Rabu, 21 Oktober 2020
Home/ Berita/ Indonesia dan Philipina Hadapi Persoalan yang Sama Terkait Pendidikan di Tengah Pandemi

Indonesia dan Philipina Hadapi Persoalan yang Sama Terkait Pendidikan di Tengah Pandemi

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA — Sikapi dampak wabah pandemi covid-19 terhadap bidang pendidikan, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah gelar Webinar Seris pada (24/9), yang dalam kesempatan kali ini mengandeng Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Philipina.

Teguh Wiweko Minister, Counsellor for Social and Cultural Affairs Embassy of Republic Indonesia Manila menyebut, Indonesia dan Philipina mengalami masalah yang sama dalam menghadapi pandemi covid-19 ini. Wabah ini memberikan efek domino, di mana hampir semua lini kehidupan masyarakat terdampak.

Khususnya dalam bidang, Wiweko membandingkan dampak akibat covid-19 yang terjadi di tempatnya saat ini dengan di Indonesia memiliki kesamaan. Banyak lembaga pendidikan ditutup, peserta didik mengalami drop out. Dibutuhkan sokongan kuat dan serius dari untuk menjaga supaya hal tersebut tidak terjadi berterus-terusan.

“Sistem pendidikan Ind terbesar ke 4 di dunia. 68 juta pelajar terdampak. Pemerintah Indonesia menyediakan Prioritas program pendidikan 2021: digitalisasi sekolah, revitalisasi vokasi, program kampus bebas belajar, hingga penyiapan anggaran 27 T,” ungkapnya.

Realitas masalah yang terjadi pada bidang pendidikan tersebut juga diiyakan oleh Rolando G. Talampas. Pembicara kedua dari College Secretary University of the Philippines ini mengatakwan bahwa, kejadian tersebut dialami oleh Negara-negara yang manyoritas pendapatan penduduknya menengah ke bawah.

Persoalan ekonomi menjadikan penutupan sekolah sebagai suatu keniscayaan. Terlebih system pembelajaran yang dilakukan dengan cara daring, keluarga miskin akan lebih memiliki drop out dari belajar karena ada tekanan lebih soal pembiayaan. Mengambil contoh permasalahan yang selama ini terjadi di Philipina, pemerintah sana masih sedikit mengalokasikan anggaran untuk bidang pendidikan.

“Banyak guru yg berjalan puluhan kilometer utk mengajar. Di filipna, kesediaan internet peringkat ke 19 dari 26 negara di asia pasifik, artinya buruk. 24.5 juta terlibat dalam sekolah negeri maupun swasta,” ucapnya.

Sementara itu, Fitri Sari Sukmawati, Kepala SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dalam paparannya mengatakan, saat ini harus diutamakan menjaga kesehatan dan keamanan guru sebagai barisan terdepan pendidikan. Karena virus ini tak kasat mata, maka dalam melakukan kegiatan harus lebih diperhatikan. Terlebih bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi.

Dan, kebijakan yang mungkin diterapkan kepada para peserta didik adalah dengan mengadakan metode pembelajaran daring/online yang lebih menyenangkan. Bisa juga dilakukan pemotongan biaya pendidikan yang harus mereka bayarkan, ini penting menginggat saat terjadi wabah perputaran roda perekonomian menjadi lambat.

Potongan biaya pendidikan bagi murid juga sebagai langkah menjaga dari putusnya sekolah (drop out), akibat orang tua tidak kaut membayar ongkos pendidikan. Saat ini, di sekolahnya telah dilakukan system Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Murid tidak perlu datang atau bertemu secara langsung dengan pendidik. Materi belajar bisa diakses melalui media sosial YouTube, kemudian dilakukan diskusi dengan google classroom.

“Penyiapan sistem kurikulum pembelajaran yang dipakai sekarang (LMS: Learning Management System) melalui 4 kurun waktu proses yang sudah dimulai sejak 2008, yakni tahun 2008 dengan metode face to face, 2010 dengan metode face to face, 2011-2019 dengan metode campuran online dan face to face, 2020 total online,” urainya.

Meskipun demikian, metode daring menurut Ahmad Budairi memiliki sisi lain masalah yang harus diselesaikan. Sebagai mahluk sosial, civitas akademik yang melakukan pembelajaran secara online mengalami ujian terberat yakni pembatasan interaksi sosial secara langsung. Padahal aspek ini bagi manusia merupakan yang paling penting, sehingga memberikan dampak psikologis yang besar, maka perlu diberikan mutual support.

“Manajemen pikiran amat dibutuhkan untuk tetap produktif memanfaatkan ruang dan kesempatan yang potensial dibandingkan masa sebelum pandemi,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *