Kamis, 28 Mei 2020
Home/ Berita/ Kecemasan Akan Corona dan Memudarnya Rasa Empati

Kecemasan Akan Corona dan Memudarnya Rasa Empati

Oleh: Ilham Ibrahim

Banyak prediksi yang meramal kapan Covid-19 akan berakhir. Namun semua nubuwat yang mereka lontarkan tak memberikan kepastian yang memuaskan kapan si mikroba antagonis ini akan musnah. Sementara ini, dalam memutus rantai penyebaran, para ilmuwan menganjurkan agar melakukan jaga-jarak untuk meminimalisir ekspansi virus.

Para ilmuwan sulit meramal kapan akhir dari semua episode Coronavirus karena penularannya begitu cepat yang membuat karakter Covid-19 menyukai kerumunan orang. Ini menjadi cobaan begitu berat bagi manusia sebagai makhluk sosial yang selalu ingin berkumpul dan berinteraksi. Boleh jadi, godaan untuk berkomunal sambil mengkhayal kematian hanya di tangan Tuhan selama ini berasal dari bisikan setan corona yang terkutuk.

Covid-19 dibenci dalam drama kehidupan mutakhir karena wataknya yang nakal: bermutasi dengan cara melompat dari gen inang satu ke gen inang lainnya, yang akibatnya dapat memperburuk masalah kesehatan. Begitu virus berhasil menetap, sel-sel yang ada dalam tubuh kita dibajak dan dijadikan ladang pertanian Covid-19 untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Plastik, besi, beton, dan kaca bukanlah lahan ideal untuk menyemai gen-gen mereka.

Sementara struktur anatomi kita menawarkan sejuta kemakmuran bagi makhluk mikroskopis ini, Covid-19 justru memberi kita penyakit demam, sesak nafas, dalam beberapa kasus hingga berujung pada kematian. Karenanya, penduduk dunia saat ini merasa khawatir sekaligus cemas kalau suatu saat dalam hidupnya, triliunan sel beserta sejumlah bakteri protagonis yang ada dalam tubuh mereka dibajak oleh virus dan menjadi ladang untuk bermutasi.

Kecemasan itu juga dirasakan bangsa Indonesia. Beberapa kali pemerintah kita mengatakan “jangan panik!”. Sayangnya, anjuran itu terlalu bias politis, ketimbang medis. Menurut beberapa kalangan seruan itu lebih tepat dilontarkan di lapangan kontra-terorisme ketimbang kontra-virus. Dalam perspektif evolusioner, kecemasan merupakan modal kita untuk bertahan hidup dalam ketidakpastian sekaligus pertahanan paling purba yang dimiliki semua hewan dalam menghadapi seleksi alam.

Perasaan cemas merupakan proses biokimia untuk menghitung probabilitas kelangsungan hidup.Orang-orang yang cemas akan kehadiran virus adalah mereka yang mematuhi nasehat dokter: melakukan cuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dengan siapa pun, dan menyemprotkan cairan disinfektan di ruang terbuka. Mereka terpaksa melakukannya lantaran secara tak sadar jutaan neuron di dalam otak dengan cepat menghitung data yang relevan dan menyimpulkan bahwa kalau sekiranya mereka tidak mematuhi nasehat dokter maka probabilitas kematian akibat virus akan semakin tinggi. Di tengah pandemi corona, ini jenis cemas yang diperlukan.

Imam al-Ghazali mengakui fungsi positif dari rasa cemas sebagai reaksi spontan anggota tubuhyang terstimulus untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu sebagai bentuk pertahanan diri dari ancaman.Namun Hujjatul Islam mengingatkan bahwa kecemasan dianggap buruk ketika individu tidak mampu mengontrol dirinya sehingga menjadikannya pribadi yang tidak efektif. Baginya, ketika dosis cemas pada tubuh manusia terlalu berlebihan akan membuat jiwa tak mampu berpikir rasional sehingga cenderung mengambil tindakan-tindakan yang tidak sewajarnya.

Dalam kasus terbaru di tanah air, kecemasan berlebih terhadap penularan virus corona memicu munculnya panic buying, penimbunan masker dan hand sanitizer, dan yang terakhir kasus penolakan jenazah pasien Covid19. Mereka khawatir jika virus yang bersemayam dari tubuh jenazah yang hendak dimakamkan akan menulari warga sekitar. Kekhawatiran dan kecemasan masyarakat yang berlebih merupakan hitungan matematis untung-rugi evolusioner. Secara tak sadar mereka menjalankan algoritma kausalitas yang menuntun gerak tubuh untuk menolak jenazah pasien Covid-19 dengan harapan mereka akan selamat dari kubangan wabah ini. Tetapi apakah keputusan algoritmatik mereka sepenuhnya benar?

Dalam Islam,apabila seseorang meninggal dunia maka ada hak-hak jenazah yang harus dipenuhi seperti bekerjasama setiap elemen masyarakat menguburkannya sampai ke liang lahat. Sebagaimana termuat dalam Hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa memakamkan jenazah adalah salah satu kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya. Dalam kondisi normal, proses pemakaman harus berjalan dengan kaidah yang sesuai prosedur syariat. 

Namun dunia terkadang tidak berjalan sebagaimana biasanya. Jika dalam kondisi darurat, seperti pasien virus corona, MUI dan Majelis Tarjih telah mengimbau agar prosedur pemakaman mengikuti protokol medis. Jenazah harus dikafani dengan menggunakan kain yang menutup semua organ tubuh, dimasukkan ke dalam kantong jenazah yang aman dan tertutup rapat, diletakkan di dalam peti yang tidak tembus air dan udara dengan dimiringkan ke kanan agar jenazah menghadap ke arah kiblat. Semua prosedur ini harus dilakukan dengan memakai Alat Pelindung Diri (APD).

Jika prosesi penguburan jenazah Covid-19 dilakukan sesuai dengan protokol medis, maka menurut para dokter, masyarakat tak perlu khawatir karena virus tidak terlalu lama hidup di benda-benda mati. Covid-19 bukanlah jenis makhluk yang dapat merayap, mencakar, mencabik, dan mengendus. Walau demikian dokter melarang peti dan kantong jenazah dibuka sebab benda-benda mati dapat menjadi vektor bagi patogen yang akan merusak sistem kekebalan tubuh. Intinya, selama peti dan kantong jenazah tertutup rapat dan tidak pernah dibuka, tak akan ada kuman yang bermutasi dalam tubuh kita.

Jika dalam kondisi normal segenap orang dianjurkan ikut serta dalam prosesi pemakaman, maka dalam rangkaian pemakaman jenazah Covid-19 peran masyarakat hanya menerima jenazah tersebut untuk dikuburkan di areal pemukiman mereka. Jadi masyarakat secara teknis tidak mesti ikut berpartisipasi menguburkan jenazah. Partisipasi mereka cukup memberikan kenyamanan bagi tenaga medis untuk menjalankan tugas-tugas mereka. Karenanya, penolakan terhadap prosesi pemakaman jenazah Covid-19 yang telah dijalankan sesuai protokol medis hingga menjamain keselamatan semua pihak merupakan pembangkangan terhadap hukum Islam.

Selain itu, adanya fenomena penolakan pemakaman jenazah penyintas Corona ini sungguh menyakiti perasaan keluarga korban. Karenanya, sebagai penduduk yang sejak Sekolah Dasar (SD) diajari sikap tenggang rasa, sepatutnya kita tak menyakiti perasaan orang lain. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Tirmidzi, Rasulullah melarang kita menyakiti perasaan jenazah karena secara tidak langsung akan menyakiti perasaan keluarganya.

Kelahiran manusia akan membawa sukacita, sedangkan kematian akan membawa kesedihan. Meskipun roda kehidupan tersebut diketahui dan disadari manusia, namun kematian tetap meninggalkan kesedihan bagi yang ditinggalkan. Perasaan keluarga akan semakin remuk apabila mendapati reaksi-reaksi yang menyakiti jenazah namun sesungguhnya menyakiti perasaan mereka.

Rasul tidak pernah menjatuhkan martabat dan harga diri seseorang di muka umum, sekalipun yang bersangkutan memang bersalah. Rasulullah piawai menentukan bentuk peka menghargai perasaan orang lain. Kelihaian menangkap perasaan seseorang dan menyikapinya dengan bijak merupakan bentuk kedewasaan, kemanusiaan, dan kepedulian yang paling nyata. Karenanya tidak sepatutnya kita menyakiti perasaan orang lain, sekalipun perasaan orang yang telah jadi mayat.

Pada kesimpulannya, Coronavirus memancing keluar pertahanan purba manusia berupa kemunculan perasaan cemas. Kecemasan yang dengan dosis proporsional dan masuk akal mungkin dapat menjadi penyelamat dari ancaman pandemi Corona. Sementara kecemasan yang berlebih akan menghilangkan akal sehat dan sisi kemanusiaan kita. Karena itulah, dalam menghadapi pandemi global ini, satu-satunya algoritma yang wajib dipercayai bukanlah kalkulasi tubuh diri sendiri melainkan dari hitung-hitungan para ilmuwan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *