Sabtu, 15 Agustus 2020
Home/ Berita/ Semangat Webinar, Semangat Produktif

Semangat Webinar, Semangat Produktif

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA - Di kala pandemi covid-19 dan era revolusi 4.0 orang semakin akrab dengan dunia digital, teknologi informasi, dan media sosial. Salah satunya kebiasaan baru berseminar melalui situs web atau Webinar. Webinar ialah kegiatan seminar yang dilakukan melalui situs web atau aplikasi berbasis internet. Orang saat ini makin gemar berwebinar, malah mulai keranjingan. Webinar menjadi kebiasaan baru yang meluas. Tiada hari tanpa webinar.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, kebiasaan baru webinar tentu positif. Orang kian aktif dan semangat bertukar ilmu dan informasi sehingga pikiran makin kaya dan maju.

“Webinar dalam dunia bisnis dapat menjadi media pemasaran bagi penyelenggara untuk menambah leads, yakni orang yang terindikasi tertarik dengan produk atau layanan atau pesan yang dibawa. Semakin sering orang atau lembaga menyelenggarakan webinar, makin tinggi harapannya untuk memperoleh leads,” tutur Haedar pada Kamis (2/7).

Webinar menjadi media efektif untuk promosi diri atau produk, termasuk produk isu ke ruang publik. Webinar dapat pula menjadi media menggerakkan massa atau orang banyak sesuai dengan kepentingan subjek melalui sosialisasi ide dan gagasan yang sudah dikemas sedemikian rupa. Banyak manfaat dan fungsi webinar secara ekonomi, politik, budaya, keagamaan, ideologi, dan kepentingan lainnya tergantung subjek penyelenggara.

Era dunia teknologi informasi, bagi Haedar memang niscaya untuk dihadapi sebagai dunia baru manusia dan masyarakat di zaman modern abad ke-21 saat ini. Karena itu dalam menghadapinya meniscayakan penguasaan dan bekal ilmu pengetahuan, teknologi, dan skill yang mencukupi. Penting juga kematangan kesadaran dan mentalitas agar pelaku tetap menjadi subjek yang produktif, bukan menjadi konsumen.

“Kalaupun menjadi konsumen, jadilah konsumen webinar yang kritis dan mau mengambil nilai positif. Bukan webinar untuk sesuatu yang bersifat konsumeristik, kesenangan, dan kegemaran minus makna. Bukan keranjingan webinar seperti orang senang mainan baru. Bukan pula webinar untuk webinar, lebih-lebih menjadi kecanduan webinar sambil lupa tugas lainnya,” imbuh Haedar.

Webinar dapat dijadikan media pengembangan diri dan lingkungan sosial yang positif dan konstruktif. Bagaimana masyarakat makin gemar berilmu, memperoleh pengetahuan dan informasi yang benar, serta pemahaman dunia yang mencerdaskan, memajukan, dan mencerahkan. Dari webinar lahir masyarakat ilmu yang berbudaya iqra.

“Lebih dari itu, webinar penting menumbuhkan produktivitas. Sesuatu yang menghasilkan makna dan manfaat positif untuk kemajuan hidup diri dan masyarakat luas. Webinar bagi kemajuan kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta yang rahmatan lil-'alamin,” ucap Haedar.

Khusus bagi warga Muhammadiyah, webinar penting untuk menjadi media memajukan Persyarikatan dalam segala bidang geraknya. Webinar sebagai wahana untuk memajukan kehidupan keagamaan, pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan kegiatan dakwah hingga ke bawah.

“Webinar menjadi alat penggerak Persyarikatan. Bukan webinar untuk sebagai kegemaran tanpa implikasi pada kemajuan Muhammadiyah. Kita diingatkan Allah dalam Al-Quran yang artinya, "Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan" (QS Ash-Shaff: 3),” tegas Haedar.

Apa pengaruh webinar untuk kemajuan seluruh lingkungan Persyarikatan? Lebih khusus lagi, karena webinar jangan melalaikan pekerjaan dan tugas utama setiap anggota dan pimpinan dalam Persyarikatan. Apakah program-program Muhammadiyah, Aisyiyah, organisasi otonom lainnya, majelis, lembaga,amal usaha, dan kegiatan internal Persyarikatan dibicarakan dan dilaksanakan sehingga Muhammadiyah tetap bergerak meskipun di saat kondisi pandemi Covid-19.

“Sama halnya ketika di antara kita sangat peduli pada isu-isu luar, apakah perhatian terhadap pekerjaan rumah Muhammadiyah tetap diutamakan sehingga tanggungjawab berorganisasi tertunaikan sebagaimana mestinya. Semua memerlukan komitmen yang terfokus dalam mengurus Persyarikatan Muhammadiyah,” pungkas Haedar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *