Kamis, 17 Oktober 2019
Home/ Berita/ Pengajian Inklusi Muhammadiyah sebagai Penguatan Ruhani Kelompok Rentan

Pengajian Inklusi Muhammadiyah sebagai Penguatan Ruhani Kelompok Rentan

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah kembali menggelar “Pengajian Inklusi” pada Ahad (15/9) di Gedoeng Moehammadijah, Jl. Ahmad Dahlan, No. 103, Yogyakarta.

Menurut Qomarrudin, anggota MPM PP Muhammadiyah mengatakan bahwa, pengajian ini diperuntukkan untuk penguatan ruhani kelompok rentan, terlebih kelompok difabel.

“Kita terus mendorong upaya pelayanan sosial Muhammadiyah untuk bisa dirasakan oleh setiap orang, tidak terkecuali. MPM sebagai majelis yang mengurusi kelompok tertindas/mustadh’afin, sudah menjadi keharusan untuk memberdayakan mereka (red; difabel). Salah satunya adalah melalui penguatan ruhani atau jiwa mereka,” tutur Qomar.

Pemberdayaan yang telah dilakukan oleh MPM terhadap kelompok rentan difabel bukan hanya terkait penguatan ruhani, karena MPM juga melakukan pemberdayaan sektor penyejahteraan bidang ekonomi, termasuk juga melakukan advokasi di bidang kebijakan.

“Kerja pemberdayaan yang dilakukan oleh MPM tidak dilakukan sendiri, tapi dilakukan secara kolektif. Program-program yang telah dijalankan, merupakan hasil kolaborasi baik antar sesama Lembaga atau Majelis di internal Muhammadiyah, juga dari luar Muhammadiyah,” tambahnya.

Dadi Nurhaedi sebagai pemateri dan utusan dari Majelis Tabligh Muhammadiyah menyampaikan pentingnya syukur dan pesan untuk semangat belajar. Karena menurut Dosen UIN Sunan Kalijaga ini, manusia diciptakan oleh Allah SWT memang secara fitrah berbeda-beda. Sehingga perbedaan itu tidak perlu disesali, namun harus tetap disyukuri karena akan ada hikmah dibalik semua takdir Allah.

Maka, kata Dadi, semangat belajar merupakan bagian dari ungkapan syukur tersebut. Belajar tidak hanya dilakukan melalui bangku-bangku formal seperti sekolahan atau universitas. Tapi disetiap tempat dan setiap waktu belajar bisa dilakukan. Karena selain sebagai ungkapan syukur, belajar merupakan kewajiban bagi muslim.

Mengenai keterbatasan kelompok difabel dalam menjalankan syari’at atau ibadah fisik, Dadi Nurhaedi menjelaskan, agama Islam itu agama yang indah dan mudah. Jadi tidak perlu dipersulit, tapi juga tidak bisa ‘dientengkan’. Karena Allah menilai perbuatan hamba tersebut sesuai dengan niatannya.

Selain pengajian, disela acara ini juga dilakukan diskusi terkait kesulitan-kesulitan dan saling bertukar informasi sesama anggota pengajian. Sehingga, masalah berat yang mereka hadapi bisa diselesaikan secara kolektif. (a'n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *