Minggu, 15 September 2019
Home/ Berita/ Kader Muhammadiyah Mendunia

Kader Muhammadiyah Mendunia

1 Juli 2019, Youth Break Boundaries, mengumumkan informasi tak terduga. Sebuah yayasan yang fokus pada pengembangan dan pemberdayaan pemuda untuk mempersiapkan pemimpin masa depan menampilkan 10 nama sebagai delegasi yang lolos dalam International Youth Leadership and Entrepreneurship Summit (ILYES 2019).

Di antara nama-nama yang lolos, ada nama Nur Fitri Fatimah. Biasa dipanggil Pipit. Perempuan berusia 25 tahun itu berasal dari Karanganyar, Jawa Tengah. Pipit lolos diajang bergengsi ini hasil dari ikhtiarnya yang panjang.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Pipit terbilang sosok yang gesit. Selalu berprestasi menjadi juara kelas di SDN 02 Giriwondo. Di tingkat sekolah menengah pertama, dia aktif diberbagai kegiatan, mulai dari OSIS dan Pramuka. Prestasinya cemerlang, peringkat 1 dipertahankannya sebagai siswa bertalenta dan cerdas. Di SMPN 1 Jumapolo, Pipit tergolong luwes dalam bergaul. 

Beranjak ke sekolah menegah atas, SMAN 1 Karanganyar adalah pilihannya, karena di bumi Intanpari, sekolah ini masuk kategori favorit. Selain menjadi pengurus inti Pramuka, Pipit tercatat sebagai delegasi Olimpiade Sains Nasional bidang Kimia mewakili SMA di tingkat se-Jawa Tengah dan DIY.

Saat itu, jarak rumah ke SMAN 1 Karanganyar sekitar 22 kilometer, setiap hari dilaluinya dengan gembira meski berasal dari desa yang terpencil di kabupaten itu.  Anak ketiga dari 4 bersaudara pasangan Loso dan Kiftiyah ini tak pernah patah arang.

Pada 2012, setamat dari SMA, keinginan Pipit untuk berkuliah membuncah. Dia sadar dirinya berasal dari keluarga yang pas-pasan. Skenario Tuhan memberikan jalan berbeda, Pipit mendapatkan beasiswa kuliah S1 di Universitas Sebelas Maret. Setiap bulannya mendapatkan uang pembinaan dari pemerintah.

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Kata Pipit, dia tidak ingin menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. “Menjadi mahasiswa luar biasa adalah pilihan,” katanya. Membahagiakan keluarga dan banyak orang adalah pilihannya. Salah satu caranya, sambung Pipit, harus mengembangkan dan mengenal potensi yang ada dalam dirinya.

Medan kampus tentu berbeda dengan SMA, Pipit memberanikan diri ikut organisasi yang ada di kampus dan di luar kampus. Meski masih semester awal, dirinya aktif di Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia, Kovalen. Di kampus itu pula, Pipit mengikuti kegiatan ekstra kampus di Forum Mahasiswa Islam Karanganyar (Formaiska), Kajian Seluruh Pemuda-Pemudi Karanganyar Bersinergi (Inspirasi), hingga berlabuh di RRC, atau dikenal dengan Rumah Resolusi Cerdas.

Berbagai keterampilan diikuti, mulai dari menulis, kajian ilmiah, hingga pengabdian masyarakat. Semester tiga adalah masa di mana identitas itu begitu membayangi perjalanan hidupnya sebagai mahasiswa. Yang pada akhirnya, Pipit memutuskan untuk bergabung di organisasi baru tingkat fakultas dengan aktif di Lingkar Studi Pendidikan.

Membuka Jendela Dunia

Menyandang status sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kimia di Kota Batik, merupakan sesuatu yang istimewa. Kondisilah yang memantik Pipit untuk bergiat di berbagai kegiatan, dan tak satupun melunturkan kecemerlangan akademisnya. Dunia sangat luas, karena itu bagi Pipit, membuka jendela dunia penting lewat berbagai cara.

Hal-hal kecil dilaluinya, bahkan sejal semester 3 sampai semester 7, Pipit terpilih sebagai Asisten Mahasiswa untuk mata kuliah Kimia Dasar, Kimia Fisika, dan Kromatografi - Elektrometri. Seminar demi seminar dia ikuti. Menjadi pembicara seminar motivasi hingga berperan sebagai moderator dan pembawa acara di berbagai acara kampus maupun ekstra kampus. 

Berbekal pengalamannya dalam berorganisasi inilah jalan menjadi mahasiswa berprestasi diraihnya. Pipit mengatakan, pernah lolos proposal kreativitas mahasiswa yang didanai Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi sebanyak dua kali. Pipit termasuk dari salah satu utusan dalam delegasi temu nasional bidikmisi.

Selain prestasi itu, beberapa lomba kepenulisan esai dan karya tulis di tingkat fakultas, universitas, provinsi, nasional diikutinya yang berlangsung di berbagai kota di Indonesia. Pipit mendapatkan banyak relasi dari seluruh Indonesia dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Kuliah Pipit berlangsung tertib. Dia lulus tepat waktu pada tahun 2016.

Pipit mengisahkan kembali, jika keluarganya berasal dari latar belakang ekonomi yang lemah. Ayahnya buruh tani. Menggarap sawah milik orang lain yang upahnya tidak seberapa. “Sejak sekolah dasar ayah membantu sawah tetangga,” terangnya.

Rasanya tidak mungkin jika dirinya bisa menempuh pendidikan dijenjang kuliah. Dirinya bersyukur bisa menamatkan kuliah. Pipit selalu mencari beasiswa agar kuliah tetap berlanjut. Ayah selalu mendampingi di rumah ketika anak-anaknya sedang belajar. Tidak terbesit sedikitpun ayah meninggalkan keluarga merantau ke kota besar mencari nafkah. Perhatian ayah pada pendidikan anak-anaknya begitu kuat, kenang Pipit.   

Pipit tidak menyerah begitu saja, dia ingin melanjutkan kuliah strata dua. Doanya terkabul. Saat ini Pipit tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana Pendidikan Sains di UNS. Di tengah keterbatasan itu Pipit berusaha memaksimalkan potensinya. Justeru keterbatasannya menjadi cambuk motivasi untuk merubah keadaan menjadi lebih baik lagi.

Ajang Internasional

Impian besar Pipit membuka jendela dunia masih ada dalam benaknya. Bahkan dia ingin berdiri dan menatap dunia persis di jendela itu. Pipit membulatkan tekadnya untuk melihat dunia yang ada di luar dirinya lebih dekat. Bersamaan dengan impian itu, Pipit mendapatkan informasi tentang kompetisi kepempinan muda dari Youth Break Boundaries (YBB) melalui laman resminya.

Kompetisi internasional yang memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk menuangkan gagasannya untuk membangun bangsa. Lalu Pipit mendaftarkan diri dengan mengirimkan aplikasi online. Pipit meyakini bahwa hanya ada satu orang yang bisa menghalangimu untuk menjadi versi terbaik dirimu. Orang itu adalah kamu.

“Hanya kamu yang bisa mempengaruhi kebahagiaan dan kesuksesanmu. Hidupmu tidak berubah ketika kamu tidak berubah, maka berubahlah,” demikian Pipit menulis dalam akun instagram pribadinya seraya memohon doa agar lolos dalam ajang itu nanti.

Jika dirinya lolos, Pipit berhak mendapatkan tiket dalam event international di Malaysia, yang berlangsung pada 15-19 Agustus 2019 dengan tajuk International Youth Leadership And Entrepreneurship Summit di Asia Pasific University. Selanjutnya di event Asia Youth International Model United Nations, 25-28 Agustus 2019 di Putrajaya International Convention Center.

Masa penantian Pipit menunggu hasilnya dilalui dengan kegiatan sehari-hari di Sekolah Dasar Muhammadiyah Baitul Fallah. Kebetulan di sekolah itu Pipit seorang kepala sekolah. Kepala sekolah termuda begitu orang menyebutnya. Pantas atas prestasinya itu dia terpilih sebagai pemuda pelopor pendidikan Jawa Tengah 2018.

Suatu hari Pipit membuka email, betapa terkejutnya, YBB mengumumkan dengan mengirim email jika dirinya terpilih (letter of acceptance) menjadi delegasi dalam ajang itu. Beberapa kali proses dilaluinya untuk mengikuti wawancara, lalu diumumkan di laman resmi YBB. Pipit akhirnya terpilih dalam kompetisi, selain itu juga mendapat Beasiswa Program Saudara Satu Negara Asia Tenggara (Singapura, Malaysia, Thailand). 

Di tengah kabar gembira itu, Pipit juga didukung penuh oleh Lazismu Karanganyar. Ketua Lazismu Karanganyar bahkan mensponsori Pipit selama kompetisi itu berlangsung mulai dari berangkat dan pulangnya. Selama berada di Malaysia, Pipit bertemu Alaa Bakkar, CEO Give and Go dan Vincent Cheng, CEO of EN IDEA.

Tidak berhenti sampai di situ, Pipit juga menerima hasil seleksi melalui program Youth Cultural and Educational Exchange (YCEE) 2019 di Istanbul, Turki. Program yang diprakarsai juga oleh Youth Break the Boundaries (YBB) dengan tujuan, menyiapkan generasi pemimpin muda berkualitas, berwawasan global dan berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional. Pengumuman itu diterima Pipit pada 3 Februari 2019.

Hati Pipit kembali berdebar-debar, mungkin atau tidak, katanya. Ternyata dirinya berhasil, esainya terpilih menjadi yang terbaik dan menjadi satu-satunya delegasi untuk menjadi pembicara di event internasional. Dalam forum itu, Pipit berbagi cerita akan perannya selama di Indonesia dalam dunia pendidikan, isu-isu kemiskinan dan perdamaian yang digelutinya sebagai bagian dari peran pemuda dalam kepemimpinan.

Peran sosial Pipit selama ini yang inspiratif diakui sebagai langkah inovatif. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Karanganyar melalui Lazismu, menilai, apa yang dilakukan Pipit termasuk bentuk kepedulian dalam dunia pendidikan. Sebagai kader muda berprestasi yang mengembangkan potensi diri, kata M. Samsuri selaku Ketua PDM, Pipit memberikan dampak sosial (social impact) yang bermanfaat bagi orang lain bangsa dan kader Persyarikatan Muhamamdiyah.

Hal itu terbukti dengan perannya yang mendapat kepercayaan di persyarikatan sebagai Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Baitul Falah Mojogedang Kabupten Karanganyar, dalam usia yang sangat muda. Meski latar belakang organisasi sejak sekolah tidak secara formal dekat dengan Muhammadiyah, pilihannya setelah setamat kuliah, gadis asal Giriwondo, Jumapolo ini meluangkan waktunya mengabdikan dirinya mengembangkan pendidikan di amal usaha Muhammadiyah Karanganyar.

Pipit juga menjadi salah satu filantropis muda Lazismu pada Kantor Layanan Lazismu Al-Falah sebagai direktur media. Kreatifitas dan keberaniannya untuk maju dan berkembang mendorong pimpinan Muhammadiyah Karanganyar melalui Lazismu untuk mendorongnya melangkah lebih maju.

Lazismu peduli kepada kader-kader yang berprestasi untuk maju berkembang. Menurut Samsuri, dengan memperhatikan latar belakang prestasinya dan kondisi keluarganya sudah selayaknya ada kepedulian dari persyarikatan. Harapannya, lanjut Samsuri, pengalaman dan ilmu yang diperolehnya dapat bermanfaat ketika dkembali ke persyarikatan melalui SD Muhammadiyah Baitul Falah” kata Doktor Ilmu Hukum ini.

Senada dengan apresiasi itu, Direktur Utama Lazismu PDM Karanganyar, Ahmad Zaki Musthofa, Sosok Pipit adalah contoh relevan generasi milenial yang memiliki talenta. “Pemberian dukungan berupa bantuan kepada Pipit tentunya masih dalam ranah spirit filantropi. Pipit sudah mengambil jalan sosial-dakwah di persyarikatan dengan mengabdi di SD Muhammadiyah Baitul Falah Mojogedang,” pungkasnya.

Yang membuat Lazismu bahagia, Pipit adalah filantropis muda yang menggerakkan Kantor Layanan Lazismu Al-Falah yang mengembangkan gerakan dakwah berbasis filantropi melalui event internasional. “Lazismu sangat mengapresiasi soosok muda dengan talenta inovatif yang menginspirasi kader-kader Muhammadiyah lain untuk berkembang dalam dakwahnya,” ujar Zaki.

Sumber: (na)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *