Jum'at, 25 September 2020
Home/ Berita/ Kemanusiaan Universal Muhammadiyah

Kemanusiaan Universal Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Sebagai civil society yang lahir sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah konsisten memberikan amal nyata untuk membangun negeri dan menjalankan fungsi kontrol melalui kritik konstruktif agar tata kelola pemerintahan sesuai dengan cita-cita nasional.
Muhammadiyah menerjemahkan amar makruf dalam kegiatan nyata amal sosial dengan semangat kemanusiaan universal dan nahi munkar melalui kritik konstruktif dengan argumen yang kuat.
 
Demikian tegas Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam ceramah kebangsaan Ikatan Alumni Sekolah Pendidikan Tinggi Kedinasan (IKANAS STAN) bertajuk "Peran Civil Society Membantu Permasalahan Bangsa", Ahad (2/8).
 
“Jadi ketika di saat tertentu Muhammadiyah tegas mengkritik misalkan, itu bukan oposisi. Itu bagian dari cinta pada negara. Dan kita pasti punya argumen yang kuat. Itu pun kita dialogkan. Kita juga punya peran tajdid, yaitu memajukan,” bebernya.
 
Dalam posisi nahi munkar, Muhammadiyah sebagai civil society mengingatkan agar para elit politik untuk menjadikan dan memperhatikan secara seksama isi pembukaan UUD 1945 sebagai nyawa dalam menjalankan amanahnya.
 
“Tugas legislatif-eksekutif. Poin ini harus menjadi kewajiban dan obligasi moral politik seluruh aparat negara dalam menjalankan tugas dan amanahnya bahwa tugas mereka sangatlah berat. Itu perintah konstitusi,” jelas Haedar.
 
“Kedua, Indonesia jelas arah dan cita-citanya. ‘Merdeka dari’ dan ‘merdeka untuk’. Ini harus dikawal seluruh aparat, pejabat, pemerintah negara, itu menjadi kewajiban politik, kewajiban moral bahkan kewajiban konstitusional,” imbuhnya.
 
Prinsip manfaat-mafsadat-mudarat bagi Haedar harus menjadi perhatian bagi para pemangku kebijakan agar Indonesia sampai pada jiwa pikiran dan cita-cita nasional yang telah diletakkan para pendiri bangsa dan tidak berbuat sekadarnya.
“Jangan bikin legacy yang mercusuar. Kelihatannya hebat tapi nanti menimbulkan masalah bagi bangsa ke depan.
 
Pertaruhannya 270 juta yang akan mewarisi Indonesia. Kalau kita salah langkah, tidak seksama, perjalanan Indonesia ke depan semakin berat. Lihat tetangga kita yang dulu tertinggal. Vietnam, Kamboja, Singapura sudah maju,” nasihat Haedar.
Sejalan dengan itu, Haedar menegaskan bahwa sebagai civil society Muhammadiyah tidak berhenti untuk membangun berbagai pusat keunggulan dan sumber daya manusia yang utuh dan unggul.
 
“Muhammadiyah tidak akan tenggelam dalam berbagai perdebatan di medsos, terlibat aksi masa yang tidak perlu. Kita konsen untuk membangun pusat-pusat keunggulan. Jika kita ingin maju, kita tidak mungkin melakukan berbagai aktivitas yang kontra produktif,” jelasnya. (afn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *