Kamis, 09 Juli 2020
Home/ Berita/ Buya Syafi'i, Sosok Negarawan yang Langka

Buya Syafi'i, Sosok Negarawan yang Langka

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, pada lingkup yang lebih luas, keteladanan konsistensi sikap Buya Syafi’i Ma’arif  yang otentik dalam menjaga kesesuaian antara perkataan dengan perbuatan menurut Haedar perlu diteladani oleh semua warga bangsa, terutama bagi para tokoh politik dan tokoh agama yang populis.
 
“Beliau tidak anti kekuasaan dan tidak anti rezim, tapi juga tidak larut dalam rezim itu. Buya ingin menghadirkan Islam, Muhammadiyah dan wawasan kebangsaan yang merawat kemajemukan. Dalam konteks kenegaraan, kita perlu pemikiran dan orientasi sosok bangsa dari puncak hingga bawah yang kenegarawanan, yakni meletakkan kepentingan bangsa yang lebih luas secara jujur otentik di atas kepentingan kelompok, golongan atau pribadi,” jelas Haedar pada Sabtu (30/5) dalam acara Bincang Jaringan Intelektual Berkemajuan (JIB) "Mencari Negarawan".
 
“Populisme penting tapi yang otentik. Buktikan dengan kebijakan dan langkah-langkah yang memihak kepentingan rakyat yang membawa rakyat ini maju, bukan populisme parsial dan simbolik, hanya menyenangkan hati rakyat tapi tidak pernah mengubah nasib rakyat yang menderita termarginalisasi dari terhegemoni oleh banyak kekuatan politik dan ekonomi, yang akhirnya hanya menjadi objek penderita dalam setiap kontestasi politik atas nama populisme. Termasuk populisme dalam agama. Agama jangan hanya dijadikan alat, apalagi disertai kepentingan politik terselubung yang membuat umat terombang ambing, saling terlibat dalam konflik kepentingan agama, bahkan dengan sentimen keagamaan. Ini tanggungjawab politisi, negarawan, dan kekuatan agama,” urainya.
 
Menurut Haedar, usia tidak menghentikan Syafi’i Ma’arif untuk merasa lelah dan berhenti mengkritik negara yang dianggap lalai dalam mengamalkan Pancasila di luar jargon dan seremonial belaka. 
 
“Kita menghendaki agar jiwa negarawan itu menjadi alam pikiran kolektif kita berbangsa. Masa depan Indonesia tergantung kita. Saat ini kita sudah sangat-sangat liberal. Yang kuat yang menang. Pasti yang punya kekuatan politik menentukan warna negara ini. Tapi apakah mereka mau mendengar, yang mengkritik jangan dibilang makar sampai terbukti sebagai makar. Tapi yang menyuarakan kebenaran itu juga harus otentik, jangan menyelinap dan membawa kepentingan dan alam pikirannya sendiri,” tutup Haedar. (afn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *