Sabtu, 15 Agustus 2020
Home/ Berita/ Mewujudkan Ketahanan Pangan Melalui Konsep Petani Multikultur

Mewujudkan Ketahanan Pangan Melalui Konsep Petani Multikultur

MUHAMMADIYAH.ID, MAGELANG – Universitas Muhammadiyah Magelang bekerjasama dengan Forum Petani Multikultur Indonesia (FPMI) menyelenggarakan webinar dengan tema “Mewujudkan Ketahanan Pangan Melalui Konsep Petani Multikultur” pada Sabtu, 4 Juli 2020. 

Dr Suliswiyadi, Rektor UM Magelang dalam sambutannya menjelaskan maksud webinar ini adalah untuk merespon ancaman krisis pangan di masa pandemic COVID-19, berbagi pengalaman petani tentang polikultur dan mengurai berbagai permasalahan yang dihadapi petani di lapangan. 

Dalam Pidato Kuncinya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, mendorong petani melakukan diversifikasi tanaman terutama ke tanaman pangan. “Dalam masa pandemi ini setiap negara akan menahan komoditas pangannya masing-masing sehingga setiap negara perlu memastikan kecukupan dan pasokan pangan yang dimilikinya” ujarnya. Ganjar juga menyatakan bahwa pemerintah Jateng telah berusaha untuk melakukan pendataan dan koordinasi untuk memastikan kebutuhan pangan masyarakat dan produksi tanaman pangan bisa tercukupi. 

Lebih lanjut Ganjar mendorong petani untuk menerapkan konsep pertanian polikultur dan menanam tanaman pangan dalam bentuk tumpangsari, tumpeng gilir, tanaman bersisipan, tanaman campuran sebagai strategi untuk menghadapi kemungkinan krisis pangan. “Kita harus mulai lagi menanam tanaman pangan pendamping nasi seperti umbi-umbian, jagung, porang seperti yang dilakukan ‘embah-embah’ kita” tegasnya. Ganjar juga mendorong semua pihak, tidak hanya petani, untuk juga berkontribusi menanamp produk pangan dengan memanfaatkan semua daerah yang dimiliki dari sejak dari rumah.  

Menyikapi perubahan dan naik turun harga pangan, Ganjar juga memerintahkan Pemerintah daerah untuk membantu petani dengan memberikan pendampingan dan membantu pemasaran produk pertanian lokal dan tidak menggunakan produk branded di kantornya masing-masing. Sehinga petani bisa lebih sejahtera.  

Petani Tembakau Beralih Tanaman Ke Sayuran dan Pangan 

Ketua FPMI, Istanto, petani Windusari, Magelang menyatakan bahwa polikultur adalah solusi untuk ketahanan pangan dan juga membantu meningkatkan kesejahteraan petani. Ia menjelaskan bahwa selain berkontribusi terhadap ketahanan pangan memfokuskan tanaman petani pada pangan juga bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Sebagai contoh banyak petani yang memadukan tanaman tembakau bahkan beralih secara total ke tanaman sayuran dan pangan karena alasan tersebut.

“Di windusari petani yang berhenti menanam tembakau karena selalu merugi dan melakukan tumpangsari  dan diversifikasi sesuai dengan kondisi topografi tanah” jelasnya. Di ketinggian 400-700 meter petani menanam kentang manis, sementara di ketinggian 800-1000 meter tanaman hortikultura atau sayuran dan di ketinggian diatas 1000 di atas permukaan laut kopi Arabika dan bawang merah. 

Hal yang sama juga dilakukan banyak petani di kaki gunung Merapi Deles, Klaten. Menurut anggota FPMI, Sukiman, petani yang menanam tembakau di Deles semakin sedikit dan sekarang petani beralih ke tanaman sayuran dan kopi robusta yang ditanam secara organik. “Kami mencoba mengolah kopi terlebih dahulu sehingga harga jualnya lebih menguntungkan bisa sampai dua kali lipat” jelasnya. Menurut Sukiman banyak petani yang lebih sejahtera setelah melakukan diversifikasi dan alih tanam ke tanaman sayuran atau kopi. Pengalaman yang sama terjadi di Bondowoso, Jawa Timur, yang menunjukkan banyak petani tembakau beralih menanam padi organik. 

Pengalaman petani yang beralih tanam dan menggunakan pola polikultur ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh MTCC Magelang dan MTCC Yogyakarta pada tahun 2015. Data penelitian tersebut menunjukkan 33,7% petani tembakau di Jatim, Jateng dan NTB ingin beralih ke tanaman lain atau melakukan diversifikasi. Lebih lanjut Fauzi Ahmad Nur menyatakan bahwa beralih tanaman ke komoditas lain terbukti lebih menguntungkan. “99% petani yang sudah beralih atau mendiversifikasi merasakan puas dengan keputusannya beralih dari tanaman tembakau” ujar Fauzi Ahmad Nur, peneliti dari the Union. 

Perlu dukungan Semua Pihak

Dr. Tedy Dirhamsyah, perwakilan dari kementerian pertanian menyatakan bahwa proses diversifikasi yang dilakukan petani dari segi produksi sudah banyak yang berhasil. Sehingga menurutnya tugas dari hulu kementerian pertanian sudah cukup berhasil. Namun begitu, seringkali petani mengalami kendala karena soal harga yang dikendalikan oleh kementerian lain seperti kementerian perdagangan atau kementerian perindustrian.

“Penting bagi petani Tembakau untuk melakukan diversifikasi ke tanaman lain untuk mengurangi risiko yang dihadpai di komoditas tersebut” ujarnya. Lebih lanjuta ia menyatakan bahwa proses diversifikasi ini perlu dukungan dari berbagai pihak baik pemerintah maupun akademisi. 

Dalam konteks ini pula, Universitas Muhammadiyah Magelang berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan dan edukasi kepada petani agar pendapatan dan kesejaheraan mereka terus meningkat. Rektor UM Magelang, Dr. Suliswiyadi menambahkan bahwa UM Magelang akan menyelenggarakan sekolah petani bagi para petani binaannya dan juga membantu petani dan pemerintah untuk memberikan solusi dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh petani selama ini. 

Kedaulatan pangan akan dicapai, jika stok kebutuhan pangan tercukupi dan petani bisa mendapatkan kesejahteraan dan penghidupan yang layak. 

Rekaman Lengkap Webminar : https://www.youtube.com/watch?v=B74aMnb6sUg&t=9114s

Narahubung: Deni Wahyudi Kurniawan 081382392276

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *