Senin, 09 Desember 2019
Home/ Berita/ Muhammadiyah Merintis Pergerakan Bangsa dalam Mencerdaskan Umat

Muhammadiyah Merintis Pergerakan Bangsa dalam Mencerdaskan Umat

MUHAMMADIYAH.ID, JEMBER – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengajak warga Muhammadiyah untuk tasyakkur bin ni’mah atas 107 tahun usia Muhammadiyah.

“Muhammadiyah telah berusia 107 tahun, kita sebagai warga persyarikatan tentu harus bersyukur kepada Allah SWT,” ujar Haedar pada Senin (11/11) dalam acara Resepsi Milad Muhammadiyah ke 107 yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jember di Lapangan Tegalsari, Ambulu, Jember.

Kenapa Muhammadiyah bisa tumbuh besar seperti ? Karena Muhammadiyah memiliki landasan yang kokoh di dalam keyakinan paham dan pengamalan Islam dengan arruju ilall Qur’an wa Sunnah dan mengembangkan paham Ij’tihad.

“Ini pondasi Muhammadiyah,” imbuh Haedar.

Prinsip Muhammadiyah ingin kembali kepada Islam, dimana prinsip ini merupakan prinsip risalah dari  Rasulullah di dalam mengemban amanah akhir zaman, yang bukan urusan aqidah, idbadah, tetapi juga urusan muamalah duniawi.

“Islam ini agama yang paling komplit, ada urusan keyakinan kepada Allah, dan seluruh dimensi percaya kepada Rasul, kitab Allah SWT kemudian hal-hal gaib sebagaimana rukun iman kita, tetapi juga mengajarkan kepada kita tentang hubungan habblum minallah dan habblum minannas yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan,” jelas Haedar.

Sesuai dengan tema milad Muhammadiyah ke 107, yakni Muhammadiyah mencerdaskan kehidupan bangsa, Muhammadiyah sejak awal dan salah satu kepoloporannya yaitu membuat umat Islam dan bangsa Indonesia cerdas.

“Cerdas itu tajam dan hidup akal pikirannya serta akal budinya,” jelas Haedar.

Muhammadiyah merintis pergerakan bangsa dalam mencerdaskan umat, bangsa Indonesia berada dalam penjajahan yang cukup lama, penjajah itu datang ke kita sekitar 350 tahun. Akibat penjajahan dampaknya Indonesia menjadi bangsa yang miskin, bangsa yang tertinggal secara ekonomi dan politik, bahkan terpecah belah oleh politik.

“Akibatnya bangsa ini menjadi bangsa yang terbelakang, maka Kyi Dahlan sadar akan umat yang seperti itu maka mendirikan Muhammadiyah. Surah Ali-imran 104 menjadi ayat dasar berdirinya Muhamamdiyah,” terang Haedar.

Ayat ini adalah ayat yang punya spirit dinamis, ayat yang punya pergerakan, dalam tafsir disebut “engkau harus menjadi segolong umat, umat bukan sembarang umat tetapi umat yang terpilih, umat yang terpilih adalah umat yang cerdas, karena dia punya tugas menyeru pada kebaikan dan mencegah kepada kemunkaran”.

“Muhammadiyah tidak mungkin mengeluarkan umat dari keterjajahan kalau diri sendiri tidak punya kelebihan. Maka Kyai Dahlan menamakan kelompok ini dengan nama Nabi akhir zaman, pengikut Nabi Muhammad,” pungkas Haedar.

Dalam kesempatan itu, Haedar turut menandatangani empat prasasti Amal Usaha Muhammadiyah dan Masjid, diantaranya Gedung Lembaga Kesejahteraan Sosial dan Anak ‘Al Amin’ Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wuluhan, Masjid Rahmat Purwojati, Gedung SMK 2 Muhammadiyah Ambulu, dan Gedung SMK Muhammadiyah 5 Jember.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *