Selasa, 20 Agustus 2019
Home/ Berita/ Kesadaran Menulis di Lingkungan Perguruan Tinggi Rendah

Kesadaran Menulis di Lingkungan Perguruan Tinggi Rendah

Yogyakarta- Hanya 7000 judul buku yang diterbitkan di Indonesia setiap tahunnya. Padahal Indonesia memiliki potensi besar untuk menerbitkan karya-karya akademik seperti buku karena memiliki pangsa pasar yang luas. Hal ini jauh apabila dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat yang mampu menerbitkan 75000 judul buku setiap tahunnya.

Hal ini disampaikan Direktur Penerbit Naufan Pustaka, Deni Asy”ari dalam diskusi penulisan buku yang diselenggarakan Komunikasi Penyiaran Islam-Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KPI UMY) di Kampus Terpadu UMY Selasa (14/6).

Lebih lanjut Deni menjelaskan kecilnya jumlah terbitan buku mengindikasikan masih rendahnya budaya menulis di lingkungan masyarakat kampus. “Khususnya menulis buku. Bahkan buku ajar di Perguruan Tinggi jauh lebih sedikit dibandingkan buku-buku ringan yang hanya mengikuti tren pasar sesaat.”jelasnya.

Dalam penuturan Deni, banyak buku yang digunakan sebagai buku pembelajaran di kampus justru sedikit yang merupakan hasil karya dosen yang bersangkutan. “Padahal dosen yang mengajar itulah yang memiliki pemahaman baik terhadap kondisi belajar mengajar maupun psikis dan kemampuan mahasiswa. Selain itu dosen juga mengetahui apa yang seharusnya diajarkan kepada mahasiswa.”ujarnya.

Deni memamparkan adanya mitos bahwa menulis perlu bakat menjadi salah satu hambatan dalam menulis buku. “Selain itu terkadang merasa tidak punya waktu, inspirasi yang tak kunjung datang, sulitnya memulai tulisan, ragu-ragu, tidak percaya diri serta adanya anggapan bahwa menulis buku tidak menguntungkan,”pungkasnya.

Padahal menurutnya menulis bukanlah persoalan bakat atau tidak. Setiap orang bisa menulis apalagi di kalangan dosen yang sudah menjadi bagian dari aktivitasnya. “Menulis di waktu yang sedikit juga bisa digunakan untuk menulis. Karena menulis bisa dilakukan dengan berkelanjutan. Apabila ide belum muncul bisa dibiasakan dengan banyak membaca dan  berdiskusi dengan banyak orang. Dan untuk membangun sikap percaya diri dengan meyakinkan diri sendiri bahwa gagasan yang ditulis adalah gagasan yang dibutuhkan pangsa pasar atau paling tidak dibutuhkan mahasiswa tempat mengajar,”katanya.

Terkait langkah-langkah dalam menulis buku, Deni menambahkan  bisa diawali dengan mencari ide-ide kreatif dan inovatif. Melalui membaca atau bertukar pikiran dengan berbagai pihak. Kemudian mengumpulkan materi tulisan dan memulai menulis setelah membuat tema, outline dan bab sub bab. 

“Hal yang perlu diingat bahwa menulis bukan semata-ata untuk kebutuhan materi sesaat. Menulis seharusnya menjadi bagian dari kewajiban akademik. Karena melalui menulis itulah ide dan ilmu pengetahuan dapat diteruskan untuk generasi-generasi mendatang,”tegasnya. (www.umy.ac.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *