Rabu, 19 Februari 2020
Home/ Berita/ Memahami Spiritualitas Warga Muhammadiyah

Memahami Spiritualitas Warga Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA - Insan kamil menurut sufi atau para praktisi tasawuf adalah bisa menghilangkan sisi kemanusiaan, seperti keinginan, hasrat, marah, dan lain-lain, karena hal itu dianggap sebagai penghalang.

“Kalau bisa dihilangkan maka ia akan mengalami mukasyafah (ketersingkapan),” jelas Agung Danarto, Sekretaris PP Muhammadiyah saat menyampaikan materi tentang genealogi paham Muhammadiyah pada acara kajian bulanan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah yang diselenggarakan di aula gedung PP Muhammadiyah jl. KH. Ahmad Dahlan pada Jum’at (17/1).

Sementara itu, menurut Agung, insan kamil dalam pengertian Muhammadiyah bukanlah menghilangkan sifat dasar dari emosi manusia, melainkan beribadah sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan al-Sunah al-maqbulah serta menjadi khalifah di muka bumi yang mampu menebar pesan-pesan rahmatan lil’alamin.

“Tugas manusia di dunia menurut pahaman Muhammadiyah itu ada dua: pertama, manusia diberi tugas untuk beribadah; kedua, menciptakan rahmat bagi semesta alam. Karena itu, insan kamil dalam Muhammadiyah tergantung keberhasilan pada dua aspek ini,” jelas Agung.

Agung juga menjelaskan bahwa Muhammadiyah memandang dalam aspek ibadah mahdlah, pemahaman terhadap teks al-Quran dan al-Sunah sebagai sumber pokok ajaran Islam haruslah selaras dengan teks. Sementara aspek selain ibadah mahdlah atau ibadah muamalah justru dilakukan dengan proses aktif dan kreatif untuk menyelesaikan masalah konkret dan realistis.

Agung menyadari bahwa pemahaman terhadap al-Qur’an dan al-Sunah bisa berbeda, ada yang terlalu tekstualis sehingga menganggap setiap laku Rasulullah dipandang sebagai aspek ta’abudi (ibadah). Ada juga yang terlalu kontekstualis sehingga seringkali mengakali hukum sesuai dengan keinginan dan kepentingannya.

“Ada sebagian umat Islam yang kurang tepat memahami hadis Nabi tentang Rasulullah sebagai uswatun hasanah, contoh yang baik. Sehingga setiap perilaku Nabi diamalkan sampai pada aspek-aspek yang paling spesifik dan detail juga diikuti, padahal hal tersebut ada kalanya tak ada hubungannya dengan taabudi,” papar Agung.

Kelompok literalis menurut Agung berawal dari ulama Ahli Hadis. Akar pemahaman ini berawal dari Ahmad bin Hambal kemudian dilanjutkan oleh suksesornya yaitu Ibn Taymiyah sampai ke Muhammad bin Abdul Wahab. “Kelompok literalis ini sering mencampuradukkan aspek ibadah mahdlah dan muamalah tanpa memperhatikan konteks ketika al-Qur’an dan al-Sunah diturunkan,” ujar Agung.

Agung menjelaskan bahwa pemahaman Muhammadiyah dalam al-Quran dan al-Sunah menganggap kedua sumber pokok ajaran Islam tersebut masih bersifat nilai-nilai universal, belum memuat sebuah sistem yang detail. Al-Qur’an maupun al-Sunah, misalnya, tidak memfasilitasi konsep kebencanaan secara sistematis, melainkan hanya memuat nilai-nilai universal. Muhammadiyah mampu memanfaatkan nilai-nilai tersebut menjadi sistem yang detail tentang kebencanaan. Agung menilai pemahaman seperti ini yang membuat Muhammadiyah terus berkembang sehingga mampu melahirkan karya-karya yang berkemajuan seperti sekolah, rumah sakit, maupun panti asuhan.

Agung menyadari bahwa pemahaman Muhammadiyah akan keagamaan seperti ini dipandang sebagian orang menghilangkan sisi spiritual dalam Islam. Bagi mereka, spiritual hanya hadir saat berada di ruang sunyi lalu berzikir dan memanjatkan doa-doa kepada Allah Swt. Menanggapi hal tersebut Agung menjelaskan bahwa sisi spiritual warga Muhammadiyah ada pada keikhlasan dalam kerja-kerja sosial.

“Ada warga Muhammadiyah yang mewakafkan tanahnya yang luas, menunaikan sedekah sampai miliaran untuk pembangunan sekolah atau masjid, dan bekerja tanpa pamrih untuk menghapus kesenjangan sosial, membutuhkan keikhlasan yang tinggi. Hal itu lebih berat dilakukan daripada shalawatan atau zikir semalaman”, pungkas Agung. (ilham)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *