Rabu, 03 Juni 2020
Home/ Berita/ Ortom sebagai Basis Pengembangan Kader Persyarikatan, Umat, dan Bangsa

Ortom sebagai Basis Pengembangan Kader Persyarikatan, Umat, dan Bangsa

Oleh: Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Diyah Puspitarini

Pendahuluan

Ortom (organisasi otonom) adalah istilah yang dipakai untuk organisasi di bawah Muhammadiyah, bersifat otonom (memiliki AD/ART dan aturan sendiri) tetapi masih memiliki jalur koordinasi dengan Muhamamdiyah. Karena sifat otonom inilah, maka ortom mmeiliki kewenangan untuk mengatur sendiri organisasinya, bahkan terkadang memiliki pendapat dan keputusan organisasi yang independent berlaku untuk pimpinan, anggota hingga stakeholder yang terlibat. Ortom di Muhammadiyah ini adalah ‘Aisyiyah (ortom khusus), Hizbul Wathan, Nasyiatul Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan Tapak Suci. Tak jarang jika dicermati, Mars masing2 ortom ini terkadang saling berhubungan dan tersebut dalam salah satu baitnya, sebut saja Nasyiatul Aisyiyah dan ‘Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah dan Hizbul Wathan, pada bagian lain akan dibahas hubungan keterikatan ini lebih jauh.

Muhammadiyah memandang penting adanya ortom ini sebagai kawah candradimuka untuk pembentukan karakter “militansi dan loyalitas”, sebab proses pengkaderan yang dibentuk tentunya menyesuikan dengan kondisi filosofi gerakan ortom tersebut. Bagian kecil dari ortom ini akan tergabung dalam AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah) yaitu Nasyiatul Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Mereka terbentuk karena memiliki kesamaan sasaran anggota, yaitu usia muda, maka tersebutkan AMM. Selain itu AMM juga memiliki kesamaan corak gerakan yaitu progressif dan kritis terhadap kondisi masyarakat sekitar serta fleksibel terhadap perubahan social yang terjadi, maka tak jarang mereka mengkategorikan organisasinya sebagai “the young social movement”, yang selalu adaptif terhadap perubahan social yang terjadi. Maka tema-tema pengkaderannya juga bermuatan kritis dan transformative, artinya menajamkan pola analisa kognitif, advokasi serta capacity building sebagai dasar dari pembentukan karakter kepemimpinan. Sementara Hizbul Wathan dan Tapak Suci termasuk ortom yang mengkhususkan pada keahlian dan bakat minat, namun tetap memfokuskan pada aspek pembentukan kepemimpinan yang bersifat lebih situasional. Penempaan karakter tidak terlalu banyak mengedepankan aspek kognitif, namun lebih ke psikomotorik dan afektif. Maka jangan bandingkan jika hasil tempaan karakter kepemimpinan masing-masing ortom ini berbeda. Keragaman model karakter kepemimpinan inilah yang menjadi “menggelegar” ketika disatukan untuk memajukan persyarikatan, umat dan bangsa.

Proses yang dilalui oleh ortom di Muhammadiyah tentunya tidak lepas dari prinsip yang dianut bersama, yaitu keagamaan, pendidikan, social/kemasyarakatan yang terpola menurut garis haluan masing-masing ortom tersebut. Hal ini sesuai dengan konsep “Al Ma’un” dan “Al-Ashr” yang selalu diajarkan oleh Kyai Dahlan kepada murid-muridnya serta yang selalu dikaji pada pengajian Muhammadiyah, yaitu prinsip liberasi, profetik, humanis, serta futuristic. Gambaran konsep sempurna dari sebuah gerakan dalam rangka menjalankan roda geraknya yang tidak hanya sekedar menggelinding saja, namun selalu memiliki directing dan control social kepada pimpinan, kader dan anggotanya.

Landasan Sejarah dan Filosofi Ortom

Hizbul Wathan dan Nasyiatul Aisyiyah merupakan ortom awal yang didirikan, sama-sama didirikan oleh Somodirdjo, seorang guru Standart School Muhammadiyah, yang tentunya masing-masing memiliki latar belakang kondisi yang berbeda. Dalam usahanya untuk memajukan Muhammadiyah, ia menekankan bahwa perjuangan Muhammadiyah akan sangat terdorong dengan adanya peningkatan mutu ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada para muridnya, baik dalam bidang spiritual, intelektual, maupun jasmaninya.

Gagasan Somodirdjo ini digulirkan dalam bentuk menambah pelajaran praktik kepada para muridnya, dan diwadahi dalam kegiatan bersama. Pada tahun 1919 Somodirdjo berhasil mendirikan perkumpulan yang anggotanya terdiri dari para remaja putra-putri siswa Standart School Muhammadiyah. Perkumpulan tersebut diberi nama Siswa Praja (SP). Tujuan dibentuknya Siswa Praja adalah menanamkan rasa persatuan, memperbaiki akhlak, dan memperdalam agama, selanjutnya inilah yang menjadi cikal berdirinya Hizbul Wathan dan Nasyiatul AIsyiyah. HW diawal banyak mengajarkan baris-berbaris pada siswa, sementara NA banyak kegiatan yang berlatih berorganisasi, berbicara di depan umum, dan juga belajar ketrampilan.

Selanjutnya NA berada di bagian ‘Aisyiyah, sementara HW melahirkan Pemuda Muhammadiyah yang sleanjutnya masing-masing memisahkan diri menjadi ortom sendiri. Sementara kemunculan IPM, IMM dan Tapak Suci setelah era setelah kemerdekaan yang memiliki karakter yang berbeda pula, karena kondisi dan situasi kenegaraan sudah berbeda. Kepentingan akan peran kader yang ada di AMM pada dasarnya tidak sekedar untuk mencukupi hajat kebutuhan sesaat, tetapi bersifat jangka panjang dalam estafeta regenerasi untuk menjamin masa depan Muhammadiyah. Persemaian dalam ortom inilah yang melahirkan pemimpin-pemimpin di Muhammadiyah dari berbagai level saat ini, mereka telah terbentuk jiwa kepemimpinan ketika bergabung dalam berbagai ortom tersebut, sehingga biasanya pengalaman inilah yang membuat kememimpinannya tidak diragukan lagi.

Secara filosofis munculnya ortom di Muhammadiyah tidak bisa dipisahkan dari apa yang dicontohkan dan dilakukan oleh Kyai Ahmad Dahlan yang memperhatikan anak-anak muda dan juga mengajak dan mendidik mereka untuk belajar berorganisasi dan berdakwah. Apa yang dilakukan oleh Kyai Dahlan sebenarnya membukakan pemahaman bahwa regenerasi kepemimpinan sudah dipersiapkan beliau sejak awal berdirinya Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah demi menjaga kelangsungan organisasi di kemudian hari, disamping muncul tokoh-tokoh pemimpin dari Muhammadiyah.

Menelisik filosofi pentingnya regenerasi di tubuh Muhammadiyah terlandaskan bahwa konsep progresivisme dan eksistensialisme yang sangat kuat tergambar dalam kultur ortom maupun persyarikatan secara umum. Progresivisme digolongkan sebagai aliran yang bersikap anti terhadap otoritarianisme dan absolutisme dalam segala bentuk, baik yang kuno maupun yang modern, meliputi semua bidang kehidupan, terutama agama, moral, sosial politik dan ilmu pengetahuan. Selain itu, progresivisme percaya akan kemampuan manusia sebagai subjek yang memiliki potensi alamiah, terutama kekuatan-kekuatan self-regenerative untuk menghadapi dan mengatasi problematika hidupnya. Dalam filsafat pro-gresivisme, proses bukan hanya mentransformasikan pengetahuan kepada subjek saja, akan tetapi dengan proses tersebut diharapkan subyek bisa memahami realitas kehidupan yang akan terjadi di masa depan. Jadi, jelaslah bahwa orientasi aliran ini untuk masa depan yang lebih maju sesuai dengan kebutuhan (Muhammad Noor Syam: 1988). Pembentukan ortom diperuntukkan usia kanak-kanak hingga remaja, dengan formulasi pembentukan karakter dengan menjalani dan melihat realitas kehidupan social masyarakat Indonesia saat itu.

Progressivisme kaderisasi di Muhammadiyah melalui ortom ini menguatkan posisi sebagai gerakan berkemajuan karena mengutamakan proses penyiapan pemimpin dengan berbagai wadah yang sudah dipersiapkan. Setiap kader Muhammadiyah yang akan menjadi pemimpin tentunya dituntut untuk memposisikan individu yang eksis. Jika progressivisme adalah proses yang berlangsung selama perkaderan, maka eksistensialisme adalah salah satu karakter model yang dibentuk, dimana setiap individu bebas untuk menginginkan suatu pengakuan atas keberadaanya sendiri, ya kader harus diakui keberadaan, baik oleh persyarikatan, umat, dan bangsa.

Setiap ortom memiliki system perkaderan tersendiri disesuaikan dengan kebutuhan, sasaran, tujuan hingga proses pencapaian jangka panjang yang akan dicapai, maka sudah sangat tepat perkaderan di setiap ortom ini berjenjang. Perkaderan berjenjang ini menunjukkan bahwa perkaderan utama dan segala proses aktivitas dalam ortom tersebut merupakan kawah candradimuka untuk pembentukan kader, tidak hanya pengkaderan formal saja.

Konstelasi Ortom sebagai Kader Persyarikatan

Tercatat dalam sejarah, bahwa penyemaian basis  kader di persyarikatan dimulai dari ortom. Banyak kemungkinan seseorang bergabung di ortom, bisa jadi karena factor menempuh sekolah di sekolah Muhammadiyah, atau factor keluarga, hingga lingkungan sekitar, ataupun juga pertemanan. Tentunya penguatan ideology Muhammadiyah pertama kali digembleng di ortom, terutama AMM yang memang menuntut aspek kognitif seperti tersebut di atas. Dengan pola perkaderan berjenjang ini pula harapannya ideology Muhammadiyah utuh dan lengkap diajarkan serta dilaksanakan. Harapan sempurna muncul jika nantinya kader-kader ortom ini menjadi pimpinan Muhammadiyah yang loyalitas dan ideology Muhammadiyah nya tidak diragukan lagi. Hal ini pun saat ini terbukti bahwa nyatanya pimpinan Muhammadiyah di berbagai level di pimpin oleh mereka yang sebelumnya tertempa di ortom.

Disamping pelanjut estafet kepemimpinan, kader ortom ini juga harapannya sebagai penjaga gerbang ideology Muhammadiyah di tengah berbagai paham ideology dan gerakan yang sangat mungkin saja masuk dalam tubuh Muhammadiyah yang besar. Pemahaman ideology tidak hanya pada aspek Kemuhammadiyaha, namun juga pemahaman aqidah dan ibadah, sehingga menjadi manusia yang sebenar-benarnya. Jika ada yang mengatasnamakan kader namun beribadah tidak sesuai dengan Muhammadiyah meskipun aktif di ortom, maka proses pengkaderannya haruslah lebih dipertajam kembali. Sebab Kader adalah anggota inti yang menjadi bagian terpiilih dalam lingkaran dan lingkungan pimpinan, bisa pula berarti pasukan inti. Dalam pengertian lain secara bahasa berarti empat persegi panjang atau kerangka. Dengan demikian kader dapat didefinisikan sebagai kelompoh yang lebih besar dan terorganisir secar permanen. Kader ibarat jantung dalam suatu organisasi, jika kader lemah, maka lemah pula gerakan organisasi. Karena itu, kader adalah orang-orang terpilih yang mampu menjadi penggerak organisasi, menghidupkan organisasi dari dalam.

Melihat kondisi saat ini, sudah banyak kader-kader ortom dan AMM yang mulai menguatkan pimpinan Muhammadiyah terutama setelah selesai masa tugas di ortom, dan banyak pula yang menguatkan AUM, hal ini merupakan polarisasi menarik untuk juga menjaga ideologi rumah besar Muhammadiyah. Dan tidak sedikit pula para kader yang mengembangkan dan membuat AU Muhammadiyah yang lebih banyak dengan inovasi dan kreativitas sesuai dengan perkembangan zaman. Ini adalah hal baik bagi Muhammadiyah ditengah tuntutan kondisi social dan era milenial saat ini, makna sebagai organisasi berkemajuan akan selamanya terus bergulir.

Istilah transformasi kader antar ortom sudah lama sekali dibahas dalam setiap kajian pengkaderan Muhammadiyah? Bagaimana pelaksanaan di lapangan? Pada akhirnya hal ini bisa berjalan jika masing-masing individu tersebut juga sadar untuk melakukan transfer kader setelah masa tugas di ortom selesai, dan tentunya ortom di atasnya harus sigap dan tangkap untuk menerima kader tersebut. Maka harusnya juga ada gerakan untuk melakukan “tracer” kader di berbagai level pimpinan, agar kader ini tidak putus di tengah jalan.

Jalan Sunyi Ortom Sebagai Kader Umat

Mengapa jalan sunyi? Karena umat Islam di Indonesia semakin beragam, dan masing-masing memiliki koor nya yang bermazhab sendiri-sendiri. Kemajuan teknologi saat ini seiring masuknya era revolusi industry 4.0 membuat model-model penyampaian dakwah kepada umat Islam menjadi lebih beragam. Jika dulu Muhammadiyah dihadap-hadapkan dengan ormas Islam pribumi, saat ini gempuran Islam transnasional juga semakin mengeras. Bahkan umat saat ini pun tidak melihat aliran apakah dipelajari, namun lebih pada siapa yang menyampaikan, ya tokoh dan penokohan pada umat Islam masih sangat kental. Muncul adagium jika umat Islam lebih memilih mengikuti jamaah ustad-ustad youtube yang bisa jadi apa yang diajarkan hanya sesuai dengan pemahaman pribadi semata. Dan faktanya ustad-ustad ini jauh lebih dikenal dan menarik daripada tokoh atau ulama ormas yang lebih dahulu berdakwah ataupun menjadi tokoh agama.

Belum banyak yang dilakukan oleh AMM, meskipun tidak bisa mengatakan AMM tidak melakukan apapun untuk mengajak umat Islam lebih kritis dan solutif terhadap permasalahan yang terjadi. Bagi AMM hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk melakukan model gerakan yang bisa lebih diterima oleh umat Islam milenial. AMM tetap melakukan pengkaderan mubaligh dan mubalighot yang nantinya akan menjadi salah satu cikal bakal muncul ulama Muhammadiyah. Entah factor apakah, namun kenyataannya gerak AMM dalam dakwah juga masih sangat terbatas. Bisa jadi karena factor internal dari kader tersebut dan juga bisa jadi karena belum dipersiapkan segala “uba rampe” untuk menjadi mubaligh/ghat milenial.

Factor yang lain, AMM harus tanggap dan sigap dengan berbagai persoalan yang muncul dikalangan umat Islam akhir-akhir ini. Posisi AMM harus jelas dalam melakukan advokasi umat, yaitu tetap on the track sesuai dengan pemahaman dan ideology Muhammadiyah, hal ini harus ditekankan bagi para kader muda, sebab muncul hoax hingga rekayasa isu jika tidak dipahami dengan jeli justru bisa membelenggu dari personal kader hingga organisasi. Kita tau jika di Indonesia ini segala hal yang berkaitan dengan isu agama akan sangat mudah menarik perhatian dan bahkan bisa jadi muncul konflik.

Memang bergerak dalam polarisasi dakwah dan umat sekali lagi sepi dari apresiasi dan penghargaan, namun tidak boleh dikesampingkan apalagi di nomer duakan, karena sejatinya terbentuknya ortom ini juga sarana pengkaderan pimpinan Muhammadiyah. Seperti halnya diawal Muhammadiyah diajarkan oleh Kyai Dahlan yang sepi dari perhatian. Namun AMM juga harus melakukan berbagai terobosan untuk bisa mengimbangi dakwah milenial, harus disiapkan kader-kader yang secara keilmuan mumpuni dan bisa dibarndingkan menjadi ustad dan ustadzah milenial yang memberikan pencerahan pemahaman keislaman sesuai dengan HPT Muhammadiyah. Bukan pekerjaan yang mudah, tapi juga bukan pekerjaan yang tidak mungkin juga harus dilakukan. 

Quo Vadis Ortom Sebagai Kader Bangsa

Tuntutan kader-kader muda Muhammadiyah saat ini adalah berproses menjadi pemimpin untuk bangsa, dan hal ini tidak diragukan lagi tentunya karena sudah digemleng di masing-masing ortom. Diaspora kader di lembaga umum sangat diperlukan hari ini, bahkan dengan jabatan yang strategis. Kader Muhammadiyah harus mengambil kesempatan itu dengan tentunya tidak mengesampingkan positioning sebagai kader persyarikatan dan kader umat. Dengan karakter kepemimpinan yang sudah terbentuk semenjak aktif di ortom mestinya kader Muhammadiyah bisa menjaga marwah diri dan organiasasi serta on the track sesuai garis kebijakan Muhammadiyah.

Era milenial ini menuntut lahirnya tokoh-tokoh muda yang mampu menjadi penggebrak dan solutif terhadap kondisi bangsa. Ortom sudah saatnya melakukan diversifikasi kader secara keahlian dan minat kader tersebut. Contohnya saja saat ini penokohan kader akan sangat mudah muncul jika berkecimpung dalam politik praktis. Segala hal yang berbau politik juga akan sangat digemari serta menyita perhatian, namun tidak jarang bahwa politik juga menuntut biaya yang tinggi pula. Idealnya dengan tempaan yang sedemikian, kader Muhammadiyah menjadikan tujuan akhirnya adalah amar ma’ruf nahi mungkar seperti tujuan Muhammadiyah, dalam hal ini kader Muhammadiyah sudah tidak diragukan lagi.

Kualifikasi kader bangsa ini adalah mereka yang mendarmabaktikan dirinya untuk masyarakat secara luas dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya. Tidak hanya dunia politik saja, namun seluruh aspek kehidupan, baik pendidikan, social, ekonomi hingga kesehatan, singkatnya dimana bangsa memerlukan disitulah kader muda Muhammadiyah siap mendudukinya. Apakah ortom harus mempersiapkan? Ya jelas, pekerjaan ini tidak hanya tertumpu pada ortom saja, namun Muhammadiyah secara luas juga harus memikirkannya. Ada baiknya sudah mulai dibuka kajian-kajian politik strategis di berbagai level pimpinan, karena ini juga akan membukakan wacana bahwa kader harus memiliki strategis dan ilmu yang cukup sebelum dilepas dibelantara politik, social dan lainnya. Sementara ortom sendiri saat ini belum bisa menfokuskan pembekalan terhadap kader-kader yang akan duduk dalam posisi strategis, karena beban program kerja sepertinya menjadi salah satu penghambat. Ini adalah kerja bersama, bukan parsial dan sectarian, ortom ini masih tertata pada struktur dan beban.

Dalam hal ini perlu ada perhatian yang besar untuk penyiapan kader persyarikatan, umat, dan bangsa, yaitu sebagai berikut:

Pertama, perlu adanya penguatan ideology Muhammadiyah dengan tafsiran kontemporer yang tidak hanya tekstual saja, sehingga implementasi dari ideology Muhammadiyah dalam kehidupan saat ini benar bisa dirasakan. Misalnya seperti bagaimana pemahaman MKCH dibaca dengan pemahaman kader di era milenial, ini menjadi penting, karena ketika kader paham betul dengan MKCH akan mudah untuk memalui berbagai kondisi saat ini.

Kedua, klasifikasi kader berbasis data base sebaiknya harus sesegera mungkin dilakukan agar selama di ortom karakter keahlian akan terlatih dan terbentuk dengan sempurna. Bagaimanapun juga ortom adalah penyemaian kader, artinya individu dari yang tidak tau sama sekali hingga menemukan jati diri dilakukan sepanjang proses beraktifitas.

Ketiga, perlu adanya link and match, istilahnya kader ini harus ada yang mendampingi dan mengarahkan, bahasa kunonya “dicangking” atau dibawa. Kader bisa saja memilih pengabdian sendiri, namun tetap harus didampingi, hal ini sebagai proses pengawalan saja, namun jika sudah jadi maka akhirnya di lepaskan juga. Maka yang mendampingi ini baik Muhammadiyah ataupun ortom itu sendiri pula yang akan menghubungkan dan menyesuaikan.

Keempat, proses ini memerlukan keterlibatan semua pihak, ortom dan Muhammadiyah tentunya jejaring yang lain harus bisa bersinergi. Mengutip teori sinergitas Stephen Covey, bahwa sinergi adalah bentuk kerjasama win-win solution yang dihasilkan melalui kolaborasi masing-masing pihak tanpa adanya perasaan kalah.

Akhirnya…Muhammadiyah besar, dan akan tetap besar, jika kadernya siap mengisi dengan berbagai keahlian dan kemampuan untuk membesarkan Muhammadiyah (bukan Ahmad Dahlan).

*Disampaikan dalam Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah, Bengkulu, 7 Februari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *