Selasa, 27 Oktober 2020
Home/ Berita/ Anomali Pertumbuhan Islam di Eropa

Anomali Pertumbuhan Islam di Eropa

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA — Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menyebut persitiwa demonstrasi anti Islam yang terjadi di Swedia dan Norwegia beberapa waktu lalu menyita perhatian masyarakat dunia, terlebih masyarakat Islam. Kejadian tersebut jika ditarik dalam konteks politik global, terdapat tiga fakta perkembangan menarik.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Jum'at (11/9) dengan tema “Islam dan Islamofobia di Eropa”.

“Yang pertama adalah pasca peristiwa 11 September, ketika dunia diguncangkan oleh bom yang meledakkan Twin Tower di AS. Islam seperti on the spot dan muslim menjadi tertuduh, dan memang kejadian ini menimbulkan perubahan dalam relasi Islam dan Barat, serta berbagai macam situasi yang menyebabkan umat Islam menjadi tidak mudah dalam berbagai hal,” ucap Mu’ti.

Kedua adalah tentang Eropa dan Negara Barat dalam konteks multikulturalisme dan dalam konteks perkembangan agama. Meskipun agama-agama di Barat banyak mendapat kritik dari para ilmuannya, namun ditemukan fakta menarik bahwa tingkat kepercayaan dan keyakinan masyarakat dunia terhadap agama masih tinggi.

Mengutip hasil survey yang dilakukan beberapa lembaga survey, Mu’ti menyebut khsusunya di Negara-negara Skandinavia, kehadiran Gereja dalam kehidupan masyarakat di sana memang rendah, jika dipresentasekan masih di bawah 5 persen. Namun beda dengan di Italia Spanyol, kehadiran Gereja di sana masih berada di atas angka 10 persen.

Fakta menarik lainnya adalah kehadiran Islam di Negara-negara Eropa, di mana perkembangan Agama Islam di sana sangat pesat. Jika dihitung dalam rentang waktu tiga dasawarsa terakhir, perkembangan Islam dari sisi jumlah bisa mencapai angka 300 persen. Fakta demikian kemudian menjadi diskursus tersendiri dalam konteks hubungan agama dan Negara, serta dalam konteks kehidupan kewargaan di Negara-negara di Eropa.

“Bagian ketiga adalah bagaimana Eropa memang mau tidak mau harus upaya tentang melihat realitas itu dan kemudian berbagai hal yang berkaitan dengan policy politik, Negara dan multikulturalisme yang selama ini mereka gaungkan itu harus dilihat secara seksama,” tambahnya.

Kehadiran imigran muslim ke Negara-negara Eropa memberikan perubahan yang mencolok, baik dalam konteks politik dan ekonomi. Kontestasi wacana publik, termasuk juga dalam kontestasi politik tidak bisa dilepaskan dari adanya penduduk asli dan pendatang. Gelombang migrasi yang terjadi akhir-akhir ini yang mengalir begitu massif karena terjadinya konflik di Negara-negara Timur Tengah dan Afrika juga menjadi persoalan politik yang tidak sederhana.

Sitausi ini kemudian menimbulkan ketidaknyamanan bagi kelompok yang tidak mau menerima realitas tersebut. Kedatangan penduduk baru secara otomatis menimbulkan persaingan, sehingga persaingan menjadi kian kompleks. Meskipun demikian, Mu’ti mengatakan, persoalan ini tidak bisa dilihat semata linier semata-mata hanya persoalan agama. Dimensi politik, ekonomi dan rasial masuk menjadi komponen pemicu timbulnya konflik dan gesekan.

“Sehingga perilaku negatif seperti rasisme dan islamofobia menunjukkan peningkatan yang cukup berarti di beberapa Negara,” ucapnya.

Di tengah dunia yang semakin terbuka, Mu’ti menyebut, keadaan yang sedemikian kompleks dan terkoneksi menyebabkan setiap kali ada peristiwa yang dialami oleh Umat Islam seperti penistaan simbol-simbol suci milik umat Islam menimbulkan reaksi yang cukup keras dari kalangan internal umat Islam.

Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang rutin diselenggarakan setiap bulannya ini menghadirkan beberapa pembicara yang kompeten untuk membahas Islam dan Islamofobia di Eropa, mereka ini diantaranya ada Arief Hafaz Oengroseno (Duta Besar RI untuk Jerman), Muhammad Najib (Pakar Politik), dan Fatimah Nur Fuad (Wakil Dekan 1 FAI UHAMKA). (a’n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *