Selasa, 29 September 2020
Home/ Berita/ Buka LPCR Expo 2019, Haedar Sampaikan Delapan Ciri Ranting dan Cabang Berkemajuan

Buka LPCR Expo 2019, Haedar Sampaikan Delapan Ciri Ranting dan Cabang Berkemajuan

MUHAMMADIYAH.ID, GOWA—Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir selalu merasa ada semangat dan spirit maju yang terpancar dari Muhammadiyah Sulawesi Selatan (Sulsel). 
 
“Muhammadiyah sejak berdiri tahun 1912 justru perkembangannya mengalami perluasan yang spektakuler. Karena pada tahun 1922, Muhammadiyah sudah menyebar keseluruh tanah air. Sampai ke Aceh, padahal saat itu ada larangan dari pemerintah Hindia Belanda untuk menyebar ke seluruh tanah air," ungkap Haedar pada Kamis (28/11) dalam acara pembukaan Cabang dan Ranting Expo III di Limbung, Gowa, Sulsel.
 
Sementara, Muhammadiyah masuk ke wilayah Sulawesi sekitar tahun 1926. Salah satunya diperkuat oleh Buya Hamka pada tahun 1928 sampai 1933 yang berdakwah mulai dari Sulsel sampai ke Sulawesi Tenggara. Termasuk generasi awal Muhammadiyah di luar Jawa, Sulsel memiliki modal militansi karena dipenuhi dan digerakkan oleh anak-anak muda.
 
Haedar berpesan melalui acara ini, Cabang dan Ranting harus  mampu menjadi benteng bagi umat yang sedang mengalami cepatnya perubahan sosial. Sampai ke akar rumput, perubahan yang disebabkan oleh media sosial dan digitalisasi yang mencerabut masyarakat begitu cepat dan tanpa batas.
 
“Kita sebagai harokahtul Islam yang membawa misi dakwah dan tajdid, harus tetap memberi guiden atau bimbingan agar masyarakat tetap memiliki makna hidup. Sehingga perubahan sosial ini tidak mencerabut akar mereka dari kehidupan sejatinya," katanya.
 
Kemajuan yang terkait dengan kebijakan otonomi daerah juga menyebabkan perubahan yang luar biasa. Jika Muhammadiyah sebagai gerakkan yang paling meluas, tapi tidak bisa memberi pengaruh dan guiden kepada masyarakat. Maka, Muhammadiyah akan kalah dilindas oleh zamannya.
 
“Maka LPCR Expo ini harus jadikan inspirasi untuk menjadi cabang dan ranting yang berkemajuan," imbuhnya.
 
Menurut Haedar, Cabang dan Ranting berkemajuan harus punya sifat atau watak yang berpaham Islam dan berideologi Muhammadiyah. Derap Cabang dan Ranting semaju apapun, tetap fondasinya adalah Al Islam dan KeMuhamamdiyahan. Melalui semangat al Ruju’ ila Qur’an wa Sunnah, yang dipahami dengan kemampuan berfikir yang senyawa dengan semangat Islam dan sebagaimana Matan Keyakinan can Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH).
 
Bagaimana Al Qur’an itu dipahami dan dipakai sebagai landasan gerakkan pembaharuan. Karena Al Qur’an bukan hanya dihafalkan tetapi diamalkan, seperti yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan. Kedua, kantor Cabang dan Ranting rapatnya harus hidup. Ketiga, pimpinannya harus aktif mengurusi organisasi bukan mengurus pengurus. 
 
“Kita sebagai organisasi kadang sibuk mengurusi pengurus yang tidak aktif. Yang sering ditanyakan orang yang tidak datang, yang sering datang malah tidak ditanyakan. Jadi sekarang tidak ada lagi yang namanya pengurus mengurus pengurus. Pengurus harus sudah selesai dengan dirinya," terang Haedar.
 
Keempat, seluruh elemen organisasinya harus aktif. Jangan sampai ada ungkapan ‘hidup segan, mati tak mau’ di Persyariakatan Muhammadiyah. Kelima, harus ada gerakkan pengajian. Dahulu Muhammadiyah hidup karena gerakkan pengajiannya hidup. Mengaji yang menggerakkan, mencerahkan dan menghidupkan, bukan ngaji yang malah membuat mundur.
 
Keenam, adalah harus masjidnya makmur. Sehingga tidak ada lagi cerita akibat Masjid Muhammadiyah tidak terrurus, lalu diserobot oleh kelompok lain. Ketujuh, Cabang dan Ranting harus memiliki usaha dan Amal Usaha. 
 
“Setidaknya kalau tidak punya amal usaha, cabang dan ranting harus memiliki usaha. Usaha apapun yang berkeinginan untuk berkemajuan. Mungkin bisa juga menciptakan gerakkan membaca dan berjalan,” jelasnya.
 
Kedelapan, Cabang dan Ranting berkemajuan harus ada pusat keunggulan. Dahulu terjadinya persebaran Muhammadiyah yang sangat luas juga karena adanya pusat-pusat keunggulan. Disaat Negara belum hadir, Muhammadiyah telah mengawalinya. Muhammadiyah dalam menjalankan perannya tanpa pamrih, karena orang Muhammadiyah berkeyakinan kebaikan yang ditanam akan kembali kepada dirinya sendiri.
 
“Jadi orang Muhammadiyah jangan gelisahan, mudah resah apalagi suka marah. Karena kita diajari welas asih. Untuk kedepan, generasi ‘kolonial’ harus mulai memperhatikan generasi milenial, karena merekalah yang akan melanjutkan kita. Jangan sampai mereka diabaikan, dengan semangat belajar semoga cabang dan ranting bisa tetap berkemajuan," pungkas Haedar. (a'n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *