Rabu, 30 September 2020
Home/ Berita/ Gerakan Islam Transnasional dan Tantangan Bagi Muhammadiyah

Gerakan Islam Transnasional dan Tantangan Bagi Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA - Pada Jum’at (12/1) Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) menggelar kajian bulanan dengan tema Dakwah Perempuan Muda Muhammadiyah di Tengah Arus Islam Transnasional. Acara yang diselenggarakan di aula gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jl. KH. Ahmad Dahlan ini menghadirkan dua narasumber yaitu Agung Danarto, Sekretaris PP Muhammadiyahdan Majidah, Departemen Dakwah PPNA.

Dalam kajian tersebut Majidah menyampaikan berbagai solusi praktis yang dapat dilakukan oleh kader Aisyiyah dalam menghadapi arus global berupa gerakan Islam transnasional. Menurut Majidah, gerakan Islam transnasional merupakan istilah yang ditujukan kepada organisasi Islam yang pergerakannya tidak terbatas oleh garis-garis teritorial negara.

“Gerakan ini berorientasi pada misi menyatukan umat Islam. Ideologinya didominasi dengan pemikiran yang tekstualis, normatif, dan radikal. Namun tidak itu saja, paham yang mengusung ide-ide liberalisme, sekularisme, dan pluralisme dari Barat juga dapat diposisikan sebagai gerakan Islam transnasional,” jelas Majidah.

Majidah juga memaparkan bahwa secara historis gerakan Islam transnasional berakar dari empat faktor utama: pertama, keruntuhan kekhilafahan Turki Ustmani tahun 1924; kedua, adanya gerakan kebangkintan Islam di dunia Arab; ketiga, adanya gerakan pembaharuan dari beberapa tokoh muslim seperti Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha; keempat, adanya invasi dunia Barat yang menjajah dunia Islam.

Contoh-contoh gerakan Islam transnasional yang berhasil menyebrang ke Indonesia menurut Majidah di antaranya: Ikhwan al-Muslimin, Ahmadiyah, Syiah, Hizbut Tahrir, dan Salafisme. Mereka berhasil menyentuh lapisan masyarakat lantaran piawai melakukan kreasi dan inovasi terhadap metode dakwah yang dilakukan kepada masyarakat. Tidak kalah pentingnya, fenomena ini terkadang menggeser paham Muhammadiyah oleh pemahaman keagamaan dari pergerakan Islam transnasional tadi.

Dalam menyikapi adanya tantangan dakwah dari arus Islam transnasional, Majidah menyampaikan  beberapa solusi pada masalah ini, di antaranya: pertama, menguatkan ideologi Muhammadiyah dengan cara massifkan pengajian-pengajian di ranting Muhammadiyah dan meningkatkan kualitas serta kuantitas muballigh-muballighah Muhammadiyah. Kedua, optimalisasi dakwah media sosial.

“Pilihlah konten yang membumi, aktual, dan dekat dengan problem nyata masyarakat. Ustaz-ustaz di youtube skill komunikasinya bagus sekali. Materi mereka tidak ada atau jarang yang berat-berat, namun mereka kerap mengangkat tema-tema yang ringan, membumi, dan aktual,” ujar Majidah.

Ketiga, membuat branding dakwah. “Mengemas dakwah dengan menyesuaikan objek dakwah. Selain itu, pembuatan branding dakwah tentu saja harus sesuasi dengan visi dan misi Muhammadiyah,” tutup Majidah. (ilham)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *