Minggu, 15 Desember 2019
Home/ Berita/ Menempatkan Niat Ikhlas dalam Menghidupkan Muhammadiyah

Menempatkan Niat Ikhlas dalam Menghidupkan Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.ID, GOWA — Muhammadiyah adalah alat perjuangan, jadi jangan sampai salah tafsir. Jangan ketika masuk ke Muhammadiyah hanya berkeinginan untuk mencari jabatan, baik ditingkatan selevel Ranting maupun Cabang.

Menurut Marpuji Ali, Bendahara Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, sebagai aktivis Muhammadiyah jangan salah menempatkan niat dalam ber-Muhammadiyah. Karena jika demikian Muhammadiyah akan menjadi tuhan baru, yang padahal ini terang dilarang dalam Islam.

“Ini hanya sebagai alat, maka juga tidak perlu jabatan di Muhammadiyah diperebutkan karena itu amanah, namun ikuti aja prosesnya. Karena Muhammadiyah adalah alat untuk beribadah dan bukan tujuan untuk suatu kegiatan,"ungkapnya pada Jum'at (29/11) dalam Pidato Motivasi di acara Cabang dan Ranting Expo III di Limbung, Gowa, Sulawesi Selatan.

Merujuk pada Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah yang berbunyi, Mudah-mudahan dengan Muhammadiyah umat Islam dapat diantarkan ke pintu gerbang jannatun na’im dengan keridhoan Allah SWT. Memahami kalimat tersebut, menurut Marpuji Muhammadiyah bukan organisasi yang ekslusifitas dalam akses ke surga.

“Karena hanya mengantarkan sampai ke jannatun na’im, dan orang yang diantar bukan hanya orang Muhammadiyah, melainkan umat Islam. Ini menjadi bukti luasnya pemikiran pendahulu Muhammadiyah, karena Muhammadiyah tidak ekslusif," terangnya.

Maka di beberapa wilayah Muhammadiyah memiliki Amal Usaha (AUM) yang donaturnya bukan berasal dari internal anggota Muhammadiyah. Seperti yang ada di PWM Jateng, seorang tokoh Nahdlatul Ulama’ (NU) mewakafkan hartanya ke Muhammadiyah untuk membuat Rumah Sakit PKU di Demak, dan Rumah Sakit Rumani Muhammadiyah di Semarang juga wakaf dari seorang aktifis NU.

Kepercayaan  yang didapatkan oleh Muhammadiyah dari berbagai pihak merupakan modal capital yang luar biasa, modal tersebut harus bisa dijaga dan dimanfaatkan untuk menolong kesengsaraan umat. Marpuji menegaskan, kepercayaan yang didapatkan oleh Muhammadiyah bukan semata untuk kebanggaan, melainkan sebagai uswah khasanah.

Selanjutnya jika menyimak rumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah, terutama yang dirumuskan pada tahun 1920 yang kedua. Didalamnya terdapat dua kata kunci yang menjadi substansi tujuan dan maksud Muhammadiyah.

Memajukan dan mengembirakan pengajaran dan pelajaran Agama Islam dalam di Negara Hindia Belanda.

Memajukan dan mengembirakan hidup sepanjang kemauan Agama Islam kepada sekutu-sekutunya.

“Artinya keberadaan aktivis Muhammadiyah baik di Cabang, Ranting dan dimanapun harus bisa membawa kemajuan yang bukan hanya untuk Muhammadiyah, melainkan untuk umat dan bangsa di negeri yang kita cintai ini, serta harus menggembirakan," ungkapnya.

Melalui konsep Negara darul ahdi wa syahadah, Muhammadiyah bukan hanya berselogan NKRI tapi mengamalkan NKRI dengan menyebarkan sinarnya di lorong-lorong sempit daerah tertinggal di Indonesia. Ber-Muhammadiyah jangan hanya bersemboyan berani mati, tapi juga harus berani hidup untuk menyelesaikan problema di negeri ini.

“Tidak usah berteriak berani mati, karena yang hidup pasti mati. Maka supaya bisa memajukkan dan mengembirakan, seluruh Cabang dan Ranting yang ada harus membangun Cabang dan Ranting yang unggul dan uswah hasanah," imbuhnya. (a'n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *