Rabu, 21 Oktober 2020
Home/ Berita/ Moderasi Beragama dalam Perspektif Muhammadiyah

Moderasi Beragama dalam Perspektif Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengapresiasi para Penyuluh Agama Keluarga Besar Muhammadiyah yang saat ini mengabdi di Kementerian Agama RI. Menurutnya hubungan Muhammadiyah dan Kementerian Agama RI tidaklah berjarak, namun sangat dekat. Hal itu diungkapkannya dalam acara Silaturrahim Penyuluh Agama Keluarga Besar Muhammadiyah pada Sabtu (26/9) melalui daring video telekonferensi Zoom.

“Saya memberi apresiasi, Sang surya yang ada di Kementerian Agama harus tetap optimis, semangat, dan percaya bahwa kalau kita berbuat kebaikan untuk bangsa dan negara di mana pun berada dan betapa pun kendala kebaikan itu tidak akan salah alamat. Begitu pula sebaliknya kalau kita berbuat keburukan biarpun keburukan itu ditopang sistem yang kuat manipulasi atau dikamuflase sedemikian rupa keburukan itu akan kembali pada si yang membuat keburukan,” ungkapnya. 

Di mana pun kita berada, lanjut Haedar, kita tetap harus menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan. “Justru ketika sistem tidak baik, kita jangan ikut larut, maka kita tetap benahi sistem,” pesannya.

Moderasi Beragama

Moderasi beragama dalam perspektif Muhammadiyah menurut Haedar tentu sama dengan perspektif Islam yakni perpektif wasathiyah atau juga tawasuth atau moderat. Moderasi atau tengahan merupakan bagian dari pandangan dan sikap keislaman.

Haedar mengatakan, kita sering mengutip Qurán Al-Baqarah ayat 43 yang dibanyak tafsir menyimpulkan bahwa kata wasatta’ disitu sikap adil atau konsep tentang adil dan keseimbangan. Jadi inti dari sikap moderat pandangan moderat dalam perspektif Islam itu yang adil yang tawazun, menempatkan sesuatu pada tempatnya dan tawazun membangun keseimbangan.

“Bersifat adil itu bahkan terhadap orang yang kita tidak sukai bahkan kita anggap musuh. Apalagi ada yang di atas adil yaitu ihsan. Kalau adil itu ada orang berbuat baik pada kita itu kita balas kebaikan. Kalau ihsan itu lebih jauh lagi, kalau orang berbuat buruk pada kita kita balas dengan kebaikan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Haedar menjelaskan tentang sikap tawazun yakni sikap tengahan sikap seimbang. Antara dunia dan akhirat harus seimbang, itu cara pandang agama. Sikap seperti ini adalah sikap karakter dari Islam. Nabi Muhammad walaupun lahir dalam kultur arab yang keras itu juga secara kesejarahan juga melahirkan sikap dan pandangan yang wasthiyah.

Dalam konteks bernegara, berbangsa, Haedar juga mengusulkan sikap moderat yang menjadi karakter dari Islam. Haedar menjelaskan bahwa Islam itu datang di Indonesia dengan cara yang damai.

“Bagaimana membayangkan Indonesia yang dulu berpenduduk mayoritas Hindu, dan mereka yang Animisme atau berkepercayaan setempat berubah menjadi mayoritas Muslim karena Islam datang dengan cara yang damai dengan cara yang moderat, lewat para saudagar, para pendakwah sejak dari samudera pasai sampai kearah timur Papua, Islam masuk dengan damai. Termasuk juga di Jawa yang dibawa oleh para saudagar atau wali. Jadi yang menyebarkan Islam moderat itu bukan hanya para wali, tapi juga para saudagar, daí, bahkan lewat kerajaan Islam. Jadi sejarah Islam di Indonesia itu dilakukan dan diperankan oleh para pendakwah dan pembawa misi Islam dari berbagai macam golongan,” jelas Haedar.

Dalam pandangan Haedar, sejarah ini penting karena menunjukkan bahwa Islam Indonesia itu tidak tunggal namun penuh dengan warna tetapi semuanya merujuk pada Qurán dan sunnah. Konsep ini kemudian berkembang, bahkan belakangan menjadi arus utama didalam pemikiran keagamaan.

Mengapa sejak awal Muhammadiyah mendorong istilah moderat dan moderasi? Pertama memang landasan untuk menegakkan kehidupan beragama yang adil dan tawazun itu memang dari sifat yang tawasuth atau wasathiyah. Dan cara kita menghadapi hal yang tidak tawasuth, atau orang menyebut ekstrim atau radikal tidak bisa dengan cara yang radikal juga. Kenapa? Muhammadiyah memandang kalau ingin moderat dalam beragama maupun berbangsa maka menghadapi hal yang sifatnya ekstrim harus juga dengan moderasi bukan dengan cara radikal yang disebut de-radikalisasi.

Hal itu menurut Haedar karena, ada penerapan konsep radikal yang kurang proporsional. Yakni, kata radikal dikonotasikan hanya pada Islam. Ada kasus-kasus radikal atau ekstrim yang mengatasnamakan Islam mengaitkannya dengan jihad, padahal itu hanya sekelompok kecil saja. Perilaku terror juga banyak dilakukan oleh kelompok lain. Sehingga, Muhammadiyah mengusulkan konsep radikal dan ekstrim itu bersifat umum. Kepada siapapun perbuatan dan tindakan yang berlebihan dan menimbulkan ketakutan dan kerusakan itulah yang disebut dengan perbuatan terror ekstrim yang siapapun dia dan agama tidak terkait dengan agama atau golongannya itu sendiri. Sebab suapaya tidak gampang menyebut radikal ekstrim dengan murah.

Deradikalisme itu konsep dalam sosiologi bahwa melawan radikal harus dengan cara yang radikal. Maka, lanjut Haedar, de- itu hanya menghilangkan segala sesuatu yang radikal. Boleh jadi satu saat tepat tapi jangka panjang tidak. Jika menggunakan pendekatan deradikalisasi ada sesuatu yang tergerus. Misalnya saja ada yang menyalahgunakan konsep jihad, yang salah kan bukan konsep jihadnya tapi pemahaman tentang jihad itu yang salah. “Maka tawarannya jangan sampai ada usulan hilangkan pelajaran tentang jihad di dalam kurikulum dan pengajian,” tegas Haedar.

Maka Muhammadiyah menawarkan pendekatan moderat. “Kalau kita melawan radikal dengan radikal maka kita juga sudah jadi radikal. Maka kalau kita melawan dengan moderat itu baru moderat namanya. Tapi memang pendekatan moderat itu lama dan jangka lama. Tapi tidak apa-apa, kalau kita bahwa selalu menggaungkan Islam yang moderat maka cara kita harus moderat, itulah yang disebut moderasi beragama,” jelasnya.

Dalam konteks agama melawan kemungkaran tidak bisa dengan mungkar tetapi harus dengan cara yang ma’ruf. “Ketika kita menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, nahi mungkar harus dilakukan dengan cara yang ma’ruf,” pungkasnya. (Syifa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *