintah. Tulisan ini dibuat tanpa bermaksud untuk masuk dalam polemik pembahasan dan metode yang ada, namun sekedar memandang sisi luar dan maslahat dan manfaat yang ada saat kita mengikuti berlebaran bersama pemerintah. Pertama : Kewajiban Mengikuti Pemerintah dalam Hal yang bukan Maksiat Karena saya orang awam, bukan ahli ijtihad, maka dalam masalah semacam ini tentu layak saya menyerahkan urusan ini kepada yang berwenang memutuskannya khususnya pemerintah. Dalam hal ini saya berpegangan kepada Fatwa MUI no 2 tahun 2004, pasal kedua yang menyebutkan : Seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Dalildalil syar’i tentang kewajiban taat dan mengikuti ulul amri banyak tersebar dalam Al Quran dan Sunnah. Sebagai orang awam, wajar saya untuk berpegangan dengan Fatwa MUI. Perbedaan pendapat dalam fikih memang sesuatu yang lumrah dan wajar terjadi. Namun dalam masalah yang penting dan menyangkut kepentingan orang banyak, maka keputusan pemerintah semestinya ditaati. Apalagi jika hal tersebut berpeluang mengundang permasalahan dan perselisihan, maka tepatlah kaidah fikih yang menyebutkan : “Keputusan pemerintah itu mengikat (wajib dipatuhi) dan menghilangkan silang pendapat”. Realita hari ini, saya menyayangkan adanya masjidmasjid yang sama sekali tidak memiliki afiliasi khusus pada salah satu ormas Islam yang ada, hanya sekedar masjid kampung dan masjid warga biasa, lalu takmir masjid bermusyawarah menentukan idul fitri yang tidak sejalan dengan pemerintah. Saya rasa mereka tidak memiliki alasan khusus untuk “berijtihad” dalam permasalahan semacam ini Kedua : Untuk Merayakan Bersamasama dengan Penuh Ukhuwah dan Meriah Tidak dipungkiri lagi perbedaan Hari Raya sedikit banyak akan mengurangi syiar ukhuwah dan persatuan umat Islam. Sementara secara dalil dan filosofisnya, idul fitri adalah hari Raya kaum muslimin yang semestinya memperlihatkan ukhuwah dan persatuan yang luar biasa. Berhari raya bersama banyak orang adalah salah satu anjuran syariah kita, bukan dengan sedikit orang apalagi segelintir orang. Riwayat hadist dari Abu Hurairah menyebutkan, Rasulullah SAW bersabda : “ Puasa adalah hari dimana kalian (orangorang) berpuasa, dan hari raya berbuka (idul fitrired) adalah hari dimana kalian (orangorang) berbuka (dan berhari raya )“. (HR Tirmidzi dishahikan oleh Albani). Sebagian ulama menafsirkan hadits di atas dengan kesimpulan: “ bahwa berbuka dan berhari raya itu (haruslah) bersamasama jama’ah dan sebagian besar (orangorang) kaum muslimin. Selain itu, beberapa hadits seputar Idul Fitri mengisyaratkan bahwa lebaran adalah ibadah yang merupakan syiar dan simbol, dimana kebersamaan dan ukhuwah menjadi ciri khususnya. Lihat saja bagaimana tentang anjuran sholat di Lapangan yang besar, juga anjuran untuk mengajak para wanita bahkan sekalipun mereka dalam kondisi haid ! Ini menunjukkan salah satu semangat dalam beridul fitri adalah mengoptimalkan kebersamaan. Karenanya, jika ada perbedaan dalam penentuan idul fitri, maka yang paling banyak diikuti dan bisa menunjukkan syiar dan ukhuwah Islam itulah yang layak untuk diikuti, dalam hal ini bisa diwakili dengan keputusan pemerintah yang biasanya diikuti sebagian besar kaum muslimin di Indonesia, Akhirnya, tentu kita semua bersepakat tentang pentingnya menjaga ukhuwah umat dan menghindarkan dari segala potensi perselisihan dan perpecahan. Dan sungguh menakjubkan, para ulama kita sejak awal siap untuk ‘berlegowo’ dalam arti tidak memaksakan pendapatnya saat dihadapkan dengan kemungkinan perselisihan dan perpecahan umat. Dan hal ini pun mereka lakukan dalam masalah ibadah ritual yang mereka yakini sepenuhnya, dan diyakini banyak orang tidak bisa diganggu gugat. Saya ambil contoh sederhana, meskipun Imam Ahmad berpendapat bahwa membaca qunut ketika shalat shubuh itu bid’ah. Namun beliau jelas mengatakan: ‘Jika seseorang shalat bermakmum pada imam yang membaca qunut maka hendaknya ia mengikuti dan mengamini doanya’. Subhanallah, tentu statemen beliau tersebut ditujukan dalam rangka persatuan, dan mengaitkan hati dan menghilangkan kebencian diantara kaum muslimin Sebaliknya, Imam syafii berpendapat bahwa membaca Qunut hukumnya sunah muakkad dan beliau selalu membacanya tiap shalat. Namun suatu ketika beliau menjadi imam shalat subuh di sebuah masjid dekat makam Abu Hanifah, lalu tidak membaca Qunut. Selesai shalat, seorang bertanya apa gerangan yang penyebabkan beliau tidak membaca qunut? Beliau menjawab “ Mana mungkin saya melakukan amalan yang tidak sejalan dengan pendapat Abu Hanifah, sedangkan saya berada dekat dengan (kubur)nya. Inilah bentuk legowo dan toleransi para ulama terdahulu bahkan dalam hal yang terkait sebagai ibadah. Nah, bagaimana dengan ulama kita dari ormasormas yang ada ? Siapkah untuk berlegowo dalam masalah penentuan hari raya demi mewujudkan persatuan umat dan syiar hari kemenangan yang indah ?. Legowo disini juga dalam arti siap duduk kembali, saling membahas hal ini secara objektif dan ilmiah agar menemukan kriteriakriteria yang disepakati, sebagaimana sering digaungkan oleh Profesor Thomas Djamaluddin dari LAPAN tentang harapan penyatuan kalender umat Islam Indonesia secara khusus. Saya tinggal lima tahun di Sudan, perbedaan hari raya hanya ada di kitabkitab fiqh semata, secara realita tidak ada. Banyak ulama dan orang faqih di Sudan, namun mereka semua berlegowo dalam masalah ini, menyerahkannya hanya pada pemerintah saja. Wallahu a’lam (Ust. Hatta Syamsudin, Lc., Ikadi Solo)
rudy hadiyanto
02-09-2011 09:22:11
Assalamualaikum. Berikut tulisan seorang ustadz ttg perbedaan penentuan ied. Semoga bermanfaat: Lebaran telah diambang pintu. Sebagaimana tahuntahun sebelumnya, tahun ini diprediksi juga akan ada perbedaan waktu hari raya idul fitri. Masyarakat awam banyak yang bingung, sebagian ikutikutan, sebagian tidak peduli, tapi sebagian ikut berpolemik masalah hal ini. Bahkan ada yang baru baca satu dua artikel tentang hisab rukyat di internet, sudah gagah berani membantah dan mengkritisi pendapat profesor di bidang Astronomi yang sudah bertahuntahun mendampingi proses hisab rukyat di Indonesia. Potensi perbedaan yang ada berkutat antara tanggal 30 Agustus dan 31 Agustus saja, dengan ragam metode yang digunakan. Muhammadiyah misalnya dengan metode hisab dan kriteria wujudul hilal, jauhjauh hari telah mengumumkan Idul Fitri 1432 H jatuh pada Selasa 30 Agustus. Ormas Persis menyusul kemudian, dengan metode hisab tapi dengan kriteria imkanurrukyah, mereka mengumumkan Idul Fitri 1 Syawal jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011. NU yang memiliki metode rukyatul hilal versi lokal (ikhtilaful mathla’), tentu menunggu Senin malam 29 Agustus untuk memutuskan kapan berhari raya, meskipun di dalam NU juga banyak pakar hisab yang siap ‘legowo’ menerima kriteria imkanurrukyat. Beberapa ormas seperti HTI yang biasa mengikuti rukyah global di Saudi, juga akan menunggu keputusan ulama Saudi Senin malam inysa Allah. Meskipun jika dilihat secara penghitungan (hisaB), baik di Indonesia maupun Saudi – maka hilal kemungkinan besar tidak akan terlihat sehingga Ramadhan akan digenapkan menjadi 30 hari, dan lebaran pada 31 Agustus 2011. Lalu bagaimana dengan pemerintah ? Sejak awal pemerintah melalui Kemenag dan MUI akan menyelenggarakan sidang itsbat pada akhir Ramadhan, untuk menentukan 1 syawal 1432. Metode yang digunakan pemerintah adalah menggabungkan antara hisab dan rukyatul hilal. Maka berkaca dari pengalaman sebelumnya, hisab dan serta hasil rukyat (yang diprediksi tidak akan terlihat), hampir bisa dipastikan keputusan pemerintah 1 Syawal 1432 akan jatuh pada 31 Agustus 2011. Sebagai orang awam yang tidak tahu sepenuhnya tetek bengek soal astronomi, dan juga dalildalil mendalam seputar hisab dan rukyat, maka saya insya Allah akan mengikuti pemerintah. Tulisan ini dibuat tanpa bermaksud untuk masuk dalam polemik pembahasan dan metode yang ada, namun sekedar memandang sisi luar dan maslahat dan manfaat yang ada saat kita mengikuti berlebaran bersama pemerintah. Pertama : Kewajiban Mengikuti Pemerintah dalam Hal yang bukan Maksiat Karena saya orang awam, bukan ahli ijtihad, maka dalam masalah semacam ini tentu layak saya menyerahkan urusan ini kepada yang berwenang memutuskannya khususnya pemerintah. Dalam hal ini saya berpegangan kepada Fatwa MUI no 2 tahun 2004, pasal kedua yang menyebutkan : Seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Dalildalil syar’i tentang kewajiban taat dan mengikuti ulul amri banyak tersebar dalam Al Quran dan Sunnah. Sebagai orang awam, wajar saya untuk berpegangan dengan Fatwa MUI. Perbedaan pendapat dalam fikih memang sesuatu yang lumrah dan wajar terjadi. Namun dalam masalah yang penting dan menyangkut kepentingan orang banyak, maka keputusan pemerintah semestinya ditaati. Apalagi jika hal tersebut berpeluang mengundang permasalahan dan perselisihan, maka tepatlah kaidah fikih yang menyebutkan : “Keputusan pemerintah itu mengikat (wajib dipatuhi) dan menghilangkan silang pendapat”. Realita hari ini, saya menyayangkan adanya masjidmasjid yang sama sekali tidak memiliki afiliasi khusus pada salah satu ormas Islam yang ada, hanya sekedar masjid kampung dan masjid warga biasa, lalu takmir masjid bermusyawarah menentukan idul fitri yang tidak sejalan dengan pemerintah. Saya rasa mereka tidak memiliki alasan khusus untuk “berijtihad” dalam permasalahan semacam ini Kedua : Untuk Merayakan Bersamasama dengan Penuh Ukhuwah dan Meriah Tidak dipungkiri lagi perbedaan Hari Raya sedikit banyak akan mengurangi syiar ukhuwah dan persatuan umat Islam. Sementara secara dalil dan filosofisnya, idul fitri adalah hari Raya kaum muslimin yang semestinya memperlihatkan ukhuwah dan persatuan yang luar biasa. Berhari raya bersama banyak orang adalah salah satu anjuran syariah kita, bukan dengan sedikit orang apalagi segelintir orang. Riwayat hadist dari Abu Hurairah menyebutkan, Rasulullah SAW bersabda : “ Puasa adalah hari dimana kalian (orangorang) berpuasa, dan hari raya berbuka (idul fitrired) adalah hari dimana kalian (orangorang) berbuka (dan berhari raya )“. (HR Tirmidzi dishahikan oleh Albani). Sebagian ulama menafsirkan hadits di atas dengan kesimpulan: “ bahwa berbuka dan berhari raya itu (haruslah) bersamasama jama’ah dan sebagian besar (orangorang) kaum muslimin. Selain itu, beberapa hadits seputar Idul Fitri mengisyaratkan bahwa lebaran adalah ibadah yang merupakan syiar dan simbol, dimana kebersamaan dan ukhuwah menjadi ciri khususnya. Lihat saja bagaimana tentang anjuran sholat di Lapangan yang besar, juga anjuran untuk mengajak para wanita bahkan sekalipun mereka dalam kondisi haid ! Ini menunjukkan salah satu semangat dalam beridul fitri adalah mengoptimalkan kebersamaan. Karenanya, jika ada perbedaan dalam penentuan idul fitri, maka yang paling banyak diikuti dan bisa menunjukkan syiar dan ukhuwah Islam itulah yang layak untuk diikuti, dalam hal ini bisa diwakili dengan keputusan pemerintah yang biasanya diikuti sebagian besar kaum muslimin di Indonesia, Akhirnya, tentu kita semua bersepakat tentang pentingnya menjaga ukhuwah umat dan menghindarkan dari segala potensi perselisihan dan perpecahan. Dan sungguh menakjubkan, para ulama kita sejak awal siap untuk ‘berlegowo’ dalam arti tidak memaksakan pendapatnya saat dihadapkan dengan kemungkinan perselisihan dan perpecahan umat. Dan hal ini pun mereka lakukan dalam masalah ibadah ritual yang mereka yakini sepenuhnya, dan diyakini banyak orang tidak bisa diganggu gugat. Saya ambil contoh sederhana, meskipun Imam Ahmad berpendapat bahwa membaca qunut ketika shalat shubuh itu bid’ah. Namun beliau jelas mengatakan: ‘Jika seseorang shalat bermakmum pada imam yang membaca qunut maka hendaknya ia mengikuti dan mengamini doanya’. Subhanallah, tentu statemen beliau tersebut ditujukan dalam rangka persatuan, dan mengaitkan hati dan menghilangkan kebencian diantara kaum muslimin Sebaliknya, Imam syafii berpendapat bahwa membaca Qunut hukumnya sunah muakkad dan beliau selalu membacanya tiap shalat. Namun suatu ketika beliau menjadi imam shalat subuh di sebuah masjid dekat makam Abu Hanifah, lalu tidak membaca Qunut. Selesai shalat, seorang bertanya apa gerangan yang penyebabkan beliau tidak membaca qunut? Beliau menjawab “ Mana mungkin saya melakukan amalan yang tidak sejalan dengan pendapat Abu Hanifah, sedangkan saya berada dekat dengan (kubur)nya. Inilah bentuk legowo dan toleransi para ulama terdahulu bahkan dalam hal yang terkait sebagai ibadah. Nah, bagaimana dengan ulama kita dari ormasormas yang ada ? Siapkah untuk berlegowo dalam masalah penentuan hari raya demi mewujudkan persatuan umat dan syiar hari kemenangan yang indah ?. Legowo disini juga dalam arti siap duduk kembali, saling membahas hal ini secara objektif dan ilmiah agar menemukan kriteriakriteria yang disepakati, sebagaimana sering digaungkan oleh Profesor Thomas Djamaluddin dari LAPAN tentang harapan penyatuan kalender umat Islam Indonesia secara khusus. Saya tinggal lima tahun di Sudan, perbedaan hari raya hanya ada di kitabkitab fiqh semata, secara realita tidak ada. Banyak ulama dan orang faqih di Sudan, namun mereka semua berlegowo dalam masalah ini, menyerahkannya hanya pada pemerintah saja. Wallahu a’lam (Ust. Hatta Syamsudin, Lc., Ikadi Solo)
Suyono Ngrambe
02-09-2011 09:28:13
Dengan metode Hisab kita dapat mempredisi dan membuat rencana rencana.Perlu pemahaman kepada Generasi Muda tentang metode hisab ini. Agar tidak terjadi Muhammadiyah dan ormas yang senada lebaran hari ini, sedangkan lainnya besok. Seharunya yang muncul pernyataan : Menurut metode hisab demikian sedangkan rukyat demikian. itu donk
ali mashar
02-09-2011 10:33:55
kenapa sih ormas muhammadiyah setiap penentuan putusan 1 syawal selalu mendahului pemerintah dan ormas lain, kalau sudah menetapkan tanggal kenapa muhammadiyah mesti ikut sidang Isbat. nanti kalau pendapatnya tak ada yang mendukung dalam sidang Isbat ngomongnya merasa di dzolimi, tolong dong introspeksi diri dan jangan terlalu keras kepala
nonong
02-09-2011 13:13:02
Bapak..... Kami adalah pengikut Muhammadiyah... tapi kami malu saat kami melihat komentar pengurus diutus ke sidang istbat, beliau tidak memberikan alasan yang jelas, malah saat ditentang mengenai surat yasin beliau tidak kompentar apa2. Saya jadi ragu, apakah masih ada pengurus Muhammadiyah yang Alim Allamah... atau Muhammadiyah hanya jadi pengikut negara2 lain, atau Muhammadiyah hanya canggih di dunia maya... maaf pak... di daerah kami (jawa timur) sangat sedikit warga Muhammadiyah, kami merindukan kedamaian dan kebersamaan, kami tidak ingin dikatakan Ormas Islam yang tidak mengikuti Umaro padahal Umaro sudah bekerjasama dengan Ulama
jaya
02-09-2011 13:15:58
kalau komentar yang tidak membela Muhammadiyah tidak dimuat berarti Muhammadiya tidak adil, berarti Muhammadiyah tidak bisa memberikan pelajaran yang baik buat Ummat, sementara umat dibawah kebingungan
Anas Seff
02-09-2011 21:45:52
Artikel tersebut mempertegas komitmen Muhammadiyah untuk tetap mempertahankan metode wujudul hilal sebagai metode yang selama ini digunakan oleh Muhammadiyah dalam penetapan awal bulan qomariah dan ternyata metode tersebut selama telah akurat dibandingkan dengan metode rukyatul hilal yang tidak memberikan kepastian dalam penetapan awal bulan qomariah
Tuko Chaeron,S.Pd
03-09-2011 13:47:17
Saya bangga sebagai warga muhammadiyah,karena Muhammadiyah mampu mengedepankan agama dalam segala keputusannya, termasuk dalam menetapkan 1 syawwal dengan hisab wujudul hilal yang telah dijamin kebenarannya dalam Alquran QS Yunus ayat 5 sebagai ilmu yang disyariatkan untuk umat manusia dari Allah SWT, agar manusia dapat menerbitkan dan menghitung kalender penanggalan yang sangat dibutuhkan manusia diseluruh belahan bumi dengan kompak dan serempak disesuaikan wilayah geografisnya, dan metode inilah yang dapat menjamin persatuan umat Islam dalam suatu wilayah, karena ilmu ini diturunkan Allah dengan kebenaran. Tetaplah Muhammadiyah dalam komitmennya dalam menentukan 1 syawwal dengan hisab wujudul hilal, jangan pernah mundur hanya karena tuntutan nafsu ,politik dan kekuasaan.
Tuko Chaeron,S.Pd
03-09-2011 13:59:58
Saya bangga sebagai warga muhammadiyah, karena Muhammadiyah mendahulukan pertimbangan syariat agama dalam pengambilan keputusan dan ketetapannya, termasuk dalam hal penetapan 1 syawwal tahun ini jatuh pada 30 Agustuas 2011 dengan metode hisab pendekatan wujudul hilal sebagai satusatunya metode yang dapat menyatukan umat, karena lebih minim tingkat kesalahan dan perbedaannya jika sepakat metode ini dipakai seluruh umat Islam di Indonesia. Istiqomahlah Muhammadiyah dengan Ilmu Allah ini, yang telah dijamin kebenarannya dengan dalil Alquran surat Yunus ayat 5, jangan pernah mundur dan kalah oleh desakan politik dan pengaruh kekuasaan, karena kebenaran itu milik Allah bukan milik pemerintah,sebab Allah tak pernah salah sedang pemerintah bisa saja bersalah.
Mustafa Umar
05-09-2011 15:06:09
Ayo Pak Din, anda harus jadi pelopor agar di Indonesia bisa terjadi kesepakatan dalam penetapan awal bulan hijriah. Harus terjadi dialog yang intens agar terjadi kesamaan kriteria. Perbedaan yang ada bisa membuat ummat bingung, bahkan bisa mengarah kepada ketidakpercayaan terhadap ormas Islam atau Pemerintah. Perlu kerja ekstra keras agar terjadi kesamaan kriteria. Semoga Allah meridhai.
Gigis Mohamad Afnan
06-09-2011 07:14:12
Assalamualaikum, setiap kali menentukan 1 Syawal selalu saja terjadi perbedaan di Indonesia. Sementara Kiblat Umat Islam negara Indonesia adalah Masjidil Haram, lebih baik kita mengikuti Penetapan 1 Syawal sesuai dengan Masjidil Haram, kalau Masjidil Haram pelaksanaan Sholat Iedul Fithri pada hari selasa 30 Agustus 2011, maka didunia yang memiliki tanggal 30 Agustus 2011 ya harus melaksanakan Sholat Iedul Fithri, perbedaan waktu tentunya pasti terjadi meskipun hanya selisih Jam, dengan demikian wilayah yang letaknya disebelah timur Masjidil Haram sudah pasti akan mendahului Masjidil Haram, sementara yang terletak di sebelah baratnya akan melaksanakan Sholat Iedul Fthri setelah Sholat Iedul Fthri di Masjidil Haram. Bukankah Kalender International memiliki garis Batas Tanggal International di 180 derajat BTBB yang letaknya di sekitar Samudera Pasifik ! Terima kasih. Wassalam !
EDI HS
06-09-2011 09:04:44
Ditengah budaya koruptif saat ini, dimana kejujuran menjadi barang langka, seiring menipisnya kepercayaan masyarakat terhadap lembagalembaga yang ada, bahkan KPK pun sudah mulai didegradasi oleh masyarakat tingkat kepercayaannya, dan sementara itu terkadang sumpah hanya dijadikan sebuah ungkapan tanpa beban untuk menutupi kepalsuan (bukankah para koruptor itu dulunya disumpah sebelum menduduki jabatannya ?), maka pertanyaannya masih layakkah sebuah fakta penting yang dibutuhkan masyarakat, disandarkan pada kondisi masyarakat seperti sekarang ini ? Ketidak percayaan terhadap sumpah diperlihatkan dengan sangat jelas dalam sidang Istbat tanggal 298 yang lalu ketika sidang menolak (tidak mempercayai ?) sumpah para perukyat di Cakung yaitu H Maulana Latif SPdI, Nabil Ss dan Rian Apriano. Ketika Rukyat coba ditopang oleh ilmu (hisab) yang dikenal dengan hisab imkan rukyat, yang memunculkan kriteria penampakan hilal (visibilitas hilal) yang diambil dari hasil rukyat sebelumnya yang dilakukan dalam kondisi masyarakat seperti disebutkan diatas. Sehingga menimbulkan pertanyaan apakah Kriteria itu bisa dipercaya ? Karena bila mengacu kepada Kriteria visibilitas hilal dari Andre Danjon dari Perancis menetapkan 7 derajat, Sementara menurut para ahli astronomi modern menetapkan 11,5 derajat. M. Ilyas dari Malaysia 10,5 Derajat, IICP (International Islamic Calender Programme) menetapkan 4 10,5 derajat tergantung beda azimut bulan matahari, sedangkan Indonesia berbeda sendiri menetapkan 2 derajat. Ketidak seragaman kriteria ini bukankah menunjukkan ketika pastian ? Bahkan akhirnya menimbulkan keanehan ? Faktanya sangat jelas, yaitu Malaysia berlebaran leih dulu dari yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia. Lalu, masih haruskah kita berpegang pada yang tidak pasti ? Wallahu alam bissawab.
guntur
06-09-2011 19:55:32
Buat bapak tuko sarjana pendiddoikan, maaf anda menyatakan pemerintah bisa salah, klo muhammadiyah bagaimana? Bisa salah atau tidak? Allah tidak bisa salah...itu semua manusia beriman juga tahu, tapi kalau muhammadiyah tidak bisa salah anda menyamakan muhammadiyah dengan Allah?? Naudu billah...
Muhammad Hartono
07-09-2011 10:56:35
Tuko Chaeron,S.Pd 03092011 13:47:17 Saya bangga sebagai warga muhammadiyah,karena Muhammadiyah mampu mengedepankan agama dalam segala keputusannya, termasuk dalam menetapkan 1 syawwal dengan hisab wujudul hilal yang telah dijamin kebenarannya dalam Alquran QS Yunus ayat 5 sebagai ilmu yang disyariatkan untuk umat manusia dari Allah SWT, agar manusia dapat menerbitkan dan menghitung kalender penanggalan yang sangat dibutuhkan manusia diseluruh belahan bumi dengan kompak dan serempak disesuaikan wilayah geografisnya, dan metode inilah yang dapat menjamin persatuan umat Islam dalam suatu wilayah, karena ilmu ini diturunkan Allah dengan kebenaran. Tetaplah Muhammadiyah dalam komitmennya dalam menentukan 1 syawwal dengan hisab wujudul hilal, jangan pernah mundur hanya karena tuntutan nafsu, politik dan kekuasaan. Assalamualaikum wr wb. Mas Tuka Choeron SPd semoga Alloh swt mengampuni kita Apakah BANGGA bukan sebuah nafsu, mungkin gunakan kata IKHLASH lebih menunjukan Mas Tuko dari warga Ormas Islam yg cendekia. kata (Syayyidinaa) Muhammad (Saw) Manusia tempatnya SALAH dan LUPA wajarlah kalau manusia (meski warga bahkan pimpinan Muhamadiyah berbuat SALAH, kalau saya lebih senang berbuat SALAH seperti Kerajaan Arab Saudi. Langsung mengumumkan kesalahan dan meminta maaf dan melakukan koreksi dg menyuruh mengkodlo puasa dan membayar kifarat. itulah hamba Alloh.... wassalam wr wb.
anangdp
07-09-2011 11:45:38
Ini masalah agama,tuntunan dan jangan bawa bawa bendera....putuskan apa yang ada disyariat agama, jangan ada keputusan yang akhirnya ada kata kata biasanya itu nanti akan muncul egois masing2 dan akan membawa bendera masing2...Kalau keputusan tgl 30 agustus sesuai syariat islam, ya sudahlah jangan ngompor ngompori dong.....
abdul azis muslim
07-09-2011 13:44:52
Alhamdulillah Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawwal 1432 H jatuh pada hari Selasa 30 Agustus 2011 dan ternyata tidak hanya warga Muhammadiyah yang merayakannya tetapi beberapa Ormas Islam lainnya ikut merayakannya khusunya di Daerah kami Samarinda Kalimantan Timur. Dua tempat yang besar di Lapangan Parkir GOR segiri dan Stadion Madya Samarinda dipenuhi jamaah. Kami Bangga menjadi Warga Muhammadiyah karena memiliki Pemimpin yang Istiqomah memperjuangkan Islam yang Murni dan Berkemajuan.
ichwan
08-09-2011 13:03:10
Muhammadiyah maju terus dan istiqomah aja
wana
08-09-2011 16:59:19
Muhammadiyah mungkin tidak keliru karena menetapkan tanggal 1 syawal pada hari selasa. Tapi Kemungkinan besar yang keliru yaitu NU, PEMERINTAH yang menetapkan hari idul fitri pada hari rabu, karena mereka terbelenggu rukyat global dan hilal 2 derajat. Ingat Indonesia walaupun bagaimanapun sudah terrjadi perubahan hari dan sama dengan negara muslim lainnya . Jadi jika HILAL terlihat di ARab, Pakistan atau lainnya , maka itu berlaku bagi kita di indonesi yang saat itu sudah berubah hari . Jika Nu dan PEMERINMTAH masih menggunakan metode rukyat lokal ( Indonesia ) itu akan menyesatkan. SeHINGGA jika ternyata ada terlihat di sekitar wilayah INDONESIA TIDAK di akui. Tidak ada dalil Quran atau Hadist yang menunjukkan bahwa hilal harus terlihat di tiaptiap negara . jika pada hari yang sam sudah terlihat hilal maka berlaku juga pada hari yang sama tersebut. Intinya Rukyat lokal dapat menyestkan khususnya pada saat Hujan, mendung atau hilal masih rendah.
mbah dukun
08-09-2011 20:10:02
Assalamu,alaikum. ana mau tanya, knp muhammadiyah pkai hisab? padahal hadisnya yg bnar pakai ruqyah. hisab itu bukannya untu menetukan 1 ramadhan jd law untuk menentukan 1 syawal kita tetap pkai ruqyah atau melihat bulan, itu hadis yg bnr dan hisab itu hanya untuk menunjukan dimana letak bulan agar mudah untuk melihatnya. ana mau tanya juga, kenapa muhammadiyah melarang anggotanya ikut pengajian diluar muhammadiyah? menurut ana, law pengajian diluar muhammadiyah lebih baik drpda muhammadiyah, kenapa kita tinggalkan? mohon penjelasannya. wassalamualaikum
ichwan PS
09-09-2011 07:50:33
organisasi yang modern dan islamis memang tidak melakukan sesuatu urusan yang berkaitan dengan urusan ummat dengan mengadaada apalagi menyesatkan. maju terus muhammadiyah
ichwan PS
09-09-2011 13:02:21
ok istiqomah aja ....jayalah Muhammadiyah
wana
09-09-2011 16:27:39
Mas nonong kalau malu jadi Muhammadi yah berati anda tidak paham dengan apa yang terjadi. Coba Aku yang bukan Muhammadiyah salut sehingga , umat islam indonesia tidak salah semua. Jika metode pemerintah dan NU ini terus di terapkan bisa merusak persatuan dunia umat ilsam , karena akan ada kemungkinan puasa yang beda. Bisa jadi orang yang naik HAJI sedang wukuf di Arafah kita belum puasa arofah, jika di ARAB sudah hari raya idul fitri , maka kita baru puasa , dan kita sholat hari raya idul adha padahal di arab sudang tanggal 12. INGAT SAAT KEMARIN KITA DENGAN ARAB MASIH HARI YANG SAMA HANYA KEBETULAN MENURUT NU PEMERINTTAH BELUM TERLIHAT. SEANDAINYA BELUM TERLIHAT HILAL DI INDONESIA JIKA DI NEGARA PADA HARI YANG SAMA , bisa INDIA, PAKISTAN , ARAB , maka kita seharusnya juga harus mengikutinya. INGAT syarat melihat HILAL itu menurut sunnah nabi hanya 1 orang.DAN TIDAK DIBATASI OLEH NEGARA ATAU WILAYAH.
J42Z
09-09-2011 21:29:52
Ilmu hisab pada jaman Rasul tidak pernah ada, yg dipake adalah dg pengamatan langsung (melihat bulan) Apakah bukan bidah kalo demikian ? Mohon pencerahan ... Terima kasih
nofiyanto
09-09-2011 23:24:45
untuk merubah arah kiblat muhammadiyah butuh waktu seratun tahun ( 1 abad ) agar masyarakat awam dapat menerima perhitungan arahnya.......semoga perhitungan 1 syawal muhammadiyah tidak nyampe 100 tahun agar dpt diterima masyarakat.....
danu
10-09-2011 13:07:03
Saya mau nanya tahun 2012 kita berlebaran tanggal berapa ya...tolong dibantu...karena kami harus mempersiapkan acara pertemuan keluarga. Terima kasih atas responnya.
kasmanto
12-09-2011 18:13:53
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkanNya manzilahmanzilah (tempattempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tandatanda (kebesaranNya) kepada orangorang yang mengetahui. AlQuran (Surah Yunus 10:5) Subhanallah sungguh Maha Benar FirmanNya pada ayat tersebut diatas, kita manusia disuruh belajar untuk mengetahui perhitungan bilangan tahun dan perhitungan waktu dengan beredarnya Matahari dan bulan, bagaimana perhitungan tahun dilakukan yang hanya dengan hisablah kita bisa melakukan pehitungan itu bukan tiap hari kita harus melihat bulan. Silahkan anda cerna sendiri pernyataan AlQuran diatas. Allah Maha mengetahui apa isi hati setiap manusia.
Saduddin
13-09-2011 10:41:06
http:koran.republika.co.idkoran0143086Purnama_Bukan_Acuan
mbah santet
29-04-2012 11:39:01
Khusus NU Vs Muhammdiyah : Saya kira pertentangan tentang mana yang bener atau salah tentang penentuan 1 syawal segera dihentikan.......hentikaaaaaaaaannnn.........hentikaaaaannnn !!!!, kembalikan keyakinanmu masingmasingmasing ...entah 2 drajat 1 drajat......mari kita hormati perbedaan itu, jaga kerukunan umat titik. jangan merambat kemanamana ! smg islam tetap rahmatan lilalamin. Oke..? setuju....salaman.
Arif Fajar Kurniawan
12-07-2012 18:01:14
jangan terlalu dipermasalahkan masalah ini. Ukhuwah ISLAMIYAH harus tetap kita jaga agar ummat ISLAM tidak terpecah belah hanya dikarenakan masalah2 perbedaan pendapat.

Beri Komentar


Kalau saudara semua tertarik untuk memberikan komentar terhadap berita atau artikel di atas, kami mohon agar memberikan komentar yang santun untuk kemajuan Persyarikatan Muhammadiyah di masa yang akan datang. Isi komentar terserah dari pembaca, tapi jika dinilai kurang layak tampil oleh pengelola website, maka kami akan menghapusnya.
*) Harus Diisi

Nama * Email *

Website

Tulis Komentar *
Kode *

Berita Lain



iklan

Berita Terpopular

Yogyakarta- Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan sikap  menolak gerakan dan faham lslami ... selengkapnya
Jakarta – Kalau ada apa-apa keterlibatan kita dilingkaran manapun, sosial maupun politik ya ... selengkapnya

Daftar Newsletter

Tetap terkini dengan berita terbaru dari Muhammadiyah

Bacaan Sehari-hari

Tidak Ada
iklan