Rabu, 30 September 2020
Home/ Berita/ Tujuh Langkah ‘Asiyiyah dalam Menekan Stunting

Tujuh Langkah ‘Asiyiyah dalam Menekan Stunting

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA—Berdasarkan prevalensi data Stunting tahun 2019 dan hasil riset studi gizi balita, jumlah stunting di Indonesia pada tahun 2019 lalu  turun dari angka 30,8 persen pada tahun 2018 menjadi 27,67 persen. Menurut Tri Hastuti Nur Rochimah, Sekretaris Pimpinan Pusat Aisyiyah, meskipun ada trend menurun tapi isu stunting harus terus ditekan sampai habis dan Indonesia terbebas dari stunting. Adanya stunting juga berkaitan dengan pola hidup dan budaya. 
 
“Isu stunting ini erat sekali kaitannya dengan budaya dan pola hidup, hal ini sangat jarang diperhatikan dan sering luput. Misalkan dalam pengajian, materi yang disampaikan jangan hanya persoalan makanan halal atau haram saja, tapi konsep makanan yang toyib atau bergizi jarang dibicarakan," ungkapnya saat diwawancarai pada Kamis (23/1).
 
Pembelajaran mengenai makanan yang bergizi harusnya dimulai sejak remaja, terlebih kepada remaja putri yang nantinya akan megandung dan melahirkan anak. Langkah ini sebagai pencegahan sejak dini terjadinya stunting pada anak. Maka sangat perlu untuk mengubah maindset umat Islam bahwa, yang diperlukan bukan lagi makanan yang halal tetapi juga toyib atau bergizi.
 
8Selain lemahnya pengetahuan tentang makanan bergizi, anak-anak remaja saat ini juga sedang diserang oleh iklan yang menarik diri mereka supaya mengkonsumsi makanan cepat saji. Kampanye makanan cepat saji yang ditampilkan oleh media juga turut memberi andil dalam terjadinya stunting di kalangan anak-anak Indonesia.
 
Memupuk kesadaran tersebut, Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (PPA) melakukan langkah-langkag strategis, diantaranya adalah pembentukan Rumah Gizi. Program strategis Rumah Gizi bukanlah berbentuk fisik, melainkan adalah suatu konsep atau langkah-langkah untuk mengurangi angka stunting, mencegah dan sekaligus untuk mendukung program ketahanan pangan.
 
“Perihal ketahanan pangan, sebenarnya kita memiliki jenis makanan yang mengandung gizi yang tinggi. Tapi karena perubahan pola hidup yang serba instan. Orang banyak melupakan produk makanan local yang padahal memiliki gizi yang tinggi. Ini yang menjadi alas an kenapa Rumah Gizi ‘Aisyiyah bukan hanya berbicara persoalan stunting, tapi juga terkait dengan program ketahanan pangan," tuturnya.
 
Langkah atau konsep Rumah Gizi diantaranya adalah kampannye atau mempromosikan kepada ibu-ibu untuk tetap memberikan ASI ekslusif kepada bayinya. Kedua, adalah konseling yang meliputi konseling ASI dan Gizi. Ditujukan untuk memberikan kepada ibu atau perempuan dalam memberikan ASI, karena disinyalir masih banyak ibu dan calon ibu yang belum mengetahui tentang pentingnya gizi dan ASI.
 
Ketiga, terkait dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT 1). Program yang dijalankan ini merupakan berbasis komunitas, sehingga dalam penganggaran atau budgeting dalam skup kecil yang berlokasi di desa. Maka bisa menggunakan dana desa yang dikucurkan oleh Pemerintah pusat, selain sebagai program penyehatan masayrakat, Rumah Gizi yang digagas oleh ‘Aisyiyah juga secara tidak langsung berperan dalam pemanfaatan dan pengawasan dana desa.
 
“Istimewanya Rumah Gizi ini berbasis komunitas, PMT untuk ibu hamil, remaja, balita dan kelompok yang kurang beruntung seperti kaum miskin dan dhuafa-mustadh’afin. Dalam menjalankan ini selain budget dana desa juga bisa dengan menjalankan program Infak Sayang Ibu," tambahnya.
 
Langkah keempat adalah dengan memberikan Pengolahan Makanan Bergizi (PMB). Langkah keempat ini sangat erat kaitannya dengan ketahanan pangan, karena menggali dari sumber pangan lokal yang dikelola dengan keterampilan mengolah makanan bergizi tersebut. Sehingga makanan yang diolah bukan hanya memberikan gizi yang baik, tapi juga menarik dan tentunya enak untuk dimakan. Kelima dengan cara memanfaatkan pekarangan, yang bisa dimanfaatkan bukan hanya sebagai sumber protein nabati tetapi juga hewani.
Keenam, dengan melibatkan keluarga yakni suami dan nenek.
 
Karena sering niat baik yang dilakukan oleh keluarga khususnya nenek malah berdampak kurang baik, dan membuat gagal program ASI ekslusif yang harus dijalankan untuk bayi tersebut. Tri mencontohkan, misalnya ada bayi yang nangis, berbekal rasa kasihan dan cinta, serorang nenek langsung memberikan makanan tambahan. Padahala belum saatnya bayi menerima itu.
 
“Mertua atau nenek harus memiliki support yang besar juga terhadap penurunan stunting, yaitu pada ASI ekslusif," ungkapnya.
 
Terakhir yakni dengan melibatkan peran Tokoh Agama, hal ini sesuai dengan posisi ‘Aisyiyah sebagai organisai perempuan keagamaan. Perspektif dari tokoh agama ini juga menjadi key word bagi ‘Aisyiyah untuk mempromosikan tentang hidup sehat dan bebas stunting. Sehingga ayat-ayat mengenai perilaku hidup sehat dan lain-lain yang berkaitan dengan gizi serta ketahanan pangan menjadi familiar di kalangan umat. (a'n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *