Senin, 13 Juli 2020
Home/ Berita/ Dua Hal yang Mempengaruhi Masyarakat Akibat Pendemi Covid-19

Dua Hal yang Mempengaruhi Masyarakat Akibat Pendemi Covid-19

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA-- Angkat persoalan anak di tengah pandemi, Majelis Pelayanan Sosial (MPS) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah gelar diskusi bertema Kebijakan Kenormalan Baru DaIa  masa Pandemi Covid-19 “Melindungi atau Membahayakan Anak ?” pada Kamis (4/5) melalui media daring.

Agus Samsudin, Ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) PP Muhammadiyah memaparkan, meskipun belum melakukan penanganan secara khusus kepada anak-anak, bukan berarti MCCC berlaku diskriminasi. Karena pada tahap awal, fokus penanganan MCCC pada dua bulan awal kepada pelayanan kesehatan.

Langkah ini diambil karena keadaan kritis yang sedang dialami oleh pelayanan kesehatan, terlebih susahnya mendapatkan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para tenaga medis. Keadaan ini menyangkut kesiapan Rumah Sakit milik Muhammadiyah  dalam memberikan pelayanan pasien terpapar covid-19.

Selanjutnya masuk pada bulan ketiga dan keempat, penanganan yang dilakukan oleh MCCC berlanjut kepada edukasi terkiat covid-19, ibadah, dan dampak-dampak psikologis. Saat ini MCCC menyiapkan 60 psikolog yang berasal dari Perguruan Tinggi, yang siap memberikan pelayanan melalui call center.

“Dampak ekonomi, sosial dan psikologis akan benar-benar terasa setelah lebaran ini,” ucapnya.

Menurutnya, terdapat dua aspek yang berpengaruh besar terhadap perubahan yang dialami oleh masyarakat akibat pandemi covid-19. Yaitu disebabkan faktor ekonomi, dan psikologi. Kedepan langkah yang akan diambil oleh MCCC akan lebih spesifik, khususnya bantuan kepada perempuan dan anak-anak.

Langkah yang diambil pada penanganan tahap ini MCCC akan membuat program secara spesifik kepada anak-anak dan pesantren. Terkait ini, MCCC mengandeng Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah, serta majelis dan lembaga terkait.

“Sampai sejauh ini kita berpendapat bahwa anak SD tidak masuk sekolah, tahun ajarannya tetap jalan tapi masuknya akan kita hitung lagi,” tuturnya.

Muhammadiyah dalam penanganan pandemi covid-19 platformnya adalah tidak boleh ada satu jiwa yang menjadi korban, artinya keselamatan jiwa adalah yang utama. Terlebih kepada anak-anak di tengah wabah yang masih fluktuatif, Muhammadiyah menerapkan zero tolerance terhadap segala macam aktivitas anak yang berpotensi besar menjadi mata rantai penyebaran covid-19.

Sementara itu, Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Nahar Sazah mengatakan yang paling diwaspadai dari covid-19 adalah kesehatan, ekonomi kemudian dampak sosial.

Dari laporan yang diterima, Nahar menyangkan banyak diskriminasi yang menimpa anak-anak yang terdampak covid-19, baik terpapar langsung atau karena orang tuanya yang terpapar. Anak, kondisi orang tua dan situasi pandemi saling berhubungan. Dalam kondisi apapun, perlindungan terhadap anak harus tetap dilaksanakan.

Dalam paparannya, Nahar mengapresiasi kinerja yang dilakukan oleh Muhammadiyah dalam penanganan wabah pandemi covid-19. Apresiasi tersebut diberikan karena kebijakan yang penuh perhitungan dan tidak buru-buru oleh Muhammadiyah dalam membuka atau mengaktivasi sekolah-sekolah miliknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *