Sabtu, 15 Agustus 2020
Home/ Berita/ Lewat Program Budikdamber, MPM dan UGM Bangun Ketahanan Pangan Keluarga di Tengah Pandemi

Lewat Program Budikdamber, MPM dan UGM Bangun Ketahanan Pangan Keluarga di Tengah Pandemi

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Fakultas Pertanian (Faperta) Univeritas Gadjah Mada (UGM) tindaklanjuti kerjasama ketahanan pangan keluarga melalui Budidaya Ikan Dalam Ember (Budikdamber).

Suadi, Dosen Faperta UGM dalam paparannya menjelaskan, untuk menjaga ketersediaan atas kebutuhan konsumsi protein keluarga kelas menengah adalah dengan memanfaatkan lahan sempit disekitar rumah/hunian. Terlebih di masa pandemi covid-19, keluarga pra sejahtera jangan sampai lepas perhatian.

“Cara budidaya ini termasuk yang mudah untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga, secara aplikasi atau penerapan dalam perawatan juga tidak membutuhkan keahlian khusus,” katanya di sela acara pelatihan kepada kelompok dampingan MPM pada Ahad (28/6).

Selanjutnya, rentang waktu yang dibutuhkan mulai dari tebar benih sampai siap panen ikan lele dibutuhkan waktu kurang lebih 10 minggu atau 2,5 – 3 bulan. Dalam setiap ember yang berkapasitas 80 liter air bisa ditebar sebanyak 100 ekor bibit ikan lele. Selain untuk ikan, pada atas tutup ember yang digunakan juga dimanfaatkan dengan melubangi sebagai tempat budidaya sayur.

“Untuk media tanam sayur kita tidak memakai tanah, akan tetapi kita ganti dengan rockwool. Dan untuk memudahkan menguras atau menganti air, kita pasang kran di sisi samping bagian bawah ember untuk lebih memudahkan menganti atau menguras air jika kotor,” tuturnya.

Sementara itu, ditemui secara terpisah, M Nurul Yamin, Ketua MPM PP Muhammadiyah berpendapat bahwa, pelatihan yang dilakukan ini adalah usaha berdaya di tengah wabah covid-19 yang dilakukan atas kejasama MPM dan Faperta UGM. Secara kusus, Yamin menyebut pendampingan yang dilakukan adalah program penguatan sosial ekonomi keluarga dan kelompok.

“Program ini kita lakukan di tiga kelompok dampingan, Pemulung, Pedagang Asongan, dan Kelompok Difabel. Kegiatan ini merupakan program sosial ekonomi untuk terdampak covid-19 bagi kelompok rentan di DIY, hasil kerjasama antara MPM dan Faperta UGM,” jelasnya.

Penyuluhan dilakukan pada 27 sampai 28 Juni 2020 di Kampung Taman Sari, untuk kelompok Asongan, di Ngaglik-Sleman untuk kelompok difabel dan di TPST Piyungan untuk kelompok Pemulung. Dipecahnya menjadi tiga lokasi dimaksudkan untuk mengurangi kerumunan massa, serta untuk tetap taat protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah dan Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC).

Pendampingan yang diberikan begitu berarti bagi kelompok rentan, terlebih di saat wabah covid-19. Pemberian bantuan non-karikatif bagi mereka supaya tetap bisa bertahan. Kedepan saat panen, ikan Lele ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan sehari-hari. Namun juga memiliki nilai bisnis kuliner yang menarik, salah satunya dijadikan Abon Ikan Lele.

Abon sendiri merupakan makanan yang berasal dari serat daging hewan seperti daging sapi, kambing, kuda, dan domba. Namun bisa juga menggunakan bahan dasar dari ikan laut dan tawar seperti ikan tuna, toongkol, lele, belut, maupun udang. Karena ikan Lele bisa dijadikan Abon, maka pembudiayaan ikan Lele ini bisa menjadi ladang bisnis kuliner yang cukup menjanjikan.

“Harapan saya kedepan adalah bagaimana ketika panen (ikan Lele) nanti, tentu tidak hanya dijadikan sebagai pangan untuk mencukupi kebutuhan, namun bagaimana cara kita berpikir agar Lele yang kita panen nanti dapat menjadi modal usaha, salah satunya Saya akan membuat Abon,” tutur Siti, Ketua Kelompok Dampingan Asongan.

Adanya Budikdamber ini diharapkan bisa merubah mindset masyarakat tentang kegiatan budidaya ikan dan sayur, yang membutuhkan lahan luas. Budikdamber Kit tidak hanya diberikan percuma, akan tetapi juga diberikan pendampingan berkelanjutan sampai panen. (muhamad/a'n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *