Senin, 18 November 2019
Home/ Berita/ Sosok Kahar Muzakkir dalam Cerita Perjuangan Indonesia

Sosok Kahar Muzakkir dalam Cerita Perjuangan Indonesia

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL – Tidak banyak orang yang banyak mengenal sosok Prof. KH. Abdul Kahar Muzakkir, lebih-lebih generasi milenial, mungkin yang tahu hanya generasi kolonial saja. 
 
Hal tersebut dikatakan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Seminar Kemuhammadiyahan dan Kebangsaan ‘Prof. KH. Abdul Kahar Muzakkir, Ulama dan Pejuang Muslim’ bertempat di Ampitheater Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (23/10). 
 
“Ada dua sisi yang kita pelajari dari beliau, dalam usia muda, secara relawan sudah menjadi diplomat Indonesia di luar negeri, ketika Indonesia sedang berjuang untuk kemerdekaan pada tahun 1930-an. Pada usia masih muda, setelah bermukim di Makkah, kemudian ambil studi di Al-Azhar dan di Darul Ulum Kairo selama 12 tahun di sana. Jadi ini satu sisi dari perjalanan beliau,” ungkap Haedar. 
 
Yang kedua, lanjut Haedar, dalam konteks Indonesia, Pak Kahar adalah anggota Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), kemudian dia juga masuk di dalam panitia 9 dalam rumusan pembukaan UUD 45 sekaligus Piagam Jakarta. 
 
Menurut Haedar, tiga segmen ini menjadi sangat penting.
 
Pertama pada konsep Internasional, orang selalu mengenal K.H. Agus Salim, Ali Sastro Wijoyo, sebagai diplomat-diplomat ulung Indonesia, dan memang sosok ini sangat menonjol, lagi-lagi K.H Agus Salim menjadi orator yang sangat luar biasa, tetapi orang jarang tau siapa K.H Kahar Muzakir.
 
Padahal sebelum keduanya berperan, justru Kahar muda ini pada usia 24 tahun, di Mesir bahkan juga di Palestina Ia pernah tampil untuk menjadi sekretariat dalam forum kongres Internasional, dan juga memperoleh mandat dari Indonesia.
 
“Saat itu orang studi di timur tengah itu tidak banyak, berarti ketika dia diangkat menjadi sekretaris dalam forum internasional, untuk seorang Indonesia di Jazirah Arab, itu mesti bahasa Arabnya bagus dan juga rektualitasnya juga melampaui. Dan disitulah Ia memperkenalkan Indonesia yang sedang berjuang untuk kemerdekaan, dan itu sangat luar biasa,” kata Haedar. 
 
Sejarah itu, menurut Haedar, terkait dengan kontruksi juga sering tidak bisa semua diangkat dari semua sosok atau aktor pelakunya. 
 
“Kadang sosok-sosok yang menonjol yang lahir dipanggung sejarah, orang-orang yang tidak menonjol itu, tetapi punya kekuatan perang, intelektualitas dan integritas tinggi, mungkin karena pembawaannya yang dingin, dan bersahaja," ujar Haedar. 
 
Pak Kahar dihadirkan kembali agar Indonesia mengenal beliau yang mempunyai tinta emas dan kepeloporan dalam sejarah pergerakan, perjuangan kemerdekaan di forum internasional, dan saat itu pengakuan internasional sangat diperlukan.
 
"Bahkan di saat setelah kita merdeka beberapa hari dan beberapa bulan, beliau masih terus menggalang hubungan internasional dari Dunia Arab, itu sungguh luar biasa. Karena itu kita ingin sampaikan sinyal kuat dari kampus UMY untuk Indonesia ada seorang Kahar Muzakir yang berperan besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia di forum internasional untuk pengakuan Indonesia sebagai negara merdeka,” terangnya. 
 
Sementara dalam konteks Sekolah Tinggi Islam, Haedar mengisahkan Pak Kahar sebagai sosok yang berkarakter pemikir Islam, yang ingin menghadirkan intelaktualisme itu dalam bentuk Institusi. 
 
“Orang banyak bergeruk dan berpikir dalam dunia pemikiran lebih pada pergumulan-pergumulan yang sifatnya akademik, dan dalam sejarah, baik sejarah Islam dan sejarah barat itu lahir embrio-embrio komunitas-komunitas pemikir ini,” kata Haedar. 
 
Di Indonesia lahirnya Perguruan tinggi itu sejak Muhamamdiyah lahir tahun 1912.
 
“Yang saat itu sidang tahunan pertama telah ada keputusan Muhammadiyah ingin melahirkan Universitas yang megah, saat itu ketika gagasan itu muncul ditertawain orang karna itu sesuatu yang terlalu ambisius. Boleh jadi benih itu muncul pada Abdul Kahar yang juga anak Kota Gede dan anak Muhammadiyah yang kemudian bersenyawa dengan tokoh-tokoh lain termasuk Bung Hatta. Ini menjadi satu jejak sejarah yang penting sehingga UII itu bukan hanya milik tertentu tetapi milik bangsa Indonesia dan juga umat Islam yang perintisnya adalah seorang Kahar Muzakir dan menjadi Rektor yang pertama sejak tahun 45 sampai tahun 63,” kisah Haedar. 
 
Haedar tegas mengatakan bahwa jejak ini adalah bentuk kemajuan lahirnya institusi, dalam konteks Muhammadiyah ini adalah bentuk pranata modern.
 
“Muhammadiyah ini melopori banyak hal yang disebut sebagai pembaharuan karena ingin mewujudkan gagasan-gagasan pembaruan itu pada institusi yang modern. Tapi baru Muhamamdiyah melahirkan Perguruan Tinggi pada tahun 56 di Padang Panjang, di Jakarta, ini menjadi embrio yang melahirkan Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang sekarang jumlahnya 166,” pungkas Haedar. (Syifa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *