Kamis, 02 April 2020
Home/ Berita/ UMY Kembali Tambah Tiga Guru Besar

UMY Kembali Tambah Tiga Guru Besar

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL — Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mendapatkan tambahan Gur Besar baru, yakni Muhammad Azhar dan Hilman Latief sebagai guru besar bidang Ilmu Agama Islam, serta Mukti Fajar sebagai guru besar dalam Ilmu Hukum.

Gunawan Budiyanto, Rektor UMY mengungkapkan terimakasih kepada semua pihak yang mendorong lektor dan dosen untuk segera mencapai Guru Besarnya. Saat ini, UMY memiliki sebanyak 35 calon Guru Besar yang siap diajukan untuk menjadi Guru Besar.

“Capaian yang didapatkan UMY tahun ini, khususya Guru Besar merupakan capaian yang harus kita syukuri. Selain Guru Besar, UMY juga sedang mengejar perbaikan mutu di sektor lain. Misalnya dalam jurnal yang terindeks Scopus, UMY mengalami peningkatan yang dratis pada tahun ini,” ungkap Gunawan dalam acara Penyerahan SK 3 Guru Besar Baru UMY oleh LLDikti Wilayah V pada Kamis (27/2) di Ruang Sidang Utama gedung AR Fachruddin A.

Total, pada periode kepemimpinan Gunawan Budiyanto UMY berhasil menambah sebanyak 6 Guru Besar. Termasuk diantaranya adalah Guru Besar yang didapat Ketua Umum Pimpinan PusatMuhammadiyah, Haedar Nashir dalam bidang Sosiologi Islam yang dikukuhkan pada 12 Desember 2019 lalu.

“Total UMY memiliki 17 Guru Besar, dan pada bulan Maret nanti kita insyaa Allah juga akan menambah Guru Besar lagi. Untuk siapa dia, kita lihat aja nanti,” seloroh Cucu Pahlawan Nasional, Ki Bagus Hadikusumo ini.

Dalam hal ini pimpinan universitas menyediakan sistem informasi manajemen jenjang karier akademik dosen, sehingga memberikan kemudahan pemantauan kemajuan peningkatan angka kredit dosen. Di awal tahun 2020 ini, sedang dipersiapkan 8 berkas pengajuan ke jenjang Guru Besar dan 10 berkas pengajuan ke jenjang lektor kepala (Associate Professor).

Memberikan sambutan, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V, Prof Didi Achari menjelaskan, terkait lamanya masa tunggu yang terjadi dalam proses pengajuan guru besar. Selain proses peralihan dari lembaga yang mengkoordinasi Perguruan Tinggi menjadi lembaga layanan, LLDikti saat ini sedang banyak melakukan penataan.

“Kita saat ini ketika mendapat pengajuan guru besar yang diberikan dari pusat, di kami kita lakukan review ulang. Sehingga misalkan dari Kementrian yang isinya penolakan dan dikembalikan ke kami, kami kembalikan lagi yang diperkuat dengan satu dan lain hal,” urainya.

Dalam banyak kasus, proses pengajuan guru besar sering mengalami kendala seperti ini. Hal tersebut merupakan perjuangan pada sektor eksternal, sedangkan dalam sektor internal LLDikti bersepakat dalam menilai karya dosen, pihaknya membuat interpretasi yang sesuai peraturan dan menguntungkan bagi akademisi yang inigin mengajukan Guru Besar.

Kepada Muhammadiyah yang memiliki ratusan Perguruan Tinggi, Didi berharap dari Muhammadiyah supaya semakin banyak memberikan sumbangan dalam ilmu pengetahuan, khususnya melalui keberadaan Guru Besar yang nantinya bisa memberi sumbangsih berupa gagasan keilmuan yang berguna bagi umat, bangsa, dan negara.

“Kami minta kepada rektor, atau BPH kepada dosennya untuk menjadi guru besar karena kualitas perguruan tinggi kita akan terpengaruh dengan keberadaan guru besar yang ada. Dalam substansi keilmuannya tadi, terlebih kepada Muhammadiyah yang memiliki misi sebagai pencerah,” tuturnya.

Poin yang lain menurutnya terkait keberadaan Guru Besar di lembaga pendidikan tinggi adalah sebagai misi pencetak generasi baru. Yaitu mendidik, membimbing generasi baru, termasuk kawan dan juniornya untuk semakin bergiat dalam keilmuan supaya melahirkan guru besar semakin banyak.(a’n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *