Kamis, 28 Mei 2020
Home/ Berita/ Kelompok Pemulung Terdampak Imbas Covid-19, MPM Ambil Langkah Ini

Kelompok Pemulung Terdampak Imbas Covid-19, MPM Ambil Langkah Ini

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL—Kelompok rentan pemulung menjadi salah satu kelompok masyarakat yang merasakan imbas dengan merebaknya Virus Corona atau Covid-19. Memang tidak terkena imbas secara langsung, seperti permasalahan kesehatan, namun persoalan yang dihadapi mereka lebih mendasar dan berlapis-lapis.
 
Seperti yang diungkapkan oleh Mariyono, Ketua Kelompok Pemulung Makaryo Adi Ngayogyokarto (Mardiko) dampingan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah kepada tim muhammadiyah.id saat ditemui di kawasan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul pada Senin (30/3).
 
Ketika dinas dan pemerintah sedang disibukkan dengan pendemi covid-19, kelompok pemulung menurut Maryono seakan diabaikan. Berulang kali melaporkan ke dinas terkait perihal kejadian tanah longsor yang mengancam nyawa mereka tidak ada tindak lanjut. 
 
“Mereka beralasan belum kesini karena beralasan ada corona cirus, padahal tanah longsor di bukit yang bersebelahan dengan TPST yang sangat membahayakan warga," ungkap Maryono.
 
Selain ancaman corona virus, para pemulung saat ini juga sedang melawan wabah lain yakni Demam Berdarah (DB). Menurutnya, wabah DB di wilayah sekitar TPST masih menjadi ‘momok’ yang selalu mengikuti mereka, pasalnya pada bulan dua sampai empat untuk wilayah Bantul memasuki musim penghujan.
 
Hal tersebut diperparah dengan keadaan lingkungan yang tidak layak, selain itu selama setahun ini oleh pemerintah setempat belum ada tindakan penyemprotan/voging atau edukasi yang diberikan kepada kelompok pemulung. Sehingga saat ini terdapat satu angggota pemulung mengalami DB, namun belum ada perawatan serius.
 
Belum lepas ancaman kesehatan, kelompok rentan pemulung juga menghadapi persoalan ekonomi. Kejadian tersebut terkait dengan ditutupnya beberapa akses ke kota-kota tempat pengolahan lanjutan dari biji plastik. Shingga menyebabkan barang yang dikumpulkan oleh pemulung tidak bisa disetorkan.
 
“Mau kirim tidak bisa jadi semuanya lumpuh. Atom/plastik yang biasanya harganya Rp 4.000 kini menjadi Rp 1.000. dan rata-rata penghasilan kita sehari sebelum ini adalah Rp 40.000 – Rp 50.000 sekarang jadi Rp 15.000 – Rp 20.000," katanya.
 
Sementara untuk pemulung yang saat ini masih beraktifitas hanya berjumlah sekitar 250.000 orang, padahal biasanya bisa mencapai 500.000 orang lebih. Berkurangnya jumlah tersebut dikarena beberapa anggota yang berasal dari Wonosari, Gunungkidul balik kampung dan dihimbau untuk sementara waktu tidak dibolehkan melakukan aktifitas memulung di TPST Piyungan.
 
“Kalau gak mulung yang kasih makan kita siapa ? Padahal kita mulung ini untuk makan sehari-hari," tambahnya. 
 
Namun Maryono bersama beberapa anggota lainnya setidaknya bisa bernafas lega, karena menerima bantuan beras dari Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang disalurkan melalui MPM PP Muhammadiyah. Bantuan ini setidaknya bisa mencukupi kebutuhannya beberapa hari kedepan. Meskipun tidak banyak, namun bantun kecil tersebut bisa meringankan beban hidup mereka.
 
Ditemui secara terpisah, Ahmad Ma’ruf, Wakil Ketua MPM PP Muhammadiyah mengatakan bahwa, kelompok rentan seperti pemulung harus jadi prioritas untuk mendapat jaringan pengaman sosial, tidak saja untuk ketahanan makan tapi juga keselamatan kerja. Terlebih masa wabah saat ini, pemulung menangung beban resiko yang berlapis. 
 
“Karena pekerjaan memilah sampah berpotensi untuk penularan penyakit, melalui media tisu, masker bekas dan lain sebagainya. Sehingga kelompok pemulung sangat rentan tertular," pungkas Ma’ruf. (a'n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *