Sabtu, 15 Agustus 2020
Home/ Berita/ Pendidikan Multikulturalisme di Sekolah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah

Pendidikan Multikulturalisme di Sekolah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah

Oleh Desvian Bandarsyah

*disampaikan dalam seminar pra Muktamar Muhammadiyah ke 48 di UM Tanggerang*

A, Pengantar

Keindonesiaan kita, secara historis dan empiris merupakan realitas yang berangkat dari warisan tradisi serta budaya kemajemukan. Sedemikian kayanya kemajemukan itu, maka pemahaman terhadap multikulturalitas dan paham multikulralisme perlu mendapat perhatian yang serius dari segenap kepentingan bangsa yang mendasarkan diri pada kondisi multi etnis, multi kultural, dan bahkan multi spiritual. Hal ini penting, untuk menjadi dasar bahwa dalam ritual perbedaan dan keragaman yang kompleks, Indonesia dan masyarakatnya dapat menjadikan keragaman dalam bingkai multikulturalitas sebagai modal dasar dari pembangunan yang dilandaskan pada kesadaran akan pentingnya sikap toleran dan saling menghargai, kebersamaan yang menumbuhkan persatuan dan yang dapat mengembangkan ide-ide kesatuan dan persatuan dalam keindonesiaan. Karena kita memahami dan menyadari keragaman dan multikulturalitas masyarakat Indonesia dapat menjadi potensi yang konflik dan memecah belah masyarakat dan bangsa kita.

Dalam perkembangan kekinian, multikulturalitas warisan sejarah dan budaya  masyarakat Indonesia, dihadapkan dengan perkembangan kehidupan dunia yang semakin kompleks dan menuntut munculnya sikap kebersamaan dalam kesatuan nation yang original dan dalam kesatuan budaya yang berciri keindonesiaan. Hal ini menjadi semakin mendesak dirasakan karena perkembangan dunia yang disebabkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi beserta turunannya, telah menjadikan munculnya persaingan antar bangsa dalam menguasai sumber-sumber kehidupan lokal, regional, dan global yang disebabkan semakin terbukanya sistem ekonomi dan politik antar negara dalam sistem yang semakin mengarah kepada uniformitas kultural sebagai konsekwensi bekerjanya gagasan dan praktek kapitalisme dan demokrasi liberal dalam dunia global, termasuk di kalangan masyarakat dan elite Indonesia.

Situasi itu semakin kompleks disebabkan berbagai gejala sosial yang muncul kepermukaan cenderung berkembang ke arah yang semakin mengeras. Hal itu terutama disebabkan oleh gempuran bertubi-tubi perilaku dan pola komunikasi elite dan masyarakat yang cenderung anti sosial dan lebih menonjolkan kepentingan dan keberpihakan terhadap kelompok sosial dan kelompok politiknya. Situasi ini menjadikan kontra produktif bagi kelangsungan kehidupan bersama dalam masyarakat dan bangsa. Keragaman dan multikulturalitas masyarakat dan bangsa Indonesia mengalami ujian akibat dinamika sosial yang semakin terbuka dengan pola komunikasi yang sangat intens dalam ruang media sosial di dunia maya. Hal ini mengkhawatirkan keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa.

Yang paling kasat mata dan dengan mudah dirasakan dari situasi itu adalah pemahaman dan kesadaran akan multikulturalitas dan keragaman yang rendah dari masyarakat dan kegagapan dalam merespon perkembangan kehidupan yang semakin terbuka dan kompleks. Arus informasi yang menghantam masyarakat tiada henti ditambah dengan pemahaman dan kesadaran terhadap keragaman bangsa Indonesia yang rendah, telah menyebabkan pola komunikasi masyarakat dalam kehidupan bersama menjadi bermasalah dan menumbuhsuburkan munculnya prasangka serta kecurigaan antar etnis, kelompok, bahkan agama yang berlatar ekonomi, politik, budaya dan bahkan agama.

Situasi ini tentu perlu dicermati dan diberikan solusi dengan pendekatan yang terukur dan sistematis. Pendidikan menjadi penting untuk meletakkan dan membangun fondasi pemahaman dan kesadaran tentang keragaman dan multikulturalitas yang telah given dalam masyarakat kita. Pendidikan kita, khususnya pendidikan Muhammadiyah dengan sekolah dan perguruan tingginya, diharapkan menjadi lokomotif dalam menggerakan pemahaman dan kesadaran generasi bangsa melalui kerja-kerja pendidikan yang menumbuhkan kesadaran sikap dan keberpihakan terhadap keragaman dan multikulturalitas  masyarakat Indonesia.

Diperlukan penyelenggaraan pendidikan yang dapat memberi kepastian bagi keberlangsungan proses menyemai nilai-nilai yang memberikan penghargaan terhadap sikap toleran, kebersamaan, dan saling menghargai yang dapat menopang dan memberikan daya dukung bagi kelangsungan keragaman dan multikulturalitas pada masyarakat.

Tulisan ini dimaksudkan mengkaji warisan sejarah, tradisi, dan nilai pluralisme di Muhammadiyah juga peran dan peluang, serta tantangannya dalam menyelenggarakan pendidikan multikuralisme di sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah.

B. LegacySejarah,  Tradisi, dan Nilai Multikulturalisme di Muhammadiyah

Paham multikulturalisme dalam legacy sejarah, tradisi dan nilai di Muhammadiyah memiliki narasi yang panjang sejalan dengan perkembangan Muhammadiyah dari masa ke masa. Oleh Ahmad Dahlan, paham multikulturalisme diperlakukan dengan sangat mewah dan berjalan sejajar antara pemikiran, ucapan dan tindakannya. Sikap toleran, keterbukaan, yang didasarkan pada keteguhan iman yang dicontohkan Ahmad Dahlan, seharusnya menjadi rujukan keteladanan utama yang autentik dalam menjalani kehidupan yang toleran, saling memberi penghormatan, dan penghargaan antar rumat beragama di Indonesia, terutama bagi segenap lapisan warga Persarikatan Muhammadiyah.

Ketika mendirikan Muhammadiyah, gagasan dan tindakan yang dimiliki dan dilakukan Ahmad Dahlan terhitung sangat original pada waktu itu. Itu bisa dilacak dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Muhammadiyah (AD dan ART) yang pertama kali diajukan dan disahkan Pemerintah Hindia Belanda. Dalam kriteria tentang Anggota Istimewa dan anggota Donatur yang diatur AD dan ART, memberi ruang bagi pemeluk agama lain selain Islam, juga bangsa lain selain Indonesia. Padahal pandangan masyarakat Islam pada masa itu mengharamkan seorang Muslim berteman dengan orang-orang Belanda dan Non Muslim, mengingat bahwa mereka adalah penjajah yang menyengsarakan umat Islam dan harus diperangi. Tetapi Ahmad Dahlan justru berkerja sama dengan dokter-dokter berkebangsaan Belanda yang nota benenya beragama Nasrani. Pilihan sikap, ucapan dan tindakan sosial yang diambil Ahmad Dahlan tetap berbasis pada keyakinan dan tradisi teks yang diimaninya. Pandangan multikulturalisme yang dimiliki Ahmad Dahlan bendasarkan pada teks Al Qur’an. Dalam konteks ini, Ahmad Dahlan merujuk pada ayat Al Qur’an dan Hadist sebagai tuntunan dalam berislam.

Yang menarik adalah bahwa Ahmad Dahlan merupakan pribadi yang kokoh dengan dua pandangan yang sangat berimbang, dunia dan akhirat yang sejajar. Sikap sosial yang toleran dan penuh penghormatan kepada sesama manusia sekalipun berbeda agama dan kebangsaannya, dimiliki dan dilaksanakan dengan sama kuatnya dalam memegang teguh prinsip dan ajaran Islam, sesuatu yang sulit dimiliki oleh kebanyakan manusia Indonesia yang hidup para hari ini. Meskipun Ahmad Dahlan bukan pengusung paham pluralisme ataupun sekularisme, tetapi afiliasi dan keberpihakannya kepada Islam sangatlah jelas, tetapi dalam konteks hubungan antar agama dan umat beragama sangat baik. Hal itu disebabkan oleh pemahaman dan kesadaran akan tradisi dan nilai kemanusiaan yang sangat kokoh, sehingga relasi sosialnya melintasi batas kesukuan dan keimanan. Sikap yang merefresentasikan Muslim yang sebenarnya dan sikap yang mewakili manusia dengan nalar kemanusiaan universal.

Hal itu berlangsung disebabkan oleh fakta sejarah, bahwa sosok Ahmad Dahlan yang memiliki pemikiran maju, terbuka, dan toleran disebabkan penguasaan karena ilmu dan keilmuan yang dimiliki secara mendalam. Tidak mengherankan kualitas dan kedalaman keilmuan yang dimilikinya, karena ia memiliki komitmen yang kokoh dengan ilmu dan keimuan, sebagaimana ia katakan:

Peringatan sedikit supaya menjadikan pikiran: ... orang itu harus dan wajib mencahari tambahnya pengetahuan, jangan sekali merasa cukup dengan pengetahuannya sendiri, apakah pula menolak pengetahuan orang lain. ... Sehabis-habisnya pendidikannya akal, itulah dengan ilmoe manteq (pembicaraan yang cocok dengan kenyataan) semua ilmu pembicaraan harus dengan belajar. Sebab tidak ada lagi manusia, yang bisa tahu pelbagai-bagai nama dan bahasa, bilamana tidak ada yang mengajarnya, juga yang mengajarnya itu mengerti dari-pada guru-gurunya dan demikian selanjutnya.

Maka menjadi terang bederang bahwa sikap dan pemikiran serta tindakannya mendasarkan pada ilmu dan keilmuan yang dimilikinya, yang mendorong ia menjalankan pemahaman, kesadaran, sikap, pemikiran, dan tindakan yang menghargai multikulturalisme dan keragaman di sekitar kehidupannya.

Itulah gagasan “individualisme moral” yang merupakan produk sosial yang dilakukan atas prinsip dan refresentasi kolektif dari yang sakral (institusi agama). Etika individualisme yang melandaskan kebebasan manusia pada solidaritas komunal, suatu etika yang mengakui hak individu dalam hubungannya dengan keberadaan seluruh warga. Ini merupakan refresentasi pengalaman sesungguhnya dari cita-cita individualisme, dan merupakan satu-satunya jalan ke luar bagi persoalan bagaimana individu bisa tetap ”punya solidaritas sementara ia semakin menjadi otonom”. Semakin berilmu seseorang semakin otonom corak berpikirnya, semakin otonom corak berpikir seseorang semakin ia kehilangan egonya.

Beragama (Islam) seharusnya mendorong setiap pemeluknya untuk dapat melahirkan sikap toleransi dan empati dalam perspektif sosial kemasyarakatan. Inilah pantulan dari gagasan rahmatan lil'alaminyang ditawarkan oleh Islam sebagai agama yang mengusung nilai-nilai universal, itu juga yang di sandang dan dicontohkan oleh Ahmad Dahlan. Sebagai individu,kesadaran sosial dalam masyarakatnya dilandasi oleh moralitas sosial yang berangkat dari perspektif agama dan nilai sakral masyarakatnya yang terinternalisasi dalam kesadaran dirinya. Inilah yang mendorong loyalitas individual Ahmad Dahlandi dalam masyarakatnya di mana ia berada.

Kehidupan individu dalam masyarakatmyatidak terlepas dari komunitas budaya yang memiliki dua dimensi: budaya dan komunal. Ide loyalitas dan kewajiban terhadap kebudayaan seseorang mengisyaratkan adanya kesetiaan terhadap jalan hidupnya, termasuk nilai, cita-cita, sistem arti dan makna, serta kepekaan moral dan spritual. Kebudayaan yang dianut setiap individu memberikan pertalian kehidupan, memberikan sumber daya bagi dunia yang masuk akal, menginspirasikan, menjadi panduan moral, dan membantu kita mengatasi berbagai tragedi yang tidak terelakan.Semua itu menunjukkan apa yang telah dilakukan untuk kita, dapat dilihat bahwa cita-cita, sistem arti dan estetika, spiritual dan pencapaian kebudayaan lainnya mewakili keseluruhan visi yang sangat berharga mengenai kehidupan manusia dan memberikan sumbangan unik bagi modal kebudayaan moral manusia.Itulah legacy sejarah, tradisi dan nilai multikulturalisme yang dimiliki Muhammadiyah sebagai refresentasi moral Ahmad Dahlan.

Muhammadiyah menerima pluralitas agama, tetapi menolak pluralisme yang mengarah pada sinkretisme, sintesisme, dan relativisme. Karena itu, umat Islam diajak untuk memahami kemajemukan agama dan keberagamaan dengan mengembangkan tradisi toleransi dan hidup berdampingan secara damai. Dengan tetap meyakini kebenaran agamanya masing-masing, setiap individu dalam masyarakat hendaknya menghindari segala bentuk pemaksaan kehendak, ancaman, dan penyiaran agama yang menimbulkan konflik antar pemeluk agama. Gagasan dan sikap multi kulturalisme dalam beragama, yang dibangun dan dimiliki Muhammadiyah berangkat dari paradigma atas tafsir keagamaan yang mendorong kemaslahatan. Sebagai gerakan wasathiyah, Muhammadiyah menyatakan sikap keberagamaannya bersumber pada teks Al Qur’an dan warisan sejarah, nilai dan tradisi yang dimilikinya.

C. Gagasan Multikulturalisme dan Pendidikan Muhammadiyah

Muhammadiyah telah mewariskan sejarah, tradisi, nilai, serta praktek paham multikulturalisme dalam dakwah yang dijalankannya melalui pendidikan. Gasasan tentang pendidikan Muhammadiyah memiliki kewajiban untuk selalu mengacu pada bangunan kesadaran nalar kemanusiaan yang menjadi ciri dan karakter gerakan dan dakwahnya. Legacy semacam itu yang menjadikan pendidikan Muhammadiyah memiliki kapasitas dan tanggungjawab moral untuk menjalankan pendidikan yang memuat paham dan nilai multikulturalisme dalam kehidupan bersama.

Sebagai lembaga pendidikan dengan warisan sejarah, tradisi, dan nilai yang kokoh, pendidikan Muhammadiyah perlu merefleksikan dirinya kembali untuk menjalankan misi pendidikan yang dapat mencerahkan peradaban. Peradaban yang menghargai fitrah keragaman dan kemanusiaan, kehormatan dan penghargaan, kedamaian dan harmoni, hanya bisa dicapai manakala praktek pendidikan Muhammadiyah di sekolah dan perguruan tingginya mendorong proses pencerahan bagi peserta didiknya.

Proses pencerahan diperlukan, apabila kita ingin melihat manusia yang dididik menjadi terdidik dengan nilai-nilai dan paham multikulturalisme yang menempatkan harkat dan martabat diri kemanusiaannya pada tempat mulia. Itu berarti ia harus berbagi dengan kehidupan manusia lain dalam dunianya. Keberbagian itu berlandaskan pada pengakuan yang tulus terhadap perbedaan dan keragaman yang mensyaratkan setiap individu manusia perlu memiliki pemahaman dan kesadaran multikulturalisme dengan baik.

Pendidikan Muhammadiyah yang mencerahkan hanya jika ditujukan untuk membebaskan manusia dari belenggu kemalasan dan kepengecutan sebagai dampak kegagalannya mencapai kedewasaan yang disebabkan sikap pasrah terhada dogma dan tradisi membuta. Itu yang dikatakan Immanuel Kant, manusia kesohor dalam jagad filsafat Barat. Dengan kata lain individu yang terdidik adalah mereka yang berani berpikir sendiri.

Maka praktek pendidikan Muhammadiyah (di sekolah dan perguruan tinggi) perlu diletakkan dalam tujuan yang membebaskan individu dari belenggu mitos dan ketidakbenaran dalam bernalar. Kita menginginkan lahirnya generasi terdidik yang berani bernalar sendiri. Memiliki otonomi dan kemandirian dalam merespon dinamika kehidupan, tidak mudah terombang ambing dalam perubahan dan anomali cuaca sosial yang ditingkahi berbagai isyu sosial yang berlangsung pada masyarakatnya. Maka pendidikan Muhammadiyah menjadi urgen bagi generasi bangsa untuk meletakkan pijakan etik, nilai dan dasar-dasar bernalar yang kokoh bagi generasinya. Yang penting adalah integritas bernalarnya, bukan personalitinya. Ia bertujuan mengajak para pendidik berpikir jauh menembus batas terluar dan terdalam dari urgensi pendidikan dan informasi pengetahuan yang sarat dengan nilai pada materi di sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah, sehingga pendidikan dapat menuntun generasi bangsa kepada pemahaman dan kesadaran yang bisa membangkitkan potensi etik dan nalar kreatif serta nalar kritisnya.

Dengan kemandirian bernalar yang dimilikinya, mereka memiliki potensi untuk mengembangkan kemampuan menghargai kerumitan relasi sosial dalam keragaman budaya dan agama yang dapat mengungkap berbagai peristiwa yang melingkupinya dan menghargai berbagai realitas yang otonom. Kesadaran yang sama mendorong generasi kita untuk mengembangkan sikap waspada terhadap pemikiran yang besifat sederhana, dangkal, serta menghindari kecenderungan menghadapi berbagai fenomena buta, yang banyak berkembang dalam kesemuan dan kedangkalan dewasa ini. Inilah fenomena yang mewabah dalam masyarakat yang hidup di era digital. Kemampuan untuk memahami dan mengunyah pemahaman tidak sebanding dengan kemampuan mengetahuinya. Informasi memberikan pengetahuan yang melimpah tetapi tidak pemahaman yang mewah, maka ruang kesadaran bagi kehidupan bersama menyempit dalam masyarakatnya.

Dunia menggelinding dan kebanyakan kita sekedar melanjutkan tradisi dalam kehidupan yang pernah dialami dan dilakukan manusia terdahulu dalam kehidupan mereka. Maka sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah penting untuk menanamkan kesadaran kepada generasi yang didiknya menyangkut kenisbian dan dimensi relatifitas dalam kehidupan. Setiap individu perlu mengembangkan kesadaran mengenai sense of relatifity, karena kehidupan yang berjalan “tanpa ujung” selalu menghadirkan perubahan dan ketidakpastian bagi manusia. Pada situasi itu setiap entitas selalu memiliki ruang untuk berubah atau diubah oleh kehidupan. Begitulah dunia berjalan, sesungguhnya apa yang berlangsung hari ini hanya pemutaran ulang dari yang pernah berlangsung dalam kehidupan yang lalu. Maka untuk pengulangan semacam itu, pendidikan Muhammadiyah beserta guru dan dosennya tidak boleh bosan dan jera menjadi bagian dari yang aktor yang mengawal tradisi yang telah, sedang dan akan terus mengharu-birukan semesta jagad raya.

Gagasan pendidikan Muhammadiyah perlu mengusung pendidikan yang bermakna dengan konsep learning to know, learning to do, learning to be and learning to live together, yang ditawarkan oleh Unesco. Apabila pendidikan berjalan dengan bermakna, maka individu peserta didik akan mendapat pengetahuan bermakna, pengetahuan bermakna itu menyebabkan ia menjalaniperilaku bermakna dan akan menjadi pribadi yang bermakna serta dapat menjalani kehidupan bersama dengan penuh makna. Tetapi manakala yang berlangsung sebaliknya, maka proses pendidikan tidak akan memberi makna bagi dirinya. Inilah bentuk kecelakaan dalam pendidikan yang menihilkan konsep diri, konsekwensinya sangat serius bagi kehidupan, yaitu krisis kemanusiaan pada mahluk individu manusia. Suatu ironi, karena bagian paling berharga gagal tumbuh dan berkembang dalam diri individu manusia.

Praktek pendidikan yang bernilai semacam itu, sesungguhnya juga menjadi bagian integral dari keberadaan sekolah dan guru, yaitu rumah dan orang tua serta kebudayaan dan masyarakatnya. Tetapi cerita yang berlangsung pada dua aktor pembentuk generasi anak bangsa yang berkesadaran dalam kehidupannya, rumah dan orang tua, juga masyarakat dan kebudayaannya, nyaris setali tiga uang dengan keberadaan guru dan sekolah. Tuntutan kehidupan telah menjadikan rumah dan orang tua sebagai tempat persinggahan istirahat semata dengan interaksi nilai edukasi yang minim. Begitu juga masyarakat dan kebudayaan semakin kehilangan peran dan kehilangan fokus untuk membentuk karakter dan ethos generasinya akibat semakin tinggi dinamika sosial dan semakin rentannya posisi nilai dan kebudayaan kita dalam masyarakat. Maka, sekolah, keluarga dan masyarakat tidak saling berkelindan dan terhubungkan serta berjalan bukan hanya sendiri-sendiri dalam relnya masing-masing, tetapi juga saling bertabrakan. Tabrakan semacam itu yang sering menjadikan generasi yang dididik mengalami kematian atas potensi yang dimilikinya.

Maka yang diperlukan pendidikan Muhammadiyah adalah kembali kepada nilai dan tradisi mendidik dalam pendidikan yang sebenarnya, sesuatu yang sakral, yaitu pendidikan itu sendiri, yang tidak akan pernah dan tidak boleh berubah, hanya karena perkembangan dunia di luar sana yang semakin mekanis dan instrumental. Justrul pendidikan Muhammadiyah diperlukan kehadirannyadengan mengadakan kritik dan jika perlu perlawanan heroik terhadap kondisi dan tuntutan yang cenderung artifisial dan tergesa-gesa itu. Yang profan boleh berubah sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman, tetapi yang sakral tidak boleh berubah, agar generasi yang didik mengenal diri dan kemanusiaan yang mengendap dalam alam bawah sadar dan alam sadarnya. Agar nilai-nilai kearifan dan kebaikan hadir dalam kehidupan pribadi dan kehidupan bersama dalam masyarakat. Itulah yang sakral dari pendidikan Muhammadiyah, maka itu harus menjadi tujuan dari ide, gagasan, dan praktek pendidikan dan pengajaran di sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah.

Pendidikan dasar juga perlu mengangkat gagasan tentang kesetaraan dan penghormatan dalam setiap mata pelajaran dan diajarkan oleh guru dengan pendekatan yang benar, yang menghormati makna penting setiap mata pelajaran itu dalam keseluruhan wajah kurikulum pendidikan Muhammadiyah.Itu berarti perlu dilakukan “reinventing” atas spirit dan nilai Keislaman dan Kemuhammadiyah dalam kurikulum dan materi ajarnya.

Karena kurikulum dan materi ajar Keislaman dan Kemuhammadiyahan merupakan dimensi kesatuan yang jika dijalankan dalam praktek pendidikan yang benar menjadi totalitas yang membantu individu generasi yang didik untuk menemukan dirinya melalui proses pendidikan dan pembelajaran yang digelutinya serta mengenalkan ia dengan keragaman dan pemahaman multikulturalisme kehidupan dunia. Praktek pendidikan Keislaman dan Kemuhammadiyahan tidak bisa sekedar dilaksanakan seadanya dengan pendekatan mekanis tanpa jiwa dan makna. Setiap kekayaan nilai dalam ujaran dan ajarannya perlu disampaikan dengan metode dan pendekatan yang kuat. Sebagai suatu kebanggaan dalam tradisi pendidikan Muhammadiyah, mata pelajaran dan mata kuliah Keislaman dan Kemuhammadiyahan tidak jarang berlangsung tidak sebagaimana tujuan dan cita-citanya. Maka diperlukan penajaman visi pendidik dalam melihat keberadaan mata pelajaran itu.

Di tangan pendidik yang memiliki visi kuat, nilai, ujaran dan ajaran mata pelajaran dimaksud tidak semata-mata hadir dalam pendekatan kelasikal-tradisonal yang bertumpu pada kurikulum yang kaku dan berdiri di dalam mata pelajaran Keislaman dan Kemuhammadiyahan semata, tetapi ia dapat melakukan integrasi dengan kohesifitas ide dan pengembangan ide yang kuat dengan mata pelajaran lain, apakah dalam perspektif ilmuilmu sosial, maupun dalam perspektif ilmu-ilmu kealaman.

Maka hal itu menuntut setiap pendidik untuk menguasai tali temali dimensi keilmuan yang dimilikinya dengan spirit nilai Keislaman dan Kemuhammadiyahan dengan baik dan mendalam, sehingga esensi yang abtrak dari cita-cita pendidikan Muhammadiyah dapat ditangkap dengan utuh olehnya. Dengan demikian, nilai dan arti penting yang terdapat pada ide dan gagasan pendidikan Muhammadiyah dapat mengembangkan nalar dan ethos serta mentalitas yang generasi yang didik untuk memberikan apresiasi terhadap gagasan multikulturalisme tentang keragaman, toleransi, penghargaan, dan perhormatan dalam kehidupannya, sehingga pendidikan Muhammadiyah dapat melahirkan generasi yang siap bersaing dan berjuang sekaligus juga memberi ruang bagi keragaman dan multikulturalitas dalam kehidupan dengan etika dan martabat kemanusiaannya.

Maka yang dibutuhkan oleh pendidikan Muhammadiyah adalah pendidik yang baik dan handal, bagaimana menyiapkan pendidik yang baik dan handal bagi pendidikan? Banyak cara, banyak peluang dan juga banyak persoalan dan tantangannya. Tanpa adanya pendidik yang baik dan handal, maka kita sebenarnya tengah menyiapkan masa depan bangsa yang suram, karena pendidikan kita hanya akan berputar-putar dalam kebingungan bangsanya, pada akhirnya pendidikan kita tidak menghasilkan generasi yang dapat mengejar ketertinggalan bangsa ini dari berbagai bangsa lain di dunia.

Pendidik hakikatnya adalah penyambung tali peradaban, melalui ritualitas kerja yang panjang, peradaban masyarakat dan bangsa bahkan dunia dibentuk. Maka pendidik perlu dimuliakan. Memuliakan mereka pada dasarnya merupakan sebentuk harapan untuk terus memuliakan ilmu dan peradaban. Memuliakan pendidik adalah dengan memberikan pendidikan keguruan yang baik untuk mereka, karena dengan itu mereka menjadi pendidik yang kuat, berkarakter, berintegritas, serta memiliki kapasitas dan kapabiltas yang baik dan handal. Itulah cara menempatkan mereka dalam lingkungan kepentingan yang beradab bagi kehidupan. Jika kita kehilangan pendidik, maka hal itudapat menjadikan masyarakat kehilangan peradaban.

Dengan demikian diperlukan pendidikan keguruan yang baik bagi pendidikan Muhammadiyah yang bisa memberi kepastian bahwa kita mendidik para pendidik dengan benar. Karena itu kita perlu mendidik guru dan dosen kembali, sebelum mereka mendidik murid dan mahasiswanya. Menjadi guru yang baik bagi anak didiknya dan menjadi dosen yang baik bagi mahasiswanya. Itu suatu kemutlakan, tanpa itu tidak akan ada guru dan dosen yang baik, tanpa itu juga tidak akan ada generasi yang baik. Pendidik dan calon pendidik juga perlu menyadari, bahwa mereka perlu menjadi murid yang baik, karena untuk menjadi guru yang baik, adalah dengan menjadi murid yang baik. Sederhana sekali, tetapi memang tidak mudah mengurai kekusutan benang kualitas pendidik kita yang terhampar dalam hutan belantara pendidikan nasional kita.

Ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Ahmad Dahlan, bahwa pendidik harus menjalankan fungsi murid dan guru. Sebagai murid harus selalu mencari ilmu tanpa merasa pernah cukup, dan sebagai guru menyebarkan ilmu yang telah diperolehnya. Kunci terpenting memenuhi dua fungsi itu ialah dengan belajar ilmu filsafat (mantiq) yang kebanyakan pendidikan enggan mempelajarinya. Barulah guru menjadi baik dan handal serta dapat memenuhi tuntutan pendidikan Muhammadiyah yang terus berkembang dalam perubahan jaman. Kebutuhan akan guru yang baik dan handal sudah memasuki tahap yang sangat mendesak dan genting. Karena praktek pendidikan kita yang menghadapi banyak persoalan, tengah berkejaran dengan peluang dan kesempatan yang sedang membentang pada generasi emas Indonesia. Itulah peluang sekaligus tantangan bagi pendidikan Muhammadiyah yang membentang panjang ke depan perjalanan sejarahnya.

D. Penutup

Gagasan dan ide tentang pendidikan multikulturalisme tidak boleh berhenti pada sekedar gagasan dan ide semata, ia perlu dipraktekan dalam pendidikan Muhammadiyah. Mengingat bahwa ancaman terhadap kehidupan bersama yang memberikan tempat bagi sikap terbuka dan toleran, bagi keberagamaan yang inklusif, bagi individualisme yang humanis semakin menghadapi tantangan disebabkan oleh perkembangan dunia yang semakin kompleks.

Warisan sejarah, tradisi dan nilai yang diberikan Muhammadiyah perlu dipelajari dan dipraktekan dalam kehidupan bersama dan menjadi rujukan moral sosial, sekurang-kurangnya bagi kader persyarikatan. Untuk itu pendidikan Muhammadiyah perlu “reinventing” kembali dalam konteks ethos dan nilai pendidikan dengan menajamkan visi dan praktek pendidikan Keislaman dan Kemuhammadiyah, serta perlu mengintegrasikan dengan berbagai disipilin ilmu dalam setiap mata pelajaran di sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah. Itu diyakini dapat memberikan warna bagi perkembangan generasi terdidik dari bangsanya. Gagasan besar cita-cita pendidikan Muhammadiyah dapat dibumikan melalui perwujudan pendidikan yang bermakna. Realitas dan multikulturalisme sebagai sebuah paham yang diajarkan kepada generasi bangsa akan memberi kontribusi bagi tumbuhnya kesadaran kolektif dan kesadaran kemanusiaan untuk mewujudkan kehidupan kehidupan bersama yang harmoni atas dasar tolerasi dan penghormatan terhada keragaman dan perbedaan.

Materi lengkap dapat di unduh di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *