Senin, 21 Oktober 2019
Home/ Berita/ Sepenggal Kisah Heroik Nyai Ahmad Dahlan

Sepenggal Kisah Heroik Nyai Ahmad Dahlan

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Ketika Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah) berkuda sendiri menempuh jarak 120,4 km dari Yogyakarta menuju Batur, Banjarnegara melewati Gunung Dieng untuk menyebarkan ajaran agama Islam kepada warga Muhammadiyah dan masyarakat umum di sana.

Dalam catatanYunus Anis, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 1959-1962, Nyai Ahmad Dahlan berkuda menuju Batur terjadi pada tahun 1927 untuk menghadiri undangan bertabligh disana. Kejadian tersebut menjadi contoh keberhasilan Muhammadiyah dalam mengentaskan persoalan gender dalam agama Islam dan budaya Indonesia (Jawa).

Kisah heroik lain yang ditorehkan Nyai Dahlan adalah ketika menemani sang suami, KH Ahmad Dahlan datang memenuhi undangan ke Banyuwangi. Sebelum berangkat ke Banyuwangi, Kiai Dahlan sempat diancam akan dihadang dan dibunuh. Jika Ahmad Dahlan tetap meneruskan niatnya untuk berangkat ke Banyuwangi, ia akan kembali dipulangkan jasadnya tanpa nyawa. Sehingga istri yang menemaninya akan dijadikan budak oleh pihak yang mengancamnya.

Namun ancaman tersebut tidak berhasil ‘menciutkan’ nyali KH Dahlan dan Nyai Dahlan, keduanya tetap meneruskan perjalanan untuk berdakwah di Banyuwangi. Nyai Dahlan turut serta dalam perjalanan tersebut selain untuk mendampingi dan menyiapkan keperluan Kiai, juga sebagai motivator yang membesarkan hati Kiai dalam menghadapi setiap rintangan dan ujian yang dilaluinya.

Nyai Ahmad Dahlan banyak memegang peran penting, terlebih sepeninggal sang suami. Catatan menarik lainnya adalah ketika Nyai Dahlan berorasi di depan hadirin dalam Kongres (Muktamar) Muhammadiyah ke 15 di Surabaya tahun 1926, tiga tahun pasca meninggalnya KH Ahmad Dahlan.

“Betapa mentertjengang-tjengankan orang banjak jang menghadiri Kongres (Mu’tamar) Muhammadijah ke 15 di Surabaja, kota kebangsaan Indonesia pada tahun 1926 dengan nampaknja seorang wanita jang sudah setengah tua, dapat memimpin Kongres itu” (Dikutip dari catatan Yunus Anis tahun 1968).

Pidato tersebut mendapat banyak apresiasi, surat kabar Pewarta Surabaja dan Surat kabar Sin Tit Po, Harian T.H (Cina) pada waktu itu memuat pidato Nyai Dahlan. Mereka menuliskan, ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan yang luar biasa, mereka juga menuliskan agar organisasi perempuan lain untuk mencontoh ‘Aisyiyah yang berhasil meroketkan tokoh sebesar Nyai Dahlan.

Terlebih waktu itu Nyai Ahmad Dahlan sudah terlihat renta karena memang sudah berumur, dan sebagai seorang perempuan yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal. Pidato yang disampaikan oleh Nyai Ahmad Dahlan berhasil membius dan memukau banyak pihak.

Aktivitas Nyai Ahmad Dahlan lebih padat setelah ‘Aisyiyah yang sebelumnya sebagai bidang di Muhammadiyah, kemudian pada 1927 telah menjadi Majelis (Hoofbestuur ‘Aisyiyah). Beliau sering diundang menghadiri acara-acara di luar Yogyakarta. Diantaranya adalah di Boyolali, Solo, Kutoharjo, Kudus, Semarang, Pekalongan, Pekajangan, Surabaya, Pasuruan, Malang, Kepanjen, Ponorogo, Madiun dan lain-lain.

Nyai Ahmad Dahlan juga sebagai tempat tujuan para pejuang kemerdekaan sebelum turun aksi, seperti Jendral Besar Sudirman, Presiden Soekarno, dan Bung Tomo tercatat pernah ‘Sowan’ ke kediaman Nyai Walidah. Mereka datang untuk meminta nasehat dan meminta do’a restu atas perjuangan yang mereka lakukan.

Dalam buku terbitan Kementrian Peneragan yang berjudul Lukisan Revolusi Rakjat Indonesia 1945-1949, nama Nyai Ahmad Dahlan disejajarkan dengan H Agus Salim, R Dewi Sartika, MH Tamrin, KH Mas Mansur dan tokoh-tokoh pelopor pergerakan Indonesia lainnya.

Nyai Ahmad Dahlan pada 31 Mei 1946 jam 13.00 wib di kediamannya, Kauman, Yogyakarta, menghembuskan nafas terakhirnya. Hal tersebut menjadi kabar haru bukan hanya kepada keluarga besar Muhammadiyah, tetapi juga bagi rakyat Indonesia. Beliau dimakamkan pada sore hari pukul 17.00 di Pemakaman Kauman belakang Masjid Gedhe Kauman, setelah disholatkan di Masjid Gedhe Kauman. (a’n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *