Kamis, 09 Juli 2020
Home/ Berita/ Peran Amal Sosial dalam Sejarah Pergerakan Muhammadiyah

Peran Amal Sosial dalam Sejarah Pergerakan Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.ID, KLATEN - Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengadakan diskusi daring bertemakan Mencari Jejak Sejarah Lokal Muhammadiyah pada Jumat (29/5). Ketua MPI PP Muhammadiyah Muchlas Arkanudin memberikan kata sambutan yang menjelaskan tentang peran Muhammadiyah dalam mengisi kantong-kantong peradaban Indonesia.

“Muhammadiyah telah mengisi timeline awal sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan, dan sekarang mengisi kemerdekaannya. Semua di timeline-timeline tersebut, Muhammadiyah memberikan kontribusi besar di dalam sejarah peradaban Indonesia ini. Tentu kita berharap tidak hanya secara faktual, tetapi juga termuat dalam dokumentasi-dokumentasi di level nasional,” ujar Muchlas.

Rektor Universitas Ahmad Dahlan ini berharap kehadiran museum Muhammadiyah dapat merebut tafsir sejarah. Dengan adanya museum itu, kata Muclas, bisa memberikan satu ekspresi aktivitas dan peran Muhammadiyah di dalam sejarah pergerakan Islam di Indonesia.

Sementara itu, Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah Wiwid Widyastuti menyampaikan bahwa aspek ekonomi menjadi satu media yang sangat penting dalam konteks pengembangan Muhammadiyah di luar Yogyakarta. Inilah salah satu kekuatan yang dimiliki oleh Muhammadiyah sejak awal berdiri.

Ada pengembangan menarik ketika Muhammadiyah tumbuh subut di luar Yogyakarta, pergerakan ekonomi menjadi salah satu media yang sangat utama dalam konteks. Puzzle-puzzle sejarah lokal ini harus dikumpulkan untuk membentuk kebesaran Muhammadiyah,” kata Widyastuti.

Bagi Widyastuti, penulisan sejarah lokal Muhammadiyah ini berburu dengan waktu. Meski demikian, MPI masih punya waktu untuk mengumpulkan data-data. "Muhammadiyah pasti memiliki banyak tokoh lokal, yang itu harus kita angkat. Tulisan sejarah lokal dan pendokumentasian yang bagus adalah media untuk informasi dan transformasi nilai, ini yang penting kita lakukan saat ini," terangnya.

Roni Tabroni juga menambahkan bahwa kelahiran Muhammadiyah di daerah berbeda dengan pergerakan Islam yang lain. Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah ini menjelaskan bahwa di mana Muhammadiyah berdiri, di sana pasti ada kegiatan amal sosial.

“Muhammadiyah tidak akan lahir di sebuah daerah, atau di tingkat ranting sekalipun, kalau di situ tidak ada amal usaha atau tidak ada kegiatan. Beda mungkin dengan organisasi lain yang mereka bermodalkan plang, mereka bisa mengklaim diri. Tapi Muhammadiyah mesti ada kiprahnya dulu, baru akan diakui secara institusi. Karena itu, ketika kita melihat Muhammadiyah di sebuah pelosok desa, di situ pasti ada kiprah Muhammadiyah,” terang Roni.  (ilham)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *