Senin, 28 September 2020
Home/ Berita/ Semangat Al-Maun Muhammadiyah Hadapi Penyebaran Covid-19

Semangat Al-Maun Muhammadiyah Hadapi Penyebaran Covid-19

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) hari ini Senin (23/3) gelar rapat bersama dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Majelis Diktilitbang PP, MPKU PP, MDMC PP, LazisMu PP, Rektor PTMA se-Yogyakarta dan Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
 
dr Agus Taufiqurrahman, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan, terkait gelora semangat Al Ma’un yang selama ini lekat di Muhammadiyah harus digerakkan dan digelorakan dalam penanganan kasus covid-19 yang sudah pandemic global, termasuk Indonesia.
 
“Perlu dibuka relawan kesehatan, selain dari unsur Rumah Sakit yang dimiliki Muhammadiyah. Juga relawan dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Asiyiyah yang berasal dari fakultas-fakultas kesehatan,” ungkapnya.
 
Rapat yang diselenggarakan di ruang Aula PP Muhammadiyah, Jl. Cik DItiro No. 23 Yogyakarta  ini juga dilakukan telekonferensiasi dengan RS Muhammadiyah dan Aisyiyah di beberapa wilayah yang menjadi RS rujukan bagi pasien Ciovid-19.
 
Dalam rapat ini juga dibahas tantangan terkini dan persiapan kedepannya terkait dengan semakin meluasnya persebaran virus Covid-19, anggaran dana, ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD), kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM), dan ketersediaan bat-obatan.
 
Memimpin jalannya rapat wakil ketua MCCC, dr Aldila S. Al Arfah menjelaskan terkait kerangka konsep Peran Muhammadiyah. Menurutnya, Muhammadiyah bisa berperan kedalam tiga hal, public health, kuratif, dan rehabilitatif. Tentang public health, peran Muhammadiyah meliputi promosi edukasi dan prevensi (PEP), serta berperan dalam pengawasan suspek/resiko tertinggi.
 
“Persyarikatan bisa mengerakkan seluruh instrument, termasuk Amal Usaha Kesehatan (Klinik dan RS), pendidkan sekolah tinggi yang memiliki kompetensi dalam bidang kesehatan,” tuturnya.
 
Sedangkan dalam peran kuratif pada tingkat awal Muhammadiyah bisa melakukan deteksi dini/screening, penanganan awal sesuai Simpton dan kemampuan RS, dan melakukan rujukan ke RS Rujukan pemerintah. Sedangkan pada peran lanjutan, AUMKes tidak dapat melayani namun harus tetap menyiapkan rencana kontijensi jika RS Pemerintah yang ditunjuk tidak mencukupi.
 
Peran pada rehabilitatif, Muhammadiyah bisa melakukan pemantauan pasca rawat inap. Namun pada tahap perawatan di RS tidak dapat melayani, akan tetapi harus menyiapkan rencana kontijensi jika RS Pemerintah yang ditunjuk tidak mencukupi.
 
Selain dilakukan rapat tatap muka, rapat ini juga dilakukan dengan telekonferensi yang diikuti 20 Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang berada di beberapa daerah di Indonesia. Diantaranya RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, RS PKU Muhammadiyah Bantul, RSM Lamongan, RS Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati, RS PKU Muhammadiyah Surakarta, Kendal, Gamping (Sleman), Wonosobo, Gombong (Kebumen), RS PKU Roemani Semarang, RS Fatimah Banyuwangi, RS UM Malang, RS Siti Khodijah Sepanjang Sidoarjo.
 
Serta, RS Muhammadiyah Palembang, RSM Metro Lampung, RSI PKU Muhammadiyah Palangkaraya, RSI Jakarta Cempaka Putih dan Pondok Kopi, RS ‘Aisyiyah Ponorogo, dan RS ‘Aisyiyah Muntilang. MCCC juga melibatkan Perguran Tinggi Muhammadiyah/’Aisyiyah, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan, dan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. (a’n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *