Senin, 18 November 2019
Home/ Berita/ Ketika Ki Bagus Dituding Miliki ‘Ajian-Ajian’

Ketika Ki Bagus Dituding Miliki ‘Ajian-Ajian’

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA—Persitiwa di luar nalar pikiran manusia ini terjadi kurang lebih pada tahun-tahun ketika Ki Bagus Hadikusumo masih menjabat sebagai anggota Parlemen Pusat Republik Indonesia. Sebagai anggota yang tinggal di Yogyakarta, Ki Bagus biasa melangsungkan perjalanan dengan kereta api menuju Jakarta.

Dituliskan dalam buku “Derita Seorang Pemimpin”, Ki Bagus sedang menempuh perjalanan menggunakan kereta api menuju Jakarta dari Yogyakarta untuk menghadiri sidang Parlemen. Sebelum sampai di Jakarta, kereta yang ditumpagi Ki Bagus dihadang segerombolan penjahat yang kemudian dengan membabi-buta kereta tersebut dihujani peluru.

Sontak semua penumpang panik, merebahkan diri diatas lantai, wanita dan anak-anak menjerit. Ki Bagus yang sedang duduk di dekat jendela tidak bergeming dan tetap santai. Seakan desingan peluru yang dimuntahkan senjata api tidak dihiraukannya. Tas dan beberapa barang yang diletakkan di tempat barang di atas kepalanya ‘ambur-adul’ dan berserakan.

Bahkan sebutir peluru berhasil melobangi peci yang dikenakan Ki Bagus, peci itu terpental terkena bidikan senjata api, peluru tersebut berhasil melobang peci, namun hanya mampu menembus lapisan luar peci dan kemudian peluru tersebut menyelip di lipatan peci tersebut, tidak sampai tembus keluar. Sementara tasnya juga tidak luput dari lesatan peluru tajam tersebut.

Sesampainya di Hotel Des Indes, Jakarta, Ki Bagus membuka tasnya di dalam kamar, seketika kamar beraroma harum karena aroma bekas tumpahan parfum atau minyak wangi dari botol yang tertembak peluru tadi. Ia mengamati tasnya, dua lapis kulit tas tersebut berlobang, terdapat botol minyak wangi yang pecah separuh akibat tembakan, dan beliau menemukan peluru bersarang nyaman di dalamnya.

Kabar tersebut didengar oleh Soekarno, lalu menghampiri dan bertanya kepada Ki Bagus : “Apa do’anya, Kangmas ?,” lalu Ki Bagus menjawab : “Bahwa do’a itu sendiri tidak mampu meraih kebahagiaan atau menangkis bencana. Do’a hanyalah permohonan, tetapi apabila Allah telah mengabulkan maka tiada seorangpun dapat menolak, dan jika Allah menolak permohonan itu maka tiada seorangpun yang kuasa menolongnya. Semua peristiwa dan nasib manusia telah diatur Allah dengan takdir-Nya”.

Karena kejadian ini banyak orang mengira Ki Bagus memiliki ‘ajian-ajian’ yang bisa membuatnya kebal. Anggapan itu sungguh amat tidak benar, karena seperti yang disampaikannya kepada Soekarno, bahwa semua peristiwa dan nasib manusia tela diatur Allah dengan takdir-Nya. (a’n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *