Sabtu, 15 Agustus 2020
Home/ Berita/ Haedar Nashir Berharap Suara ‘Aisyiyah Digital Menerapkan Prinsip Jurnalistik Wasathiyah

Haedar Nashir Berharap Suara ‘Aisyiyah Digital Menerapkan Prinsip Jurnalistik Wasathiyah

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Majalah Suara ‘Aisyiyah kini hadir dalam format digital. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengapresiasi langkah tepat majalah perempuan muslim yang telah berusia 97 tahun ini. Menurut Haedar, majalah Suara ‘Aisyiyah telah ikut berkiprah mencerdaskan perempuan Indonesia. Apalagi tuntutan zaman memaksa teknologi cetak harus diimbangi dengan teknologi digital. Sehingga mampu menjangkau semakin banyak lagi pembaca.

Haedar Nashir mengatakan tidak mudah beralih dari teknologi cetak menjadi teknologi digital. Oleh karena itu, inisiasi transformasi mediam tersebut merupakan suatu prestasi khusus bagi majalah Suara ‘Aisyiyah. Tidak mudah memang memperluas medium bagi sebuah majalah dengan tradisi cetak bersejarah yang panjang. Apalagi bahwa mencetak majalah untuk rentang waktu yang lama selalu merupakan komitmen intelektual.

“Karena itu, launching website Suara ‘Aisyiyah merupakan ikhtiar untuk merawat warisan sejarah yang sangat penting. Bukan sebagai museum tetapi inspirasi yang terus menyala untuk menjadi corong pusat informasi dan menjadi voicenya ‘Aisyiyah” jelas Haedar, Sabtu (11/7) pada Peluncuran Website dan Peringatan 97 SA via Zoom Meeting.

Bagi Haedar, Suara ‘Aisyiyah bisa melangkah lebih jauh. Suara ‘Aisyiyah perlu memformulasikan bagaimana bentuk media baru yang mampu bergerak di tengah perubahan revolusi industri dan teknologi informasi. Haedar berharap majalah ini tetap mampu menghadirkan karakter, misi, dan visi gerakan perempuan Muhammadiyah yang berkemajuan.

 

Dalam konteks pengembangan media perempuan muslim, persoalannya tidak selalu teknis dan keterampilan keredaksian, tetapi visi dan wawasan dari pengelola majalah Suara ‘Aisyiyah. Haedar meyakini bahwa seiring waktu, transformasi majalah Suara ‘Aisyiyah digital akan berkembang lebih bagus.

“Saya juga percaya berapa tahun kemudian Suara ‘Aisyiyah dapat membangun graha seperti suara Muhammadiyah. Tetapi harus ada azzam kesitu, semacam jiwa yang terus menyala untuk kesana. Tetapi kalau belum ada pikiran kesitu akan sulit” harap Haedar.

Haedar mengatakan bahwa majalah cetak atau digital, prinsip jurnalistiknya tetap sama. Perbedaan utama terletak pada penyebaran informasi dan perubahan model konsumsi media pembaca. Oleh karena itu, gagasan-gagasan keislaman Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah punya peluang baru untuk disebarluaskan dan dipahami lebih baik oleh publik, termasuk warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sendiri.

Majalah Suara ‘Aisyiyah menurut Haedar perlu mempertimbangkan tiga hal penting. Pertama, adalah memastikan bahwa kualitas informasi dan aktualitas penyajian bisa berjalan beriringan. “Konten majalah tetap harus bisa mengunggah kesadaran pembaca” kata Haedar.

Kedua, majalah Suara ‘Aisyiyah harus tetap mempertahankan karakter dan identitas khas sebagai majalah perempuan muslim. “Ada reproduksi spirit yang sama antara majalah cetak dan majalah digital” lanjut Haedar. Ketiga, majalah Suara ‘Aisyiyah harus mampu memberi pencerahan dalam konten dan wacana. Tujuannya supaya majalah digital tidak tergelincir dalam pragmatism media saat ini yang bertujuan mencari sensasi demi rating. Jadi, sebisa mungkin menyajikan konten yang layak dan tidak menimbulkan kesalahan tafsir pembaca.

Haedar menambahkan bahwa majalah Suara ‘Aisyiyah selain menjadi media untuk mempromosikan Islam wasathiyah (moderat), juga menerapkannya dalam kerangka jurnalistik, serta mampu mendorong perubahan secara langsung.  Haedar berharap Suara ‘Aisyiyah turut terlibat dalam pencerdasan dan kemajuan masyarakat hingga pemberdayaan. Haedar juga berpesan bahwa

Selain itu, Haedar juga mengingatkan bahwa proses tranformasi media cetak ke digital, tidak selalu lebih mudah. Tapi peralihan ini sangat dibutuhkan. “Kalau kita tidak bisa bergerak dengan dinamis ya kita ketinggalan. Suara ‘Aisyiyah dan Suara Muhammadiyah punya target pasar yang jelas yakni warga ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah. Kita tidak perlu menjadi media yang menggaet atau menjangkau semua pembaca sekaligus. Bisa bertahap. Bisa menggarap seluruh anggota dan simpatisan sudah bagus tetapi memang perlu jendala yang bisa menjadi rujukan masyarakat umum” jelas Haedar.

Prinsip keredaksian Majalah Suara ‘Aisyah, papar Haedar, harus dilandaskan pada mekanisme pembuktian komprehensif. Terutama jika menyangkut pemikiran keislaman, melibatkan pendekatan bayani (teks, arsip), burhani (penalaran logis, akademik, dapat dipertanggungjawabkan, dan irfani (reflektif). Bagi Haedar sangat penting media-media Islam mengusung cara kerja penyajian opini, berita, dan informasi yang mencerahkan.

Haedar berharap Suara ‘Aisyiyah menjadi sarana dialogis dengan wacana-wacana aktual dan kontemporer sembari memperkenalkan pemikiran Islam yang kaya dan multi perspektif. (Syifa) 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *