Jum'at, 19 Juli 2019
Home/ Berita/ Malik Fadjar: Kemahasiswaan dan Akademik seperti Dua Sisi Mata Uang

Malik Fadjar: Kemahasiswaan dan Akademik seperti Dua Sisi Mata Uang

Malik Fadjar
Ketua PP Muhammadiyah Prof. HA Malik Fadjar, MSc
Malang- Ketua PP Muhammadiyah Prof. HA Malik Fadjar, MSc mensinyalir mengelola bidang kemahasiswaan sama pentingnya dengan pengelolaan akademik. Kedua bidang itu tak ubahnya seperti seperti dua sisi mata uang. “Keduanya sangat penting untuk menyiapkan generasi ke depan,” katanya di hadapan ratusan peserta Pertemuan Nasional Pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) bidang kemahasiswaan di kampus UMM, Sabtu (25/06).

Mahasiswa, kata Malik yang mantan Menteri Pendidikan Nasional, bisa kelompok elit yang melakukan perubahan besar. Republik ini lahir bukan gegap gempitanya massa tapi sekelompok orang-orang terdidik itu. Apakah peran seperti itu akan lahir lagi di masa mendatang, tergantung bagaimana pembinaan kemahasiswaan yang kita lakukan.

Di kalangan PTM sendiri, kata Malik, problem pengelolaan kemahasiswaan tidak senderhana. Banyak persoalan besar yang menjadi pekerjaan rumah dan menjadi pemikiran bersama. Di antaranya, menghadapi kebijakan bidang kemahasiswaan yang diterapkan pemerintah, student government  yang mengenal jabatan presiden, menteri hingga gubernur di kalangan mahasiswa. Label seperti itu tidak menjamin perbaikan gerakan mahasiswa. “Lha kok itu yang Nampak, padahal itu tak menyentuh subtansi. Mestinya mencari yang cerdas, membangun peradaban ke depan, apakah dengan pranata itu cukup. Baik organisasi intra, ekstra maupun profesi mahasiswa itu cukup fungsional, itu yang penting,” tegas mantan rector UMM ini.

Lebih lanjut Malik mengajak peserta untuk berfikir mengenai perubahan yang lebih mendasar dan luas, menyangkut kelembagaan, orang dan perilakunya. Di PTM, peran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) harus cerdas menangkap perubahan. Bukan saja merebut anggota secara kuantitas, “tetapi bagaimana harus tampil sebagai bangunan utama kemahasiswaan,” lanjutnya.

Malik mencemaskan saat ini mahasiswa tidak seperti dulu yang gemar diskusi, berdebat, alih-alih kongkow-kongkow di kafe-kafe, di sepanjang jalan tanpa jelas tujuannya selain mencari kesenangan. “Apa yang bisa diberikan oleh mahasiswa macam ini?” tanya Malik.

Muhammadiyah, ujar Malik, memiliki landasan yang kuat. Di PTM ada mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Mestinya dari situ dapat membentuk mahasiswa yang mampu menggerakkan ranting, cabang dan daerah Muhammadiyah di sekitarnya. AIK bukan saja sebagai mata kuliah di kelas tetapi bagaimana menerapkannya dalam berdakwah.

“Muhammadiyah harus digerakkan dari mahasiswa PTM. Muhammadiyah jangan bergerak di slogan yang kosong,” tutur Malik. Lalu pola dan strategi pendampingan mahasiswa yang bagaimana? Bukan lagi pembimbingan, sekarang namanya pendampingan, dengan memahami filsafat, terutama bagi aktivis dan fungsionaris mahasiswa. Misalnya, organisasi kemahasiswaan itu harus berbasis kampus, bukan berbasis kampung.

Di UMM sendiri, rektor Dr Muhadjir Effendy memiliki cara menggerakkan amal Muhammadiyah oleh mahasiswa yang diterapkan melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan melibatkan cabang dan ranting Muhammadiyah di pelosok-pelosok. Mahasiswa berbaur melakukan dakwah di tingkat bawah dengan berbagai kegiatan positif. Selain ikut merasakan kegiatan keagamaan dan menggiatkan dakwah, mahasiswa juga bisa menjaga dan memperbaiki perilakunya karena menjadi sorotan masyarakat di sekitarnya.


Pembantu Rektor III UMM Joko Widodo mengatakan keterlibatan Pimpinan Cabang Muhammadiyah sebagai pendamping lapangan mahasiswa KKN sejauh ini berjalan baik. Dia yakin, sinergi PTM dengan grassroot seperti ini bisa diterapkan disemua PTM.(www.umm.ac.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *