Rabu, 30 September 2020
Home/ Berita/ Corona Sebagai Tolok Ukur Alam Berfikir Umat Islam Indonesia

Corona Sebagai Tolok Ukur Alam Berfikir Umat Islam Indonesia

Oleh: A’n Ardianto

Fenomena perdebatan posisi akal dan wahyu bukan hanya terjadi di Islam, melainkan di agama-agama lain tidak ubahanya sama. Di mana kebanyakan umat beragam masih memandang Wahyu dan akalsebagai suatu yang dipertentangan dan dipandangan melalui hubungan struktural. Alhasil, ada yang menempatkan akal diatas Wahyu ataupun sebaliknya. Padahal hubungan keduanya bisa diletakkansebagaihubungan fungsional, mengingat dua entitas ini tidak bisa berdiri masing-masing. Melainkan keduanya saling membutuhkan.

Padangan tersebut pernah disampaikan oleh Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Musa Asy’arie. Dalam acara Pengajian Ramadhan 1440 H yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah di UMY, Musa menyinggung bahwa orang berakal/ulul albab harus cerdik menempatkan antara kecerdasan intelektual dan wahyu sebagai guide manusia.

Kecerdikan menempatkan dua entitas tersebut akan menciptakan kekuatan besar bagi manusia beragama untuk menciptakan peradaban yang berkemajuan. Karena Wahyu akan tidak bisa digunakan sebagai pedoman hidup jika menegasikan akal, dan akal relatif akan melenceng/keluar jalur jika tidak dibimbing Wahyu. Namun jika melihat fenomena tidak diindahkannya fatwa ulama dan institusi ulama kredibel oleh umat Islam di Indonesiatentang wabah virus corona, sepertinya alam pikir umat masih melihat hubungan Wahyu dan akal secara struktural.

Sehingga imbauan untuk tidak berkerumun/melaksanakan sholat berjamaah di masjid selama wabah covid-19terus dipermasalahkan. "Hanya PKI yang melarang orang sholat di masjid". Teriak seorang jamaah masjid di salah satu daerah di Indonesia. Padahal bukan hanya PKI saja yang  melarang orang sholat berjamaah di masjid. Tapi Rasulullah juga pernah menegur orang yang bau mulut supaya tidak ikut sholat jamaah di masjid.

Jika diteorikan secara literal, menurut Emile Durkheim teori fungsional menganggap bahwa manusia dalam masyarakat sebagai suatu kesatuan/keseluruhan dengan sistem yang bekerja untuk menciptakan tatanan dan stabilitas sosial. Namun jika ditarik lebih luas yang mengaitkan antara peran akal manusia dengan wahyu sebagai pesan Tuhan. Maka, keberadaan akal sebagai representasi manusia menjadi kesatuan dalam sistem untuk memahami wahyu baik aqli maupun naqli.

Sehingga pelibatan akal dan wahyu sebagai penuntun manusia adalah mutlak dilakukan manusia sebagai upaya membangun peradaban lil alamin. Tidak boleh dipilih secara parsial, atau hanya menggunakan salah satu diantara dua entitas tersebut. Penggunaan akal dan wahyu secara fungsional diharapakan supaya dua entitas tersebut tidak lagi saling over lap.

Maka, jika alam pikiranumum masyarakat masih memandang hubungan akal dan Wahyu secara struktural, bisa dipastikan kejadian-kejadian seperti diatas akan selalu ada.Hubungan fungsional akal dan Wahyu sepertinya harus dijadikan akal pikiran umum umat Islam di Indonesia. Karena Tuhan telah memberikan akal kepada manusia, supaya manusia berusaha melakukan objektifikasi dan riset ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan umat manusia.

Dalam kasus wabah covid-19, sungguh tidak salah mempercayai hasil riset-riset kredibel sebagai pedoman hidup, tanpa harus menegasikan Wahyu, mengorbankan iman dan menanggalkan nyawa dengan 'konyol' disebabkan tidak ingin disebut menuhankan akal. Selain itu, di kitab suci (Al Qur'an) juga banyak perintah untuk menggunakan akal. Berarti menggunakan akal linier sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Allah SWT.

Berkaca dari hal itu sudah seharusnya umat Islam Indonesia dalam memahami teks suci/wahyu sebagai pesan Tuhan, tidak hanya ditinjau secara tekstual (bayani). Namun juga kontektual (burhani) dan secara jelas melibatkan kejernihan hati (irfani). Sehingga keberadaan teks suci (Al Qur’an) bisa memerankan fungsi secara maksimal, dan sebagai sumber inspirasi/petunjuk bagi manusia. Dengan demikian maka kesalahan bukan di Al Qur’annya, melainkan pada manusianya yang salah dalam memahaminya.

Namun terkait dimentahkan nya imbauan untuk tidak berkerumun/berjamaah di masjid oleh umat Islam di Indonesia, juga bisa ditinjau dari berbagai aspek. Catatan ini lebih melihat dari sisi paradigmatik. Namun persoalan tersebut juga bisa dilihat dari sosio-kultural Masyarakat, etnografi, sosio-ekonomi, kultural studies, dll. Artinya adalah problematika yang terjadi di masyarakat muncul bukan hanya dari faktor tunggal, melainkan banyak faktor yang melingkupi nya. Kejadian ini menyadarkan kita betapa pentingnya melihat persoalan memakai kacamata holistik-integratif maupun multi-interdispilin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *