Senin, 21 Oktober 2019
Home/ Berita/ PTM Menjadi Pilar Strategis Muhammadiyah dalam Memberikan Kontribusi Bagi Bangsa

PTM Menjadi Pilar Strategis Muhammadiyah dalam Memberikan Kontribusi Bagi Bangsa

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir hadiri pelantikan rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) periode 2019-2023, Muchlas MT pada Rabu (9/10).

Dalam amanatnya Haedar berpesan agar Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) termasuk UAD di dalamnya harus mengemban misi dakwah dan tajdid Muhammdiyah.

“Oleh karena itu, PTM harus lebih giat lagi dalam melakukan penanaman nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammdiyahan (AIK). PTM termasuk UAD, bukan sekadar menjadi Perguruan Tinggi biasa, tetapi memiliki ciri khas menjadi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Yakni Islam yang membawa misi dakwah untuk menyebar luaskan misi-misi dakwah sehingga menjadi Islam yang rahmatan lil alamin,” tutur Haedar.

Haedar meminta agar pimpinan dan civitas akademika PTM menanamkan nilai-nilai Islam yang bermisi dakwah dan berkemajuan tersebut menjadi value atau nilai-nilai dasar yang melekat dan menyatu di dalam seluruh sistem. Melihat bahwa saat ini banyak berbagai macam pandangan, paham, dan ideologi yang tumbuh dan fenomenal di Indonesia.

“Rujukannya sangat jelas, yaitu pedoman tarjih dan keputusan-keputusan yang dasar mengenai Islam. In sya Allah menjadi penyaring UAD dan seluruh Perguruan Tinggi dan amal usaha Muhammadiyah dari paham dan pandangan yang tidak sejalan dengan pandangan Muhammadiyah,” imbuh Haedar.

Kedua, UAD dan PTM  yang lain harus mengokohkan diri menjadi pusat keunggulan, atau dalam bahasa agama menjadi uswatun hasanah, menjadi teladan bagi kampus yang lain, dalam kemajuan akademik, pengabdian masyarakat, menjadi kampus tempat riset, dan juga menjalankan peran-peran kemanusiaan.

“Saya percaya dengan keunggulan IT, dengan gema revolusi 4.0, UAD dan PTM lainnya akan menjadi center of excellent,” ujar Haedar.

Bahkan di dalam filosofi pendidikan Muhammadiyah hasil muktamar ke-46 disebutkan bahwa Muhammadiyah itu mendidik dan menyelenggarakan pendidikan sejak perguruan dasar sampai perguruan tinggi untuk membangun akhlak mulia dan mencerdaskan, sekaligus juga memberikan manfaat bagi kehidupan orang banyak.

Konsep mencerdaskan kehidupan bangsa yang digagas oleh Muhammadiyah yakni menjadikan anak bangsa yang berakal budi, yang di dalam risalah Islam yaitu Innama bu’itstu liutammima makarimal Akhlaq.

“Dan juga mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya menyangkut orang atau manusia, tetapi juga menyangkut tentang budaya, agar orang Indonesia itu cerdas secar budaya,” kata Haedar.

Bagaimana Indonesia dapat  menjadi bangsa yang maju, salah satunya adalah mampu meninggalkan masa lampau dari masyarakat yang tradisional menjadi masyarakat yang modern, atau dalam bahasa Muhammadiyah masyarakat yang modern adalah masyarakat yang berkemajuan.

“Maka pendidikan di Muhammadiyah, seperti menurut sejarawan Kuntowijoyo, sistem pendidikan Islam yang mampu memadukan antara iman dan kepribadian dalam hidup ditengah zaman perubahan,” jelas Haedar.

Terakhir, Haedar berpesan agar UAD dan PTM lainnya dapat menjadi pilar strategis Muhammadiyah dalam memberikan kontribusi dan ikut memberikan solusi terhadap masalah-masalah bangsa.

“Sehingga kita (Muhammadiyah) dapat hadir menjadi problem solver ditengah-tengah masyarakat, dan menjadikan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin,” pungkas Haedar.

Hadir dalam acara tersebut Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad dan Agus Taufiqurrahman, serta Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UAD Yunahar Ilyas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *