Senin, 16 September 2019
Home/ Berita/ Sistem Pertanian Indonesia Tinggalkan Kearifan Lokal

Sistem Pertanian Indonesia Tinggalkan Kearifan Lokal

Yogyakarta- Dalam beberapa minggu terakhir banyak dilaporkan tentang penurunan produksi pertanian dan kegagalan panen. Di berbagai daerah terjadi kegagalan panen/puso pada tanaman padi akibat serangan tikus atau wereng, di daerah yang lain produksi gabah mengalami penurunan produktivitas lahan sehingga mengancam target penyediaan pangan, dan sebagainya. 

Hal ini sebenarnya disebabkan oleh perubahan perilaku petani dalam menerapkan sistem budidaya di lapangan. Sistem pertanian telah dikembangkan dengan banyak meninggalkan kearifan lokal dan tidak berbasis pada konsep kealaman. Beberapa contoh kasus di lapangan seperti penanaman satu jenis tanaman secara berulang dan terus menerus (monokultur), penamanan tidak serempak penyederhanaan jenis tanaman, dan sebagainya menjadi pemicu banyaknya kegagalan panen. 

Demikian disampaikan oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ir. Agus Nugroho Setiawan, MP., menanggapi banyaknya kegagalan panen petani akhir-akhir ini, di Kampus Terpadu UMY, Kamis (16/6).

Agus menjelaskan penanaman monokultur untuk mengejar target produksi tanpa adanya rotasi dalam jangka panjang juga tidak berbasis pada konsep kealaman, serta tidak menguntungkan terutama dari aspek ekologi dan agronomi. Dengan dalih ketersediaan air yang cukup, ada kecenderungan petani akan menanam padi secara terus menerus. 

“Penanaman secara berulang tanaman akan memicu berkembangnya organisme pengganggu tanaman baik hama, patogen maupun gulma karena berada dalam lingkungan yang tidak banyak mengalami perubahan. Hal ini menjadi salah satu penyebab hama wereng banyak menimbulkan kegagalan panen secara terus menerus di berbagai daerah,” jelas Agus. 

Ia menambahkan, penggenangan lahan padi secara terus menerus juga menyebabkan kurangnya aerasi tanah, kurang berkembangnya organisme bermanfaat dalam tanah, pelindian unsur hara, dan sebagainya. Alam juga telah mengajarkan kepada manusia dengan adanya perubahan musim, agar petani menanam tanaman dengan menyesuaikan keadaan mikroklimat.

 Fenomena alam yang dipelajari dalam jangka panjang dengan ilmu titen yang diekspresikan dalam berbagai kearifan lokal seperti pranoto mongso sudah mulai ditinggalkan dan digantikan perannya oleh penggunaan external input. Sistem penanaman tidak serempak juga tidak menguntungkan karena menyebabkan siklus hama tidak terputus, karena ketersediaan pakan bagi hama tercukupi. Meluasnya serangan hama wereng dan tikus dimungkinkan karena penanaman padi yang tidak serempak.

“Alam mengajarkan bahwa setiap organisme di alam termasuk hama mempunyai musuh alami, yang berperan sebagai pengendali alami. Jika penanaman padi dilakukan serempak, dengan populasi hama yang sama, maka kehilangan hasil tanaman akan terdistribusi dalam areal yang luas sehingga secara kualitatif akan rendah. Setelah tanaman dipanen, hama akan kehilangan pakan dan secara alami akan mengalami penurunan populasi, sehingga pada musim tanam berikutnya serangannya akan jauh menurun. Namun jika penanaman tidak serempak, hama hanya akan berpindah dari satu lahan ke lahan yang lain sehingga populasi terjaga, bahkan berkembang lebih banyak,” urai Agus.

Oleh karenanya, dengan alasan agar lebih mudah dalam pengelolaan, petani cenderung menanam satu jenis tanaman saja. Hal ini sebenarnya tidak menguntungkan karena sangat rentan terhadap kegagalan panen atau resiko harga rendah, tidak terjadi perbaikan kualitas agroekosistem, tidak ada diversifikasi hasil pertanian, dan sebagainya. Alam telah mengajarkan bahwa ekosistem dengan tingkat keanekaragaman yang tinggi mempunyai tingkat stabilitas dan keberlanjutan yang tinggi pula. Dengan hanya menanam satu jenis tanaman menyebabkan stabilitas dan keberlanjutan sistem pertanian menjadi rendah. 

“Sebagian besar petani kita sudah tidak lagi belajar dari alam, dan lebih percaya pada penggunaan external input sebagai solusi terhadap permasalahan pertanian. Padahal alam membentuk keseimbangan dan keteraturan yang dinamis, sehingga seharusnya menjadi dasar dalam pengembangan sistem pertanian”, tambah Agus.

Untuk itu, sebelum lebih banyak terjadinya kegagalan dan kerugian ada baiknya perlu dilakukan perbaikan dalam sistem budidaya dengan lebih mengedepankan konsep kealaman dan berbasis kearifan lokal melalui pemanfaatan dan pengelolaan alam dengan tetap menjaga kelestariannya. 

“Lahan pertanian dimanfaatkan bukan hanya untuk jangka pendek tetapi juga untuk generasi yang akan datang, sehingga dalam mengelola lahan harus berorentasi produktivitas, stabilitas, kemerataan dan keberlanjutan. Dan untuk mewujudkan hal tersebut, perlu adanya kesadaran dari masyarakat untuk mengubah perilaku dan juga perlu dukungan dari pemerintah sebagai pembuat kebijakan,” tegas Agus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *