Senin, 18 November 2019
Home/ Berita/ Peran Kahar Muzakkir dalam Pendidikan Muhammadiyah

Peran Kahar Muzakkir dalam Pendidikan Muhammadiyah

Oleh: Andi Mahfuri

Tepat hari ini 8 November 2019, Abdul Kahar Muzzakir ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia. Ditetapkannya Kahar Muzzakir menambah daftar panjang pahlawan yang lahir dari Muhammadiyah. Setelah Soekarno, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejdo. Empat tokoh kader Muhammadiyah ini telah berjasa dalam perumusan dasar negara Pancasila.

Bahkan sosok Kahar Muzzakir yang merupakan anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) disebutkan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir sebagai sosok pemikir muda Islam kala itu yang memberi kiprah menentukan dalam diplomasinya di Timur Tengah untuk pengakuan kemerdekaan Indonesia.

Selain dalam kebangsaan dan politik, Kahar Muzzakir mempunyai peranan dalam perkembangan pendidikan Muhammadiyah. Saat berusia 28 tahun sekembalinya dari Mesir ia mengajar di Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta dan menjadi direkturnya.

Melalui pengalaman dan kepemimpinannya di Muallimin itulah Kahar Muzzakir pada tahun 1926 menggagas berdirinya sebuah perguruan tinggi bagi kaum perempuan. Melalui pidatonya di forum ‘Aisyiyah Kahar Muzzakir yang saat itu mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah berpendapat, perlu didirikannya pendidikan bagi kaum perempuan sebagai kelanjutan dari pendidikan yang telah di selenggarakan bagi kaum perempuan Muhammadiyah, yaitu Madrasah Muallimat Yogyakarta.

Dalam pidatonya yang memaparkan Rencana Perguruan Tinggi Wanita, Kahar Muzzakir menyampaikan ‘Pokok-Pokok Buah Pikiran’ yang berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan Muhammadiyah dan diaplikasikan oleh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah.

Pokok-pokok buah pikiran itu yakni, Pertama adalah suatu kewajiban suci bahwa kita umat Islam yang merupakan bangsa Indonesia yang besar ini, oleh Allah Swt dikaruniai iman dan Islam dan dijadikan wasath dan khoiru ukhrijat linnas, yang mana agama dan idiologi Islam sudah sejak empatbelas abad lalu memberikan pedoman-pedoman hidup yang mulia dan bermutu tinggi. Islam yang semenjak lahirnya, memberi tugas wajib belajar yang sama baik bagi pria maupun bagi wanita.

Kedua,di tanah air Nusantara Indonesia, umat Islam terutama yang bernaung di bawah panji gerakan kita, Muhammadiyah dengan bukti yang nyata baik sebelum maupun sesudah Indonesia Merdeka, mengambil bagian dalam pengajaran dan pendidikan pula. ‘Aisyiyah sebagai garwa Muhammadiyah, tidak ketinggalan dalam memajukan bidang pengajaran dan pendidikan pula. Usaha-usaha ‘Aisyiyah dalam bidang tersebut terbukti tidak demikian ketinggalan.

Dari kelima pokok buah pikiran Kahar Muzzakir inilah yang menjadi landasan ‘Aisyiyah mendirikan berbagai perguruan tinggi perempuan bahkan sejak tanggal 10 Maret 2016 ‘Aisyiyah meresmikan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (Unisa) sebagai universitas perempuan pertama di Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *