Kamis, 28 Mei 2020
Home/ Berita/ Totalitas Muhammadiyah Melawan Pandemi Global

Totalitas Muhammadiyah Melawan Pandemi Global

Oleh: Ilham Ibrahim

Persyarikatan Muhammadiyah yang didirikan pada tahun 1912 M hadir di tengah kehidupan sosial masyarakat sebagai wujud solusi dalam setiap kondisi. Kendati menghadapi persoalan yang tidak ringan, di awal berdirinya Muhammadiyah dapat melewati tantangan dari penguasa penjajah Belanda saat itu. Spirit kemandirian yang menjadi prinsip sejak awal merupakan kunci kesuksesan Muhammadiyah dalam ladang amal sosial. Kini, Muhammadiyah mendapatkan tantangan baru untuk membuktikan perannya sebagai pelayan terbaik bagi umat. Tantangan itu bukan berasal dari ras manusia melainkan dari makhluk mikroskopis yang bahkan tak memiliki taring: Covid-19.

Covid-19 merupakan nama teknis virus corona yang berasal dari sebuah kota di China, Wuhan. Karena penyebarannya yang begitu cepat, WHO menetapkan Covid-19 menjadi masalah kesehatan global sejak 31 Januari 2020. Bukan hanya menakutkan karena bisa menyebabkan kematian dan menghancurkan ekonomi suatu negara, virus ini juga bisa memicu kekacauan sosial. Muhammadiyah sebagai gerakan sosial-keagamaan terpanggil untuk melaksanakan kerja-kerja kemanusiaan. Persyarikatan yang didirikan KH. Ahmad Dahlan ini memang selalu siap hadir menghadapi berbagai kondisi zaman yang terkadang kurang bersahabat. 

Tidak main-main, Muhammadiyah benar-benar serius menghadapi Covid-19. Ada tiga strategi vital yang dilakukan Muhammadiyah: Pertama, kesiapan fasilitas kesehatan; kedua, eksekusi di lapangan; ketiga, bimbingan keagamaan.

Pertama, kesiapan fasilitas kesehatan. Strategi pertama yang dilakukan menghadapi pandemi global ini adalah membentuk Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) pada Kamis 5 Maret 2020. Pembentukan MCCC merupakan upaya untuk memberikan edukasi secara medis kepada masyarakat bagaimana cara memutus penyebaran virus ini. MCCC juga kerap mengingatkan kembali pada masyarakat agar mengedepankan gaya hidup sehat. Dengan asupan makanan yang bergizi sehingga imunitas tubuh menjadi lebih kuat dan tak mudah terserang penyakit termasuk yang disebabkan Corona.

Pembentukan MCCC juga berkonsentrasi untuk mempersiapkan RS Muhammadiyah menangani pasien positif virus corona. Sekitar 20 RS Muhammadiyah telah siap sedia jadi rujukan pertama yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Supaya tidak mengambil alih porsi pemerintah, RS Muhammadiyah hanya menjadi RS rujukan awal. Jadi, misalnya, masyarakat yang memiliki keluhan dengan gejala yang sakitnya mirip Covid-19 dapat ke RS Muhammadiyah. Tapi RS Muhammadiyah hanya melakukan penanganan awal, selanjutnya akan dikirim ke RS rujukan pemerintah apabila benar-benar positif terjangkit Covid-19. 

Meski hanya penanganan awal, tapi ke-20 RS Muhammadiyah akan selalu siap dengan rencana kontinjensi atau rencana bencana terburuk. Apabila RS rujukan pemerintah kewalahan dengan peningkatan pasien Covid-19, maka RS Muhammadiyah akan siap menampungnya dan memberikan pelayanan terbaik untuk segenap pasien. Ketika butuh pertolongan Muhammadiyah akan hadir meminjamkan. Hal tersebut merupakan komitmen sejak awal Muhammadiyah untuk selalu siap all out membantu pasien dan Pemerintah Indonesia.

Kedua, eksekusi di lapangan. Peran Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dalam eksekusi lapangan mengusir wabah corona begitu dirasakan masyarakat. Jauh sebelum bencana pandemi corona, kiprah MDMC sendiri di dalam negeri sudah tidak terbantahkan. Perannya telah dirasakan dalam hampir tiap penanggulangan bencana yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Tidak heran bila di Indonesia saat ini MDMC merupakan satu-satunya Emergency Medical Team (EMT) yang terdaftar di WHO.

Saat pandemi corona dinyatakan sebagai wabah global, MDMC bersama Pemuda Muhammadiyah telah aktif melakukan berbagai tindakan-tindakan nyata mengusir mikroba parasit dari ruang-ruang publik. Menyemprotkan cairan disinfektan di masjid, gereja, kampus, dan sekolah. Membagikan masker dan hand sanitizer kepada masyarakat. Mengimbau secara langsung pada warga agar tak melakukan kumpul-kumpul secara massal. Mendirikan posko MCCC sebagai pusat edukasi dan informasi di berbagai daerah.

Sementara itu, tugas menggalang dana dilakukan Lazismu. Lazismu merupakan lembaga nirlaba tingkat nasional yang berkhidmat dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendayagunaan secara produktif dana zakat, infaq, wakaf dan dana kedermawanan lainnya. Budaya iuran kader selalu ditanamkan dan menjadi prinsip khas kemandirian Muhammadiyah. Kepercayaan masyarakat yang begitu besar pada Lazismu membuat Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) memberikan penghargaan kepada lembaga zakat Muhammadiyah ini sebagai pengelola zakat yang paling disiplin membuat laporan tahunan.

Baru-baru ini Lazismu telah menyerahkan bantuan sebesar Rp 5,5 miliar kepada MCCC. Alokasi dana bantuan itu salah satunya untuk pengadaan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga medis dan untuk meningkatkan kapasitas bangsal atau ruangan di rumah-rumah sakit. Selain itu, bekerjasama dengan MDMC dan Pemuda Muhammadiyah, sebagian donasi Lazismu diperuntukkan bagi masyarakat yang paling rawan terdampak seperti penyediaan hand sanitizer, masker, dan penyemprotan disinfektan.

Saat ini Lazismu sedang menggalang dana secara online, memanfaatkan solidaritas sipil. Inisiatif ini muncul karena imbas dari Covid-19 tak hanya berkaitan pada aspek kesehatan, tetapi juga sosial-ekonomi. Di Jawa Timur, misalnya, Lazismu telah membagikan ribuan makanan siap saji dalam kaleng kepada warga yang terdampak wabah. Rencana ke depan Lazismu akan berkolaborasi dengan lembaga zakat lain untuk membentuk program-program besar bersama. Program itu dalam rangka bagaimana agar menyediakan semacam payung ekonomi bagi kelompok masyarakat yang penghasilannya berbasis harian, para mustahik zakat, pemenuhan pangan keluarga pasien, dan lain-lain.

Ketiga, bimbingan keagamaan. Majelis Tabligh Muhammadiyah telah membeberkan betapa banyak yang keliru dari sikap sebagian umat Islam saat kedatangan Covid-19 di tanah air. Para muballigh Muhammadiyah telah memberikan pencerahan bahwa ungkapan ‘tidak takut corona, tapi takut kepada Allah’ bukanlah ciri umat Islam yang sebenar-benarnya. Mereka menyebut ‘neo-Jabariyyah’. Kelompok ini memiliki kecenderungan menyangkal temuan-temuan saintifik hanya untuk melegitimasi kebenaran eskatologis: bahwa kematian itu kuasa Tuhan, bukan kehendak Corona.

Dalam surat edaran PP Muhammadiyah yang disusun Majelis Tarjih mengungkapkan bahwa kedatangan Covid-19 merupakan salah satu musibah serta ujian dari Allah (QS. 3:142). Ujian tersebut menuntut manusia menjaga kualitas hidup yang baik dan sehat serta menghindari hal-hal yang merusak dan mengundang penyakit. Hal itu penting dilakukan mengingat fungsi kosmik manusia yang bertugas memakmurkan alam (QS. 11:61).

Dalam memberikan kenyamanan ibadah pada warganya, Muhammadiyah memandang usaha aktif mencegah penularan Covid-19 merupakan bentuk ibadah yang bernilai jihad, dan sebaliknya tindakan sengaja dan gegabah yang membawa pada risiko penularan merupakan tindakan buruk/zalim. Karenanya pelaksanaan ritual keagamaan secara komunal seperti salat Jumat diganti dengan salat dzuhur empat rakaat di rumah masing-masing, begitu juga dengan salat berjamaah di masjid dialihkan ke rumah masing-masing. Bahkan Muhammadiyah telah jauh melangkah menyiapkan sejumlah tuntunan keagamaan apabila kondisi Covid-19 tak mengalami penurunan hingga Ramadan dan Syawal.

Itulah tiga strategi Muhammadiyah menghadapi pandemi Corona, dimulai dari kesiapan fasilitas kesehatan, eksekusi di lapangan, dan bimbingan keagamaan. Para dokter dan tenaga medis memberikan edukasi dan informasi, para relawan terjun ke gelanggang, para ulama memayunginya dengan fatwa. Kolaborasi ini telah menandai sebuah transisi dramatis di mana masing-masing elemen Muhammadiyah saling bekerjasama membidik satu musuh yang sama: Covid-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *